<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sholat witir - Belajar Cara Sholat Lengkap</title>
	<atom:link href="https://belajarsholat.com/tag/sholat-witir/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://belajarsholat.com</link>
	<description>Tuntunan Belajar Bacaan Shalat dan Gerakannya dari Jadwal Sholat Wajib Lima Waktu, Sholat Sunnah, Sholat Subuh, Shalat Tahajud, Sholat Dhuha</description>
	<lastBuildDate>Sun, 13 Oct 2024 20:43:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://belajarsholat.com/wp-content/uploads/2022/01/icon-75x75.png</url>
	<title>sholat witir - Belajar Cara Sholat Lengkap</title>
	<link>https://belajarsholat.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sebab Ke Empat</title>
		<link>https://belajarsholat.com/3870-sebab-ke-empat.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Academy Sholat]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Oct 2024 20:19:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[rukun sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[sholat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[sholat witir]]></category>
		<category><![CDATA[sujud sahwi]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah ab'ad]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah hai'ah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=3870</guid>

					<description><![CDATA[<p>4. Menjatuhkan rukun fi’li disertai keraguan. Maksudnya, sebab sujud sahwi keempat adalah menjatuhkan rukun fi’li disertai ragu menambahi, misalnya; musholli mengalami keraguan saat ia berada di rakaat ketiga dalam sholat rubaiah (Dzuhur, Ashar, Isyak), Apakah ia telah melakukan 3 rakaat sedangkan ia hendak menambahi satu rakaat sebagai rakaat keempat atau apakah ia telah melakukan 4 [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/3870-sebab-ke-empat.html">Sebab Ke Empat</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h3>4. Menjatuhkan rukun fi’li disertai keraguan.</h3>
<p>Maksudnya, sebab sujud sahwi keempat adalah menjatuhkan rukun fi’li disertai ragu menambahi, misalnya; musholli mengalami keraguan saat ia berada di rakaat ketiga dalam sholat rubaiah (Dzuhur, Ashar, Isyak),</p>
<p>Apakah ia telah melakukan 3 rakaat sedangkan ia hendak menambahi satu rakaat sebagai rakaat keempat atau apakah ia telah melakukan 4 rakaat sedangkan ia hendak menambahi satu rakaat sebagai rakaat kelima, kemudian ia meyakinkan dirinya, ia berdiri dan melakukan satu rakaat, setelah ia berdiri tegak, di tengah-tengah satu rakaat itu dan sebelum salam, ia baru ingat kalau rakaat yang sedang dilakukannya itu adalah rakaat keempat,</p>
<p>maka ia disunahkan melakukan sujud sahwi karena rukun- rukun yang telah ia lakukan dalam satu rakaat tersebut sebelum ia ingat mengandung kemungkinan kalau rukun-rukun tersebut termasuk dari rakaat kelima atau dari rakaat keempat. Berbeda apabila sebelum berdiri tegak untuk menambahi satu rakaat, musholli ingat kalau rakaat yang ia ragukan itu adalah rakaat keempat maka ia tidak bersujud sahwi karena rukun-rukun dari rakaat yang diragukan itu tidak mengandung unsur menambahi sebab rukun-rukun tersebut sudah pasti termasuk dari rakaat, baik saat itu ia sedang dalam rakaat ketiga atau keempat.</p>
<p>Yuk subscribe <a title="Akun Youtube Belajar Sholat" href="https://www.youtube.com/belajarsholatofficial">Akun Youtube Belajar Sholat</a></p>
<p>Dan baca juga yuk artikel tentang <a title="Pembatal-Pembatal Sholat" href="https://belajarsholat.com/3622-pembatal-pembatal-sholat.html">Pembatal-Pembatal Sholat</a></p>The post <a href="https://belajarsholat.com/3870-sebab-ke-empat.html">Sebab Ke Empat</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Keharaman Melaksanakan Sholat</title>
		<link>https://belajarsholat.com/3830-keharaman-melaksanakan-sholat.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Academy Sholat]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Oct 2024 23:50:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan sholat]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan surah]]></category>
		<category><![CDATA[cara sholat]]></category>
		<category><![CDATA[rukuk]]></category>
		<category><![CDATA[rukun sholat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[sholat witir]]></category>
		<category><![CDATA[tasyahud awal]]></category>
		<category><![CDATA[waktu sholat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=3830</guid>

					<description><![CDATA[<p>Keharaman Melaksanakan Sholat Fasal ini menjelaskan tentang sholat yang diharamkan dari segi waktunya dan melakukannya. Baca juga artikel tentang Aurat Perempuan Amat Diharamkan melakukan sholat yang tidak memiliki sebab yang mendahuluinya atau menyertainya di selain tanah Haram Mekah pada saat 5 (lima) waktu, seperti yang akan disebutkan nanti. Sholat yang dilakukan pada 5 waktu ini dihukumi [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/3830-keharaman-melaksanakan-sholat.html">Keharaman Melaksanakan Sholat</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2>Keharaman Melaksanakan Sholat</h2>
<p>Fasal ini menjelaskan tentang sholat yang diharamkan dari segi waktunya dan melakukannya. Baca juga artikel tentang <a title="Aurat Perempuan Amat" href="https://belajarsholat.com/3683-aurat-perempuan-amat.html">Aurat Perempuan Amat</a></p>
<p>Diharamkan melakukan sholat yang tidak memiliki sebab yang mendahuluinya atau menyertainya di selain tanah Haram Mekah pada saat 5 (lima) waktu, seperti yang akan disebutkan nanti. Sholat yang dilakukan pada 5 waktu ini dihukumi tidak sah dan musholli yang melakukannya tidak dihukumi kufur.</p>
<p>Sholat-sholat yang diharamkan dilakukan di 5 (lima) waktu ini adalah</p>
<h3>sholat-sholat yang tidak memiliki sebab,</h3>
<p>sekiranya sholat- sholat tersebut memang tidak memiliki sebab sama sekali, seperti sholat sunah mutlak, atau memiliki sebab yang belakangan (bukan mendahului dan menyertai sholat), seperti sholat Ihram, sholat Istikhoroh, yaitu sholat mencari kebaikan perkara dunia dan akhirat, sholat ketika hendak bepergian, sholat ketika keluar dari rumah dan ketika berperang, dan sholat taubat.</p>
<h4>Berbeda dengan sholat yang memiliki sebab yang mendahului,</h4>
<p>maka tidak diharamkan melakukannya di 5 (lima) waktu ini nanti, seperti sholat faitah (sholat hutang) karena sebabnya telah terjadi di waktu lampau, baik sholat faitah tersebut sunah atau wajib, karena Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama melakukan sholat 4 (empat) rakaat setelah sholat Ashar dan berkata, “Dua sholatan (4 rakaat) ini adalah dua sholat sunah setelah sholat Dzuhur.” Sama seperti sholat faitah adalah sholat mandzuroh (yang dinadzarkan), sholat mu’adah, sholat jenazah, sholat sujud tilawah, dan sholat sujud syukur.</p>
<p>Berbeda juga dengan sholat yang memiliki sebab yang menyertainya maka tidak diharamkan dilakukan di 5 (lima) waktu ini nanti, seperti sholat istisqo, sholat gerhana, karena sebab keduanya, yaitu kekurangan air dan perubahan bulan dan matahari, selalu terjadi bersamaan dengan sholat. Oleh karena itu wajib melakukan takbiratul ihram di saat gerhana masih berlangsung. Apabila gerhana telah hilang maka tidak sah takbiratul ihramnya. Pengertian muqoronah atau sebab yang menyertai adalah jatuhnya takbiratul ihram di saat sebab atau faktor yang menganjurkan sholat masih terjadi, meskipun di tengah-tengah sebab tersebut.</p>
<p>Apabila yang dimaksud dengan muqoronah adalah terjadinya takbiratul ihram dan sebab sholat dalam satu titik waktu yang sama dari segi permulaan maka sudah barang tentu sholat gerhana termasuk sholat yang sebabnya mendahului, karena tidak boleh bertakbiratul ihram sholat kecuali setelah permulaan sebab. Oleh karena alasan ini, ada sebagian ulama yang memasukkan sholat gerhana sebagai salah satu contoh dari sholat yang sebabnya mendahului, bukan menyertai.</p>
<p>Yuk subscribe <a title="Akun Youtube Belajar Sholat" href="https://www.youtube.com/belajarsholatofficial">Akun Youtube Belajar Sholat</a></p>The post <a href="https://belajarsholat.com/3830-keharaman-melaksanakan-sholat.html">Keharaman Melaksanakan Sholat</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kewajiban Ketika Sujud</title>
		<link>https://belajarsholat.com/3790-kewajiban-ketika-sujud.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Academy Sholat]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Sep 2024 08:17:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[cara sholat]]></category>
		<category><![CDATA[rukun sholat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat wajib]]></category>
		<category><![CDATA[sholat witir]]></category>
		<category><![CDATA[sujud]]></category>
		<category><![CDATA[tasyahud awal]]></category>
		<category><![CDATA[waktu sholat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=3790</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kewajiban-kewajiban sujud part ini merupakan Lanjutan dari artikel sebelumnya membahas kewajiban sujud Terangkatnya pantat dan sekitarnya melebihi kepala dan kedua pundak Orang yang sholat. Syarat di atas mengecualikan kasus apabila Orang yang sholat sholat di atas perahu dan ia tidak memungkinkan untuk mengangkat pantat melebihi kepala dan kedua pundaknya karena terombang-ambingnya perahu tersebut maka ia [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/3790-kewajiban-ketika-sujud.html">Kewajiban Ketika Sujud</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2>Kewajiban-kewajiban sujud part ini merupakan Lanjutan dari artikel sebelumnya membahas <a title="Kewajiban Dalam Sujud" href="https://belajarsholat.com/3789-kewajiban-dalam-sujud.html">kewajiban sujud</a></h2>
<ol start="6">
<li>
<h3>Terangkatnya pantat dan sekitarnya melebihi kepala dan kedua pundak <em>Orang yang sholat</em>.</h3>
</li>
</ol>
<p>Syarat di atas mengecualikan kasus apabila <em>Orang yang sholat </em>sholat di atas perahu dan ia tidak memungkinkan untuk mengangkat pantat melebihi kepala dan kedua pundaknya karena terombang-ambingnya perahu tersebut maka ia sholat sebisa mungkin. Akan tetapi, ia wajib mengulangi sholatnya karena demikian itu termasuk <em>udzur nadir </em>atau langka. Berbeda dengan kasus apabila <em>Orang yang sholat </em>mengidap penyakit yang tidak memungkinkan baginya bersujud maka ia tidak wajib mengulangi sholatnya.</p>
<p>Begitu juga dengan ibu hamil ketika ia sulit bersujud dengan mengangkat pantat dan sekitarnya melebihi kepala dan kedua pundaknya maka ia sholat sebisa mungkin dan tidak wajib mengulangi sholatnya. Selain itu, apabila <em>Orang yang sholat </em>memiliki hidung mancung yang panjang dan hidungnya menghalang-halanginya untuk meletakkan dahi di atas tempat sujud maka ia bersujud sebisa mungkin dan tidak wajib mengulangi sholatnya.</p>
<ol start="7">
<li>
<h3><em>Tumakninah </em>di dalam sujud.</h3>
</li>
</ol>
<p>Disyaratkan juga meletakkan 7 (anggota sujud) di atas tempat sholat dalam satu waktu. Apabila <em>Orang yang sholat </em>meletakkan dahi, kemudian ia mengangkat dahinya, kemudian baru meletakkan tangannya, maka sujudnya belum mencukupi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>Anggota-anggota sujud ada 7 (tujuh)), yaitu;</h2>
<h3><strong>Pertama; </strong>Dahi.</h3>
<p>Batas dahi dari segi panjang adalah bagian antara dua pelipis dan dari segi lebar adalah bagian antara tempat tumbuh rambut kepala dan kedua alis. Mengecualikan dengan <em>dahi </em>adalah <em>jabin</em>, yaitu bagian samping dahi dari dua arah, maka tidak cukup kalau hanya meletakkan <em>jabin </em>saja, tetapi disunahkan meletakkannya.</p>
<p><strong>Kedua dan ketiga</strong>; Bagian dalam kedua telapak tangan.</p>
<p>Maksud telapak tangan disini adalah bagian yang dapat membatalkan wudhu saat disentuhkan pada farji. Oleh karena itu, dalam sujud, dicukupkan hanya dengan meletakkan sebagian jari-jari saja dan sebagian telapak tangan saja di atas lantai, bukan selain keduanya.</p>
<h3><strong>Keempat dan kelima</strong>: Dua lutut.</h3>
<p>Lutut dalam Bahasa Arab adalah الركبة</p>
<h3><strong>Keenam dan ketujuh</strong>; adalah bagian dalam jari-jari kedua kaki.</h3>
<p>Dari tujuh anggota sujud ini, masing-masing darinya dianggap cukup meskipun hanya meletakkan sebagian saja walaupun satu jari, misalnya; satu jari dari tangan, atau satu jari dari kaki. Akan tetapi meletakkan hanya sebagian dari masing-masing 7 anggota ini hukumnya makruh.</p>
<p>Apabila telapak tangan atau jari-jari terpotong maka tidak wajib meletakkan sisanya, melainkan sunah. Apabila <em>Orang yang sholat </em>diciptakan tanpa memiliki telapak tangan atau jari-jari maka ia wajib meletakkan bagian perkiraannya.Ketika sujud, disunahkan bagi laki-laki dan perempuan membuka kedua telapak tangan. Sedangkan hanya bagi laki-laki dan perempuan <em>amat </em>disunahkan membuka bagian dalam jari-jari kedua kaki. Adapun bagi selain mereka berdua wajib menutup bagian dalam jari-jari kedua kaki. Dimakruhkan bagi laki-laki dan perempuan <em>amat </em>membuka kedua lutut saat sujud.</p>
<p>Ketika sujud, <em>Orang yang sholat </em>disunahkan meletakkan anggota- anggota sujud secara tertib, artinya ia meletakkan kedua lutut terlebih dahulu, kemudian kedua telapak tangan, kemudian dahi dan hidung secara bersamaan. Meletakkan hidung secara bersamaan dengan dahi adalah sunah <em>mutaakkidah </em>atau sangat disunahkan. Tidak cukup kalau hanya meletakkan hidung saja karena yang menjadi syarat adalah meletakkan dahi. Disunahkan hidung yang diletakkan adalah dengan kondisi terbuka. Apabila <em>Orang yang sholat </em>bersujud dengan tidak tertib seperti yang telah disebutkan, atau ia hanya meletakkan dahi saja tanpa disertai hidung, maka hukumnya makruh karena mempertahankan pendapat tentang kewajiban meletakkan hidung. Dalam masalah tertib dalam sujud, Imam Malik berpendapat lain. Ia memaksudkan tertib dengan meletakkan kedua telapak tangan terlebih dahulu, kemudian baru kedua lutut.</p>
<p>Yuk Subscribe <a title="Akun Youtube Belajar Sholat" href="https://www.youtube.com/belajarsholatofficial">Akun Youtube Belajar Sholat</a></p>
<p>&nbsp;</p>The post <a href="https://belajarsholat.com/3790-kewajiban-ketika-sujud.html">Kewajiban Ketika Sujud</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kewajiban Dalam Sujud</title>
		<link>https://belajarsholat.com/3789-kewajiban-dalam-sujud.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Academy Sholat]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Sep 2024 19:24:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[belajar sholat]]></category>
		<category><![CDATA[cara sholat]]></category>
		<category><![CDATA[haram sujud]]></category>
		<category><![CDATA[pembatal wudhu]]></category>
		<category><![CDATA[rukun sholat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[sholat sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[sholat wajib]]></category>
		<category><![CDATA[sholat witir]]></category>
		<category><![CDATA[sujud]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah sujud]]></category>
		<category><![CDATA[tasyahud awal]]></category>
		<category><![CDATA[wajib sujud]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=3789</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kewajiban-kewajiban Dalam Sujud Fasal ini menjelaskan tentang hal-hal yang wajib dalam Sujud. Sujud menurut bahasa memiliki arti condong. Syarat-syarat sujud ada 7 (tujuh), bahkan lebih banyak, yaitu; Bersujud dengan bertumpu pada 7 anggota tubuh. Syarat sujud pertama adalah bahwa sujud dilakukan dengan bertumpu pada 7 (tujuh) anggota tubuh, artinya 7 anggota ini harus menempel di [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/3789-kewajiban-dalam-sujud.html">Kewajiban Dalam Sujud</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Kewajiban-kewajiban Dalam Sujud </strong></h2>
<p>Fasal ini menjelaskan tentang hal-hal yang wajib dalam Sujud. Sujud menurut bahasa memiliki arti <em>condong. </em>Syarat-syarat sujud ada 7 (tujuh), bahkan lebih banyak, yaitu;</p>
<ol>
<li>
<h3>Bersujud dengan bertumpu pada 7 anggota tubuh.</h3>
</li>
</ol>
<p>Syarat sujud pertama adalah bahwa sujud dilakukan dengan bertumpu pada 7 (tujuh) anggota tubuh, artinya 7 anggota ini harus menempel di atas lantai atau tempat sholat. Dasar syarat ini adalah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa sallama </em>bersabda, “Saya diperintahkan untuk bersujud dengan bertumpu pada 7 anggota tubuh, yaitu [1] dahi, [2 dan 3] kedua tangan, [4 dan 5] kedua lutut, [6 dan 7] ujung jari-jari kaki (kiri dan kanan), dan aku tidak mengumpulkan pakaian dan rambut.” Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim</p>
<p>Baca juga artikel tentang <a title="Tumakninah Dalam Sujud" href="https://belajarsholat.com/3735-tumakninah-dalam-sujud.html">Tumakninah Dalam Sujud</a></p>
<ol start="2">
<li>
<h2>Dahi Terbuka</h2>
</li>
</ol>
<p>Syarat sujud berikutnya adalah dahi terbuka kecuali apabila ada <em>udzur</em>, seperti adanya rambut yang tumbuh di atas dahi atau perban yang terbalut karena sakit sekiranya tidak memungkinkan untuk melepasnya. Apabila perban dipasang saat kondisi suci dari hadas dan dibawahnya tidak ada najis yang tidak di<em>ma’fu </em>maka tidak perlu mengulangi sholat. Sebaliknya, jika perban dipasang saat kondisi hadas atau di bawahnya ada najis yang tidak di<em>ma’fu </em>maka wajib mengulangi sholatnya. Lubang yang terbuka pada dahi dimana asalnya tertutup harus ditutupi.</p>
<p>Apabila pada dahi terdapat kulit kering hingga tidak dapat merasa jika disentuh maka sujud bertumpu padanya dihukumi sah dan tidak dituntut untuk menghilangkan kulit mati tersebut meskipun tidak ada kesulitan untuk menghilangkannya.</p>
<ol start="3">
<li>
<h3>Menekan Dahi</h3>
</li>
</ol>
<p>Syarat sujud berikutnya adalah menekan dahi saja dengan kepala, bukan menekan anggota-anggota sujud lain. Pengertian menekan disini adalah sekiranya berat kepala mengenai tempat sujud.</p>
<ol start="4">
<li>
<h3>Tidak Menyengaja Selain Sujud</h3>
</li>
</ol>
<p>Syarat sujud berikutnya adalah bahwa <em>Orang yang sholat </em>turun untuk bersujud dengan menyengaja melakukan sujud. Oleh karena ituapabila <em>Orang yang sholat </em>merasa kaget hingga ia bersujud maka sujudnya tidak sah dan ia harus kembali mengulanginya.</p>
<p>Lafadz ’ dengan <em>dhommah </em>dan <em>fathah </em>pada huruf <em>haa</em> berartii <em>jatuh dari atas ke bawah</em>. Adapun apabila dengan <em>dhommah </em>saja maka berarti naik. Demikian disebutkan dalam kitab <em>al-Misbah </em></p>
<ol start="5">
<li>
<h3>Tidak bersujud di atas benda yang <em>muttasil</em> yang ikut bergerak</h3>
</li>
</ol>
<p>karena gerakan <em>Orang yang sholat </em>saat berdiri. Apabila <em>Orang yang sholat </em>sholat dengan duduk, kemudian ia bersujud di atas benda yang tidak bergerak karena gerakannya saat duduk, akan tetapi benda tersebut akan bergerak andai ia sholat dengan berdiri maka tidak sah sujudnya. Termasuk benda yang <em>muttasil </em>yang bergerak karena gerakan <em>Orang yang sholat </em>adalah bagian tubuhnya sendiri. Oleh karena itu, tidak sah bersujud di atas tangannya.</p>
<p>Adapun benda yang <em>munfasil,</em> seperti kayu atau sapu tangan di tangannya maka sah sujud di atasnya karena benda-benda tersebut tidak dianggap <em>muttasil </em>menurut <em>‘urf</em>. Begitu juga, ujung serban yang panjang sekali dihukumi sebagai benda yang <em>munfasil </em>sekiranya tidak ikut bergerak karena gerakan <em>Orang yang sholat</em>.</p>
<p>Yuk subcribe <a title="Akun Youtube Belajar Sholat" href="https://www.youtube.com/belajarsholatofficial">Akun Youtube Belajar Sholat</a></p>The post <a href="https://belajarsholat.com/3789-kewajiban-dalam-sujud.html">Kewajiban Dalam Sujud</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sunnah Mengangkat Tangan</title>
		<link>https://belajarsholat.com/3786-sunnah-mengangkat-tangan.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Academy Sholat]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Sep 2024 18:57:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[rukun sholat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[sholat sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[sholat witir]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah ab'ad]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah hai'ah]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah-sunnah sholat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=3786</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tempat-tempat yang Disunahkan Mengangkat Kedua Tangan dalam Sholat Fasal ini menjelaskan tentang tempat-tempat yang disunahkan mengangkat kedua tangan dalam sholat. Mengangkat kedua tangan merupakan salah satu sunah- sunah hai-ah sholat. Menurut keterangan yang dikatakan oleh Imam Syafii rahimahullah bahwa hikmah mengangkat kedua tangan adalah mengagungkan Allah ta’ala dari segi bahwa mengangkat kedua tangan menggabungkan 3 [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/3786-sunnah-mengangkat-tangan.html">Sunnah Mengangkat Tangan</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h3><strong>Tempat-tempat yang Disunahkan Mengangkat Kedua Tangan dalam Sholat </strong></h3>
<p>Fasal ini menjelaskan tentang tempat-tempat yang disunahkan mengangkat kedua tangan dalam sholat. Mengangkat kedua tangan merupakan salah satu sunah- sunah <em>hai-ah </em>sholat<em>. </em>Menurut keterangan yang dikatakan oleh Imam Syafii <em>rahimahullah </em>bahwa hikmah mengangkat kedua tangan adalah mengagungkan Allah <em>ta’ala </em>dari segi bahwa mengangkat kedua tangan menggabungkan 3 hal, yaitu keyakinan hati, ucapan lisan, dan perbuatan anggota tubuh. Yuk baca juga artikel tentang : <a title="Posisi Tangan Ketika I’tidal" href="https://belajarsholat.com/1933-posisi-tangan-ketika-itidal.html">Posisi Tangan Ketika I’tidal</a></p>
<p>Ada yang mengatakan <em>qiila </em>bahwa hikmahnya adalah untuk menunjukkan sikap membuang atau melepaskan diri dari selain Allah <em>ta’ala </em>dan menghadapkan diri seutuhnya pada sholat yang sedang ia lakukan. Ada yang mengatakan <em>qiila </em>bahwa hikmahnya adalah untuk menghilangkan tabir penghalang antara hamba dan Tuhan-nya. Ada yang mengatakan <em>qiila </em>bahwa hikmahnya adalah selain dari yang telah disebutkan. Mengangkat kedua tangan disunahkan dalam 4 (empat) tempat, yaitu;</p>
<ol>
<li>
<h3>Ketika Takbiratul Ihram</h3>
</li>
</ol>
<p><em>Musholli </em>mengawali mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan permulaan membaca <em>takbir </em>dan selesai mengangkat mereka bersamaan dengan selesai membaca <em>takbir</em>. Al-Mahalli mengatakan bahwa <em>musholli </em>membaca <em>takbir </em>bersamaan dengan menurunkan kedua tangannya.</p>
<p>Bajuri mengatakan bahwa permulaan mengangkat kedua tangan adalah bersamaan dengan membaca <em>takbir</em>. Sedangkan kebiasaan yang terjadi sekarang, yaitu kebiasaan mengangkat kedua tangan sebelum membaca <em>takbir </em>merupakan hal yang tidak sesuai dengan sunah meskipun banyak dari ahli ilmu yang melakukan kebiasaan ini.</p>
<p>Asal kesunahan mengangkat kedua tangan dapat dilakukan dengan cara bagaimanapun. Yang paling sempurna adalah <em>musholli </em>mengangkat kedua telapak tangan sejajar dengan kedua pundak. Bergerak mengangkat kedua tangan ini tidak membatalkan sholat meskipun ada satu gerakan lain yang ketiga yang berturut-turutan karena gerakan mengangkat kedua tangan merupakan anjuran, seperti yang difaedahkan oleh Syarqowi.</p>
<ol start="2">
<li>
<h3>Ketika Rukuk</h3>
</li>
</ol>
<p>Berikutnya, mengangkat kedua tangan disunahkan dilakukan ketika turun untuk melakukan rukuk. <em>Musholli </em>memulai mengangkat kedua tangan pada saat turun rukuk bersamaan dengan permulaan membaca <em>takbir </em>ketika mengawali turun. Ia tidak perlu melanggengkan mengangkat kedua tangan hingga sampai batas posisi rukuk karena ketika kedua telapak tangannya sejajar dengan kedua pundaknya maka ia akan membungkukkan tubuh dengan kondisi kedua tangan terlepas atau tidak menempel pada kedua lutut. Adapun bacaan <em>takbir, </em>maka ia melanggengkannya hingga ia sampai pada posisi rukuk agar sholatnya tidak kosong dari dzikir. Dengan demikian permulaan <em>takbir </em>dan mengangkat kedua tangan untuk rukuk terjadi secara bersamaan dan berakhir tidak secara bersamaan.</p>
<ol start="3">
<li>
<h3>Ketika <em>I’tidal </em></h3>
</li>
</ol>
<p>Berikutnya, disunahkan mengangkat kedua tangan ketika bangun dari rukuk untuk menuju rukun <em>i’tidal</em>. <em>Musholli </em>memulai mengangkat kedua tangan bersamaan dengan permulaan mengangkat kepalanya. Ketika ia telah tegak berdiri maka ia melepaskan dan menurunkan kedua tangan secara pelan-pelan ke bagian bawah dadanya.</p>
<ol start="4">
<li>
<h3>Ketika Berdiri dari <em>Tasyahud </em></h3>
</li>
</ol>
<p>Berikutnya, disunahkan mengangkat kedua tangan ketika berdiri dari <em>tasyahud </em>pertama karena atas dasar <em>itbak </em>atau mengikuti Rasulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa sallama </em>dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim. Apabila <em>musholli </em>sholat dengan posisi duduk maka ia disunahkan mengangkat kedua tangan ketika <em>takbir </em>setelah <em>tasyahud </em>pertama. Pengibaratan dengan kata <em>berdiri </em>hanya berdasarkan pada umumnya sholat dilakukan, yaitu dengan berdiri.</p>
<p><em>Musholli </em>tidak disunahkan mengangkat kedua tangan di selain 4 (empat) tempat ini, seperti berdiri dari duduk <em>istirahat </em>dan dari sujud. Adapun pendapat Syarqowi, “Berdiri dari duduk <em>istirahat </em>disunahkan mengangkat kedua tangan seperti yang di<em>nash </em>oleh Imam Syafii. Ini adalah menurut pendapat <em>mu’tamad,</em>” maka pendapatnya tersebut adalah <em>dhoif </em>(lemah). Syaikhuna Muhammad Hasbullah juga menjelaskan perkataan Syarqowi tersebut, kemudian ia berkata, “Pendapat <em>mu’tamad </em>adalah tidak disunahkan mengangkat kedua tangan saat berdiri dari duduk <em>istirahat</em>.” Apabila <em>musholli </em>tidak mengangkat kedua tangan di tempat-tempat yang dianjurkan untuk mengangkat, atau ia mengangkat kedua tangan di tempat-tempat yang tidak dianjurkan untuk mengangkat maka hukumnya makruh.</p>
<h3><strong>[FAEDAH] </strong></h3>
<p>Sulaiman al-Jamal meriwayatkan dari Ali <em>karromallahu wajhahu </em>dan <em>rodhiyallahu ‘anhu </em>bahwa makna lafadz النحر’ dalam firman Allah ’ (QS. Al-Kautsar: 2) adalah <em>musholli </em>mengangkat kedua tangannya dalam takbir sampai <em>nahr </em>(bagian atas dada).</p>
<p>Yuk Subscribe : <a title="Akun Youtube Belajar Sholat" href="https://www.youtube.com/belajarsholatofficial">Akun Youtube Belajar Sholat</a></p>The post <a href="https://belajarsholat.com/3786-sunnah-mengangkat-tangan.html">Sunnah Mengangkat Tangan</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rukun Ke16 Salam</title>
		<link>https://belajarsholat.com/3745-rukun-ke16-salam.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Academy Sholat]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Aug 2024 09:52:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan sholat]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan surah]]></category>
		<category><![CDATA[cara sholat]]></category>
		<category><![CDATA[rukun sholat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[sholat jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[sholat sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[sholat witir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=3745</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rukun Sholat Yang Ke enam belas Salam Rukun sholat yang keenam belas adalah mengucapkan salam yang pertama. Syarat-syarat salam dalam sholat ada 10, yaitu; 1) Menyertakan huruf al (ال ). Oleh karena itu tidak cukup hanya karena tidak ada dalil yang mengucapkan menyebutkannya. 2) Menggunakan huruf kaaf khitob. Oleh karena itu tidak cukup 3) Menyertakan [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/3745-rukun-ke16-salam.html">Rukun Ke16 Salam</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2>Rukun Sholat Yang Ke enam belas</h2>
<ol start="16">
<li>
<h3><strong>Salam</strong></h3>
</li>
</ol>
<p>Rukun sholat yang keenam belas adalah mengucapkan salam yang pertama. Syarat-syarat <em>salam </em>dalam sholat ada 10, yaitu;</p>
<p>1) Menyertakan huruf <em>al </em>(ال ). Oleh karena itu tidak cukup hanya karena tidak ada dalil yang mengucapkan menyebutkannya.</p>
<p>2) Menggunakan huruf <em>kaaf khitob</em>. Oleh karena itu tidak cukup</p>
<p>3) Menyertakan <em>mim jamak</em>.</p>
<p><em>4) </em>Mengucapkan salam dengan menggunakan Bahasa Arab. Apabila tidak mampu dengannya maka</p>
<p><em>musholli </em>menerjemahkan salam dan melafadzkannya. Maka tidak cukup mengucapkan salam dengan lafadz atau terjemahan yang bersinonim.</p>
<p>5) <em>Musholli </em>mendengar ucapan salamnya sendiri sekiranya tidak ada penghalang yang menghalangi pendengaran (seperti ramai, dan lain-lain). Apabila ia membisikkan salam tanpa dirinya mendengarnya maka salamnya tidak dianggap dan wajib diulangi. Apabila ia mengucapkan salam yang belum mencukupi menurut syariat disertai dengan ia berniat keluar dari sholat maka sholatnya batal karena ia berniat keluar dari sholat sebelum mengucapkan salamnya.</p>
<p>Yuk baca Juga Artikel Tentang <a title="Salam Dalam Sholat" href="https://belajarsholat.com/2219-salam-dalam-sholat.html">Salam Dalam Sholat</a></p>
<p>6) <em>Muwalah </em>atau berturut-turut antara dua <em>kalimah </em>salam, yaitu kalimah ‘السلام ’ dan ‘عليكم ’. Apabila <em>musholli </em>tidak <em>muwalah </em>antara mereka, sekiranya ia diam lama atau pendek dengan tujuan memutus, maka salamnya batal. Begitu juga batal salamnya apabila <em>musholli </em>memisah antara dua <em>kalimah </em>salam dengan perkataan lain, seperti pemisahan dengannya yang terjadi dalam membaca Surat al-Fatihah.</p>
<p>7) Mengucapkan salam di saat <em>musholli </em>dalam posisi duduk atau gantinya. Maka tidak sah salam yang diucapkan saat ia masih dalam posisi berdiri.</p>
<p>8) Mengucapkan salam di saat <em>musholli </em>menghadap ke arah Kiblat dengan dadanya. Apabila dada <em>musholli </em>menyimpang dari arah Kiblat sebelum ia menyelesaikan <em>salam</em>nya maka sholatnya batal. Berbeda dengan mengucapkan salam disertai menolehkanwajah maka tidak apa-apa, bahkan malah disunahkan menolehkannya ke arah kanan pada saat salam yang pertama sampai orang yang berada di belakang <em>musholli </em>bisa melihat pipinya yang kanan dan disunahkan menolehkannya ke arah kiri</p>
<p>pada saat salam kedua sampai orang di belakangnya melihat pipinya yang kiri.</p>
<p>9) Ketika mengucapkan salam, <em>musholli </em>tidak menyengaja melakukan selainnya. Ia bisa menyengaja <em>tahallul</em> saat salam, atau menyangaja <em>tahallul </em>disertai dengan <em>khobar</em>, atau penyengajaannya dimutlakkan. Apabila <em>musholli </em>menyengaja <em>khobar </em>saja maka tidak sah salamnya.</p>
<p>10) <em>Musholli </em>tidak menambah-nambahi pernyataan salam lebih dari yang sampai pada kita dengan tambahan yang dapat merubah makna, seperti ia mengucapkan; yaitu dengan menambahkan huruf <em>wawu </em>antara <em>mubtadak </em>dan <em>khobar</em>. ATAU ia mengurangi pernyataan salam dengan pengurangan yang dapat merubah makna.</p>
<p>Yuk subscribe <a title="Akun Youtube Belajar Sholat" href="https://www.youtube.com/belajarsholatofficial">Akun Youtube Belajar Sholat</a></p>The post <a href="https://belajarsholat.com/3745-rukun-ke16-salam.html">Rukun Ke16 Salam</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rukun Pertama Niat</title>
		<link>https://belajarsholat.com/3702-rukun-pertama-niat.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Academy Sholat]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Jul 2024 10:37:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[niat]]></category>
		<category><![CDATA[rukun]]></category>
		<category><![CDATA[rukun sholat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat 5 waktu]]></category>
		<category><![CDATA[sholat jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[sholat sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[sholat wajib]]></category>
		<category><![CDATA[sholat witir]]></category>
		<category><![CDATA[sujud]]></category>
		<category><![CDATA[tasyahud awal]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=3702</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rukun-rukun af’aal ada 8 (delapan), Yang Pertama yaitu : Niat Rukun sholat yang pertama adalah niat dengan hati. Oleh karena itu, tidak diwajibkan mengucapkan niat dengan lisan, tetapi hukum mengucapkannya dengan lisan adalah sunah agar lisan dapat membantu hati. Dalam niat, hal yang menjadi patokan adalah apa yang ada di hati, bukan lisan. Oleh karena [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/3702-rukun-pertama-niat.html">Rukun Pertama Niat</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2>Rukun-rukun <em>af’aal </em>ada 8 (delapan),</h2>
<p>Yang Pertama yaitu :</p>
<ol>
<li>
<h3><strong>Niat </strong></h3>
</li>
</ol>
<p>Rukun sholat yang pertama adalah niat dengan hati. Oleh karena itu, tidak diwajibkan mengucapkan niat dengan lisan, tetapi hukum mengucapkannya dengan lisan adalah sunah agar lisan dapat membantu hati.</p>
<p>Dalam niat, hal yang menjadi patokan adalah apa yang ada di hati, bukan lisan. Oleh karena itu, apabila ada <em>musholli </em>hendak sholat Dzuhur, kemudian lisannya mengucapkan niat Ashar karena keceplosan sedangkan hatinya berniat Dzuhur, maka niatnya tetap sah. Berbeda dengan kasus sebaliknya, yaitu apabila <em>musholli </em>ingin sholat Dzuhur, kemudian lisannya mengucapkan Dzuhur sedangkan hatinya mengucapkan Ashar, maka niat sholat Dzuhurnya tidak sah.</p>
<p>Diwajibkan menyertakan niat dengan <em>takbiratul ihram </em>karena <em>takbiratul ihram </em>adalah perkara wajib yang pertama kali dalam sholat. Yuk baca juga artikel tentang : <a title="Hukum dan Tata Cara Niat Sholat" href="https://belajarsholat.com/288-hukum-dan-tata-cara-niat-sholat.html">Hukum dan Tata Cara Niat Sholat</a></p>
<p>Ketahuilah sesungguhnya para ulama mengkategorikan istilah <em>muqoronah </em>(menyertakan niat bersamaan dengan <em>takbiratul ihram</em>) menjadi 4 macam, yaitu:</p>
<ol>
<li><em>Muqoronah Haqiqiah Wa Istikhdhor Haqiqian. </em></li>
<li><em>Muqoronah Urfiah Wa Istikhdhor Urfian Ijmalyaini. </em></li>
<li><em>Muqoronah Haqiqiah Ba’da Istikhdhor Haqiqi. </em></li>
<li><em>Muqoronah Urfiah Ba’da Urfi</em>.</li>
</ol>
<h4>Pengertian <em>Istikhdhor Haqiqi </em></h4>
<p>adalah menghadirkan dzat sholat di dalam hati, artinya, menghadirkan rukun-rukun sholat yang berjumlah 13 yang mana niat merupakan salah satunya dan menghadirkan sesuatu yang wajib dijelaskan dalam niat secara rinci. Gambaran dari <em>istikhdhor haqiqi </em>ini adalah menyengaja secara khusus dzat dari setiap rukun. Sedangkan <em>hai-ah </em>atau keadaan dzat tersebut diadakan di depan setiap rukunnya.</p>
<h4>Pengertian <em>muqoronah haqiqiah </em></h4>
<p>adalah <em>musholli </em>menyertakan apa yang dihadirkan ini (dalam <em>istikhdor haqiqi</em>) dengan bagian pertama dari bagian-bagian <em>takbiratul ihram </em>dan melanggengkan penyertaan tersebut sampai akhir <em>takbiratul ihram</em>.</p>
<h4>Pengertian <em>istikhdhor urfi </em></h4>
<p>adalah <em>musholli </em>menghadirkan <em>hai-ah </em>atau pertingkah sholat di dalam hati secara global, artinya ia menyengaja berbuat sholat dan menentukan sholatnya, seperti Dzuhur dan Ashar, dan menentukan kefardhuannya.</p>
<h4>Pengertian <em>muqoronah urfiah </em></h4>
<p>adalah <em>musholli </em>menyertakan apa yang dihadirkan ini (dalam <em>istikhdor urfiah</em>) secara global, yaitu menyertakannya dengan bagian manapun dari bagian-bagan <em>takbiratul ihram</em>.</p>
<p>Nawawi dalam kitab <em>al-Majmuk </em>dan selainnya memilih pendapat yang telah dipilih oleh Imam Haromain dan al-Ghazali bahwa <em>m</em><em>uqoronah urfiah ijmaliah ba’dal istikhdhor ‘urfi </em>sudah cukup, artinya <em>musholli </em>tidak menyengaja rukuk dengan dzatnya dan tidak menyengaja qiroah dengan dzatnya, dan seterusnya, karena <em>muqoronah haqiqiah </em>sangat sulit bagi manusia pada umumnya.</p>
<p>Yuk subscribe : <a title="Akun Youtube Belajar Sholat" href="https://www.youtube.com/belajarsholatofficial">Akun Youtube Belajar Sholat</a></p>The post <a href="https://belajarsholat.com/3702-rukun-pertama-niat.html">Rukun Pertama Niat</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pembagian Hadas</title>
		<link>https://belajarsholat.com/3671-pembagian-hadas.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Academy Sholat]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Jul 2024 02:52:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan surah]]></category>
		<category><![CDATA[cara sholat]]></category>
		<category><![CDATA[hadas]]></category>
		<category><![CDATA[hadas besar]]></category>
		<category><![CDATA[hadas kecil]]></category>
		<category><![CDATA[pembatal wudhu]]></category>
		<category><![CDATA[rukun sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[sholat sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[sholat witir]]></category>
		<category><![CDATA[sujud]]></category>
		<category><![CDATA[takbir]]></category>
		<category><![CDATA[tasyahud awal]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=3671</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pembagian Hadas Hadas dibagi menjadi dua, yaitu: Hadas Kecil atau asghor, yakni dengan memasukkan jinabat ke dalam kategori hadas besar. Pengertian hadas kecil adalah hadas yang mewajibkan wudhu. Al-Jefri berkata, “Yang dimaksud dengan hadas asghor adalah perkara-perkara yang membatalkan wudhu.” Yuk baca juga tentang Pembatal-Pembatal Wudhu dalam Madzhab Syafi’iyah – Matan Abi Syuja Hadas Besar atau [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/3671-pembagian-hadas.html">Pembagian Hadas</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h1><strong>Pembagian Hadas </strong></h1>
<h2>Hadas dibagi menjadi dua, yaitu:</h2>
<ol>
<li>
<h3>Hadas Kecil atau <em>asghor</em>, yakni dengan memasukkan <em>jinabat </em>ke dalam kategori hadas besar.</h3>
<p>Pengertian hadas kecil adalah hadas yang mewajibkan wudhu. Al-Jefri berkata, “Yang dimaksud dengan hadas <em>asghor </em>adalah perkara-perkara yang membatalkan wudhu.”</li>
</ol>
<p>Yuk baca juga tentang <a title="Pembatal-Pembatal Wudhu dalam Madzhab Syafi’iyah – Matan Abi Syuja" href="https://belajarsholat.com/2452-pembatal-pembatal-wudhu-dalam-madzhab-syafiiyah-matan-abi-syuja.html">Pembatal-Pembatal Wudhu dalam Madzhab Syafi’iyah – Matan Abi Syuja</a></p>
<ol start="2">
<li>
<h3>Hadas Besar atau <em>akbar</em>, yaitu hadas yang mewajibkan mandi, seperti; jinabat, haid, nifas, dan melahirkan.</h3>
</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pembagian hadas menjadi dua bagian ini berdasarkan ketetapan pembagian yang dilakukan oleh sebagian ulama. Ulama lain ada yang membagi hadas menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu <em>akbar, awsat </em>(sedang), dan <em>asghor</em>. Dikarenakan perkara- perkara yang diharamkan karena haid (seperti memegang mushaf, membaca al-Quran, lewat masjid, dll) adalah lebih banyak daripada perkara-perkara yang diharamkan karena selain haid, maka haid disebut dengan hadas <em>akbar</em>.</p>
<p>Dikarenakan perkara-perkara yang diharamkan karena <em>jinabat </em>adalah lebih sedikit daripada perkara- perkara yang diharamkan karena haid dan lebih banyak daripada perkara-perkara yang diharamkan karena hadas kecil, maka jinabat disebut dengan hadas <em>awsat</em>. Dikarenakan perkara-perkara yang diharamkan karena perkara-perkara yang membatalkan wudhu adalah lebih sedikit daripada perkara-perkara yang diharamkan karena haid dan jinabat, maka perkara-perkara yang membatalkan wudhu itu disebut dengan hadas <em>asghor</em>. Jadi, sifat <em>asghor, awsat</em>, dan <em>akbar </em>dari hadas tergantung dari sedikit tidaknya perkara- perkara yang diharamkan karena masing-masing dari ketiga-tiganya tersebut.</p>
<p>Yuk subscribe <a title="Akun Youtube Belajar Sholat" href="https://www.youtube.com/belajarsholatofficial">Akun Youtube Belajar Sholat</a></p>The post <a href="https://belajarsholat.com/3671-pembagian-hadas.html">Pembagian Hadas</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tingkatan Menghadap Kiblat</title>
		<link>https://belajarsholat.com/3659-tingkatan-menghadap-kiblat.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Academy Sholat]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Jul 2024 01:44:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[arah kiblat]]></category>
		<category><![CDATA[cara sholat]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[kakbah]]></category>
		<category><![CDATA[kiblat]]></category>
		<category><![CDATA[kiblat sholat]]></category>
		<category><![CDATA[menghadap kiblat]]></category>
		<category><![CDATA[rukun sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[sholat sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[sholat witir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=3659</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tingkatan-Tingkatan Menghadap Kiblat Ketahuilah sesungguhnya tingkatan-tingkatan (menghadap) Kiblat ada 4 (empat), yaitu: 1) Mengetahui arah Kiblat dengan melihat secara nyata. 2) Mengetahui arah Kiblat dengan adanya berita dari ahli yang terpercaya kalau, misalnya, arahnya itu di arah ini misalnya. Termasuk tingkatan menghadap Kiblat ini adalah arah Kiblat yang diketahui dengan alat bantu kompas (baitul ibroh). [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/3659-tingkatan-menghadap-kiblat.html">Tingkatan Menghadap Kiblat</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h1><strong>Tingkatan-Tingkatan Menghadap Kiblat </strong></h1>
<p>Ketahuilah sesungguhnya tingkatan-tingkatan (menghadap) Kiblat ada 4 (empat), yaitu:</p>
<h4>1) Mengetahui arah Kiblat dengan melihat secara nyata.</h4>
<h4>2) Mengetahui arah Kiblat dengan adanya berita dari ahli yang terpercaya kalau,</h4>
<p>misalnya, arahnya itu di arah ini misalnya. Termasuk tingkatan menghadap Kiblat ini adalah arah Kiblat yang diketahui dengan alat bantu kompas (<em>baitul ibroh</em>).</p>
<h4>3) Mengetahui arah Kiblat dengan cara <em>ijtihad</em>.</h4>
<p>Imam Nawawi mengatakan dalam kitab <em>Idhoh </em>bahwa tidak sah mengetahui arah Kiblat dengan cara <em>ijtihad </em>kecuali berdasarkan bukti- buktinya yang sangat banyak. Bukti yang paling kuat adalah dengan hitungan sudut dan yang paling lemah adalah dengan arah angin.</p>
<p>Yuk baca juga <a title="Rukun Sholat yang Wajib Diketahui, Biar Tidak Batal Sholatnya" href="https://belajarsholat.com/214-rukun-sholat-yang-wajib-diketahui-biar-tidak-batal-sholatnya.html">Rukun Sholat yang Wajib Diketahui, Biar Tidak Batal Sholatnya</a></p>
<h4>4) Mengetahui arah Kiblat dengan cara <em>taqlid </em>(mengikuti) pendapat dari <em>mujtahid </em>(orang yang berijtihad dalam mengetahui arah Kiblat, seperti dalam tingkatan nomer 3) yang dapat diterima pendapatnya.</h4>
<p><em>Muqollid </em>(orang yang ber<em>taqlid</em>) haruslah berpedoman pada berita <em>mujtahid, </em>dengan catatan apabila <em>muqollid </em>tahu kalau <em>mujtahid </em>memberitahu arah Kiblat kepadanya berdasarkan pada pengetahuan tertentu, seperti misalnya; <em>muqollid </em>bertanya kepada <em>mujtahid</em>, “Darimana kamu tahu kalau arah Kiblat itu di arah yang ini?” kemudian <em>mujtahid </em>menjawab, “Aku telah menelitinya dari hitungan sudut,” atau, “Aku telah melihat sendiri Kiblat di arah ini.” Adapun apabila <em>mujtahid </em>menjawab, “Aku mengetahui arah Kiblat yang berada di arah ini berdasarkan <em>ijtihad</em>ku,” maka <em>muqollid </em>tidak boleh mengikuti pendapatnya tersebut, melainkan wajib atas <em>muqollid </em>melakukan <em>ijtihad </em>sendiri.</p>
<p>Begitu juga wajib <em>ijtihad </em>sendiri apabila ada orang berkata kepadanya, “Kiblat itu berada di arah ini,” tetapi orang tersebut tidak diketahui apakah ia seorang yang tahu (berdasarkan pengetahuan tertentu) atau seorang <em>mujtahid</em>.</p>
<p>Yuk subscribe <a title="Akun Youtube Belajar Sholat" href="https://www.youtube.com/belajarsholatofficial">Akun Youtube Belajar Sholat</a></p>The post <a href="https://belajarsholat.com/3659-tingkatan-menghadap-kiblat.html">Tingkatan Menghadap Kiblat</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Syarat Yang Ke-Empat</title>
		<link>https://belajarsholat.com/3653-syarat-yang-ke-empat.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Academy Sholat]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Jul 2024 01:13:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[arah kiblat]]></category>
		<category><![CDATA[cara sholat]]></category>
		<category><![CDATA[kiblat]]></category>
		<category><![CDATA[rukun sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sah sholat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[sholat sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[sholat witir]]></category>
		<category><![CDATA[sujud]]></category>
		<category><![CDATA[syarat sah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=3653</guid>

					<description><![CDATA[<p>Syarat Sah Sholat yang Ke-empat menurut pendapat ulama Mazhab syafi&#8217;iyyah Menghadap Kiblat Syarat sah sholat yang keempat adalah menghadap secara yakin ke bangunan Ka’bah (Kiblat) bagi musholli yang sholat di daerah yang dekat dengannya dan menghadap secara sangkaan (dzon) ke bangunan Ka’bah bagi musholli yang sholat di daerah yang jauh darinya, bukan menghadap ke bangunannya [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/3653-syarat-yang-ke-empat.html">Syarat Yang Ke-Empat</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2>Syarat Sah Sholat yang Ke-empat menurut pendapat ulama Mazhab syafi&#8217;iyyah</h2>
<ol start="4">
<li>
<h3><strong> Menghadap Kiblat </strong></h3>
</li>
</ol>
<p>Syarat sah sholat yang keempat adalah menghadap secara yakin ke bangunan Ka’bah (Kiblat) bagi <em>musholli </em>yang sholat di daerah yang dekat dengannya dan menghadap secara sangkaan (dzon) ke bangunan Ka’bah bagi <em>musholli </em>yang sholat di daerah yang jauh darinya, bukan menghadap ke bangunannya secara yakin, menurut pendapat <em>shohih</em>.</p>
<ol>
<li>
<h4><strong> Perbedaan Cara Menghadap Kiblat </strong></h4>
</li>
</ol>
<p>Menghadap Kiblat yang disyaratkan dalam sholat adalah dengan dada pada saat <em>musholli </em>berdiri atau duduk, bukan wajahnya. Sedangkan pada saat rukuk dan sujud maka menghadap Kiblat yang disyaratkan adalah dengan sebagian besar dari bagian tubuh. Adapun <em>musholli </em>yang melaksanakan sholat dengan cara tidur miring (<em>mudtojik</em>) maka menghadap Kiblat yang disyaratkan atasnya adalah dengan wajah dan bagian tubuh depan. Bagi <em>musholli </em>yang sholat dengan cara berbaring maka menghadap Kiblat yang disyaratkan adalah dengan wajah, bagian tubuh depan, bagian lekuk dua telapak kaki, serta diwajibkan atasnya menaikkan sedikit kepala apabila memungkinkan.</p>
<p>Syarat sah menghadap Kiblat dengan hanya bagian dada (pada saat berdiri dan duduk, seperti rincian yang telah disebutkan) adalah maksud dari kata ‘رْحَالن ’ dalam Firman Allah <em>ta’a</em><em>la </em>menurut pendapat al-Kalibi;</p>
<p class="arab">‌‌‌‌فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانحَرْ</p>
<p>Al-Kalibi berkata dalam mengartikan kata ‘وانحر ’, “menghadaplah Kiblat dengan <em>nahr</em>mu, maksudnya dengan dadamu.”</p>
<p>Yuk baca juga artikel tentang <a title="Fiqih Sutrah Sholat" href="https://belajarsholat.com/2228-fiqih-sutrah-sholat.html">Fiqih Sutrah Sholat</a></p>
<ol>
<li><strong> Dalil Syarat Menghadap Kiblat dalam Sholat </strong></li>
</ol>
<p>Dalil disyaratkan menghadap Kiblat sebelum <em>ijmak </em>adalah Firman Allah dalam Surat al-Baqoroh: 149;</p>
<p class="arab">‌‌‌‌فـَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الحَرَامِ</p>
<p><em>Dan hadapkanlah dirimu ke arah Masjid al-Haram </em>&#8230;</p>
<p>Maksudnya adalah <em>hadapkanlah dirimu dalam sholat ke arah Masjid al-Haram dan </em><em>bangunan</em> <em>(Ka’bah)</em><em>nya.</em></p>
<p>Syarqowi berkata, “Yang dimaksud dengan ‘ةَه ِج ’ (dalam ayat) menurut ahli bahasa adalah <em>dzat </em>atau <em>benda</em>nya. Sedangkan mengucapkan kata ‘ةَه ِج ’ dengan diartikan selain <em>dzat </em>maka berdasarkan arti <em>majaz</em>, seperti yang telah dikatakan juga oleh az- Ziyadi. Yang dimaksud dengan kata ‘الحرام المسجد’ dalam ayat di atas adalah Ka’bah. Berbeda dengan kata ‘الحرام المسجد’ yang digunakan dalam selain ayat di atas, maka maksudnya adalah seluruh tanah Haram.”</p>
<p>Disebutkan dalam kitab <em>al-Misbah</em>, “Firman Allah yang berbunyi;</p>
<p class="arab">‌‌‌‌فـَثَمَّ وَجْهُ االلهِ</p>
<p><em>Disanalah wajah Allah yang kalian diperintahkan untuk menghadap ke arah-Nya, </em>maka diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa ayat ini diturunkan dalam menjelaskan sholat di atas kendaraan. Diriwayatkan dari Athok bahwa ayat ini diturunkan dalam menjelaskan cara menghadap dalam sholat ketika Kiblat tidak diketahui arahnya.”</p>
<p>Yuk subscribe <a title="Akun Youtube Belajar Sholat" href="https://www.youtube.com/belajarsholatofficial">Akun Youtube Belajar Sholat</a></p>The post <a href="https://belajarsholat.com/3653-syarat-yang-ke-empat.html">Syarat Yang Ke-Empat</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
