<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Thaharah - Belajar Cara Sholat Lengkap</title>
	<atom:link href="https://belajarsholat.com/category/thaharah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://belajarsholat.com</link>
	<description>Tuntunan Belajar Bacaan Shalat dan Gerakannya dari Jadwal Sholat Wajib Lima Waktu, Sholat Sunnah, Sholat Subuh, Shalat Tahajud, Sholat Dhuha</description>
	<lastBuildDate>Sun, 27 Aug 2023 13:15:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://belajarsholat.com/wp-content/uploads/2022/01/icon-75x75.png</url>
	<title>Thaharah - Belajar Cara Sholat Lengkap</title>
	<link>https://belajarsholat.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Benda Najis yang Bisa Kembali Suci</title>
		<link>https://belajarsholat.com/2574-benda-najis-yang-bisa-kembali-suci.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Belajarsholat.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Aug 2023 11:47:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Thaharah]]></category>
		<category><![CDATA[benda najis]]></category>
		<category><![CDATA[kharm]]></category>
		<category><![CDATA[kulit disamak]]></category>
		<category><![CDATA[minuman]]></category>
		<category><![CDATA[nabidz]]></category>
		<category><![CDATA[najis]]></category>
		<category><![CDATA[samak kulit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=2574</guid>

					<description><![CDATA[<p>Benda Najis yang Bisa Kembali Suci Dalam kitab dasar Syafi&#8217;iyah, &#8220;Matan Safinatun Najah&#8221; ada pasal tentang benda najis yang bisa kembali suci. Adanya bab ini karena masyarakat pada umumnya berinteraksi dengan benda-benda najis yang notabenenya sebagai alat pendukung untuk beribadah. Semisal kulit-kulit hewan yang dipakai untuk tempat air, alas, dompet, tas, alat tulis dll. Sehingga [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/2574-benda-najis-yang-bisa-kembali-suci.html">Benda Najis yang Bisa Kembali Suci</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Benda Najis yang Bisa Kembali Suci</strong></h2>
<p>Dalam kitab dasar Syafi&#8217;iyah, &#8220;Matan Safinatun Najah&#8221; ada pasal tentang benda najis yang bisa kembali suci. Adanya bab ini karena masyarakat pada umumnya berinteraksi dengan benda-benda najis yang notabenenya sebagai alat pendukung untuk beribadah. Semisal kulit-kulit hewan yang dipakai untuk tempat air, alas, dompet, tas, alat tulis dll. Sehingga bahasan ini akan mempermudah umat beramal dan menentukan hukum tanpa keragu-raguan.</p>
<p>Dalam matan Safinatun Najan disebutkan,</p>
<p class="arab">(فَصْلٌ) الَّذِيْ يَطْهُرُ مِنَ النَّجَاسَاتِ ثَلَاثَةٌ: الْخَمْرُ إِذَا تَخَلَّلَتْ بِنَفْسِهَا وَ جِلْدُ الْمَيْتَةِ إِذَا دُبِغَ وَ مَا صَارَ حَيَوَانًا</p>
<p><strong>(Pasal) Benda yang menjadi suci (yang sebelumnya) najisd ada 3, yaitu:</strong><br />
<strong>1. Khamr jika menjadi cuka secara alami.</strong><br />
<strong>2. Kulit bangkai jika disamak.</strong><br />
<strong>3. Benda najis yang menjadi hewan.</strong></p>
<p><strong>Penjelasan:</strong></p>
<h3><strong>1. Hukum asal khamr adalah Najis.</strong></h3>
<p>Khamr di zaman dahulu minuman memabukkan yang terbuat dari perasaan anggur. Namun secara istilah adalah segala benda yang memabukkan baik terbuat dari anggur, nira, baceman, alkohol dll.</p>
<p>Namun dalam bab ini khamr terbuat dari tumbuhan yang bisa berubah menjadi cuka secara alami maka cuka tersebut menjadi suci. Arti suci ini berarti halal dipakai dan halal dikonsumsi. Yang perlu diperhatikan sebelum jadi khamr proses dan bahan harus dari benda/tumbuhan yang sebelumnya suci/halal.</p>
<p>Contoh:<br />
Proses cuka halal: Anggur =&gt; khamr =&gt; cuka<br />
Proses cuka haram: Anggur + baceman ular =&gt; khamr =&gt; cuka</p>
<h3><strong>2. Kulit bangkai yang disamak menjadi suci.</strong></h3>
<p class="arab">إِذَا دُبِغَ الإِهَابُ ، فَقَدْ طَهُرَ</p>
<p>“ Apabila kulit bangkai binatang telah disamak maka telah suci” (H.R.Muslim 105)</p>
<p>Bangkai adalah hewan yang tidak disembelih dengan cara yang benar sesuai syariat Islam. Bangkai hukum asalnya najis, namun kulit bangkai menjadi suci ketika sudah disamak.</p>
<p>Teknik menyamak zaman dahulu adalah dengan cara membuang bulu, lemak dan daging yang menempel, kemudian dibungkus/dibaluri dengan daun Al Qarazh.</p>
<p class="arab">مَرَّ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رِجَالٌ مِنْ قُرَيْشٍ يَجُرُّونَ شَاةً لَهُمْ مِثْلَ الْحِمَارِ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَخَذْتُمْ إِهَابَهَا قَالُوا إِنَّهَا مَيْتَةٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُطَهِّرُهَا الْمَاءُ وَالْقَرَظُ</p>
<p>Suatu ketika beberapa laki-laki Quraisy melewati Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam dengan menyeret kambing mereka seperti keledai. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam lalu berkata kepada mereka: &#8220;Sekiranya kalian ambil kulitnya.&#8221; Mereka berkata, &#8220;Kambing itu telah mati.&#8221; Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: &#8220;Air dan Al Qarazh (daun dari jenis pohon yang biasa digunakan untuk menyamak) akan mensucikannya.&#8221; (HR. Abu Daud)</p>
<p>Kulit hewan-hewan yang boleh disamak adalah bangkai dari hewan halal atau haram, selain babi dan anjing. Bahkan terdapat larangan menyembelih hewan halal hanya untuk diambil kulitnya saja tanpa mengambil dagingnya.</p>
<p>Proses samak kulit menjadi suci ketika hilangnya najis &#8216;Ainiyah berupa bau bangkai, artinya setelah proses samak bau bangkai sudah hilang.</p>
<p>Kulit samak dari hewan halal dengan menyembelih sesuai syariat maka boleh dikonsumsi jika memungkinkan dikonsumsi. Adapun kulit samak dari bangkai hewan maka haram dikonsumsi setelahnya.</p>
<h3><strong>3. Benda najis yang menjadi hewan.</strong></h3>
<p>Benda najis yang terurai akan muncul sejenis binatang kecil seperti cacing atau belatung. Para ulama memasukkan jenis binatang ini jenis binatang suci. Namun tidak setiap binatang suci boleh dimakan.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lam.</em></p>
<p>Referensi: Kasyifatus-Sajaa Syarhu Safinatun-Naja, Syaikh An-Nawawi Al-Bantani rahimahullah.</p>The post <a href="https://belajarsholat.com/2574-benda-najis-yang-bisa-kembali-suci.html">Benda Najis yang Bisa Kembali Suci</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mandi-Mandi yang Disunnahkan</title>
		<link>https://belajarsholat.com/2545-mandi-mandi-yang-disunnahkan.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Belajarsholat.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Aug 2023 03:09:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Thaharah]]></category>
		<category><![CDATA[mandi sholat id]]></category>
		<category><![CDATA[mandi sholat jumat]]></category>
		<category><![CDATA[mandi sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[mandi wajib]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=2545</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mandi-Mandi yang Disunnahkan Berbeda dengan mandi wajib, mandi sunnah apabila dikerjakan mendapatkan pahala jika tidak dikerjakan tidak mengapa. Apa saja mandi-mandi sunnah? 1. Mandi ketika akan mengerjakan sholat Jum&#8217;at. Disunnahkan mandi di hari Jum&#8217;at berdasarkan hadis Nabi ﷺ مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/2545-mandi-mandi-yang-disunnahkan.html">Mandi-Mandi yang Disunnahkan</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Mandi-Mandi yang Disunnahkan</strong></h2>
<p>Berbeda dengan mandi wajib, mandi sunnah apabila dikerjakan mendapatkan pahala jika tidak dikerjakan tidak mengapa.</p>
<p>Apa saja mandi-mandi sunnah?</p>
<h3><strong>1. Mandi ketika akan mengerjakan sholat Jum&#8217;at.</strong></h3>
<p>Disunnahkan mandi di hari Jum&#8217;at berdasarkan hadis Nabi ﷺ</p>
<p class="arab">مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ</p>
<p><em>“Barangsiapa mandi pada hari jumat sebagaimana mandi janabah, lalu berangkat menuju masjid, maka dia seolah berkurban dengan seekor unta. Barangsiapa yang datang pada kesempatan (waktu) kedua maka dia seolah berkurban dengan seekor sapi. Barangsiapa yang datang pada kesempatan (waktu) ketiga maka dia seolah berkurban dengan seekor kambing yang bertanduk. Barangsiapa yang datang pada kesempatan (waktu) keempat maka dia seolah berkurban dengan seekor ayam. Dan barangsiapa yang datang pada kesempatan (waktu) kelima maka dia seolah berkurban dengan sebutir telur. Dan apabila imam sudah keluar (untuk memberi khuthbah), maka para malaikat hadir mendengarkan dzikir (khuthbah tersebut).”</em> (HR. Bukhari no. 881 dan Muslim no. 850)</p>
<h3><strong>2. Mandi Sholat &#8216;Id (Idul Fitri dan Idul Adha)</strong></h3>
<p class="arab">عَنْ نَافِعٍ: أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رضي الله عنه كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى</p>
<p>Dari Nafi&#8217;, sesungguhnya Abdullah bin Umar radhiallahu &#8216;anhuma mandi sunnah di Idul Fitri sebelum mendatangi tempat sholat. (Muwatho, Imam Malik 384)</p>
<h3><strong>3. Mandi Setelah Memandikan Jenazah</strong></h3>
<p>Dalilnya hadis dari Abu Hurairah radhiallahu &#8216;anhu</p>
<p class="arab">من غسَّل الميت فليغتسل ومن حمله فليتوضأ</p>
<p>Barang siapa memandikan jenazah hendaklah dia mandi, barang siapa yang memikul jenazah hendaknya dia berwudhu.&#8221; (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmizi)</p>
<p>Hadis diatas menunjukkan wajibnya mandi setelah memandikan mayit, namun para ulama berpendapat bahwa hukum tersebut di mansuhk sebagaimana riwayat Hakim</p>
<p class="arab">ليس عليكم في غسل ميتكم غُسل إذا غسلتموه ، فإنَّ ميتكم ليس بنجس ، فحسبكم أن تغسلوا أيديكم</p>
<p>Kalian tidak harus mandi wajib apabila memandikan mayit, sesungguhnya mayit tidak najid, maka cukup bagi kalian membasuh tangan. (HR. Hakim dan Baehaqi)</p>
<h3><strong>4. Mandi Setelah Masuk Islam (Mualaf)</strong></h3>
<p>Sebagaimana yang dikisahkan Qais bin &#8216;Ashim Radhiallahu &#8216;anhu</p>
<p class="arab">أنَّه أَسلَمَ فأمَر النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أن يَغتسلَ بماءٍ وسِدْرٍ</p>
<p>Ketika dia masuk islam, maka Nabi ﷺ menyuruhkan untuk mandi dengan air dan daun sidr. (HR. At-Tirmidzi, An-Nasai, Ahmad)</p>
<h4><strong>5. Mandi setelah sembuh dari gila.</strong></h4>
<h4><strong>6. Mandi saat akan ihram.</strong></h4>
<h4><strong>7. Mandi saat akan memasuki kota Mekah dan Madinah.</strong></h4>
<h4><strong>8. Mandi saat wukuf Arofah.</strong></h4>The post <a href="https://belajarsholat.com/2545-mandi-mandi-yang-disunnahkan.html">Mandi-Mandi yang Disunnahkan</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tata Cara Mandi Wajib Lengkap</title>
		<link>https://belajarsholat.com/2534-tata-cara-mandi-wajib-lengkap.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Belajarsholat.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Jul 2023 01:43:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Thaharah]]></category>
		<category><![CDATA[cara mandi junud]]></category>
		<category><![CDATA[cara mandi wajib]]></category>
		<category><![CDATA[mandi junub]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah mandi junub]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah mandi wajib]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=2534</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tata Cara Mandi Wajib Lengkap Mandi wajib adalah mandi untuk mengangkat hadats besar seperti selesai junub, haidh, nifas dengan tujuan agar tidak menghalangi seseorang untuk melaksanakan ibadah sholat, puasa, memegang Al-Quran. Cara mandi wajib tersirat dalam sebuah hadis Nabi ﷺ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/2534-tata-cara-mandi-wajib-lengkap.html">Tata Cara Mandi Wajib Lengkap</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Tata Cara Mandi Wajib Lengkap</strong></h2>
<p>Mandi wajib adalah mandi untuk mengangkat hadats besar seperti selesai junub, haidh, nifas dengan tujuan agar tidak menghalangi seseorang untuk melaksanakan ibadah sholat, puasa, memegang Al-Quran.</p>
<p>Cara mandi wajib tersirat dalam sebuah hadis Nabi ﷺ</p>
<p class="arab">عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنْ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي الْمَاءِ فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ</p>
<p>Dari &#8216;Aisyah isteri Nabi ﷺ, bahwa jika Nabi ﷺ mandi karena janabat, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya, kemudian berwudlu sebagaimana wudlu untuk sholat, kemudian memasukkan jari-jarinya ke dalam air lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya.&#8221; (HR. Bukhari)</p>
<p class="arab">عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَتْ مَيْمُونَةُ وَضَعْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاءً يَغْتَسِلُ بِهِ فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا ثُمَّ أَفْرَغَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَغَسَلَ مَذَاكِيرَهُ ثُمَّ دَلَكَ يَدَهُ بِالْأَرْضِ ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ وَغَسَلَ رَأْسَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى جَسَدِهِ ثُمَّ تَنَحَّى مِنْ مَقَامِهِ فَغَسَلَ قَدَمَيْهِ</p>
<p>Dari [Ibnu &#8216;Abbas] berkata, [Maimunah] berkata, &#8220;Aku menyediakan air mandi untuk Rasulullah ﷺ, beliau lalu menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali dua kali atau tiga kali. Lalu dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada telapak tangan kirinya lalu mencuci kemaluannya, setelah itu menyentuhkan tangannya ke tanah. Kemudian berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung. Kemudian membasuh muka dan kedua tangannya, lalu membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya. Setelah itu beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya.&#8221;</p>
<p>عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ مَيْمُونَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اغْتَسَلَ مِنْ الْجَنَابَةِ فَغَسَلَ فَرْجَهُ بِيَدِهِ ثُمَّ دَلَكَ بِهَا الْحَائِطَ ثُمَّ غَسَلَهَا ثُمَّ تَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ غُسْلِهِ غَسَلَ رِجْلَيْهِ</p>
<p>Dari [Ibnu &#8216;Abbas] dari [Maimunah], bahwa Nabi ﷺ mandi janabat, beliau lalu mencuci kemaluannya dengan tangan, lalu beliau menyentuhkan tangannya ke dinding, lalu mencucinya dengan air. Kemudian berwudlu sebagaimana wudlu untuk sholat, selesai mandi beliau mencuci kedua kakinya.&#8221; (HR. Bukhari)</p>
<p><strong>Dari rangkaian hadis diatas para ulama berbagai madzab menyimpulkan bagaimana tata cara mandi wajib sebagai berikut:</strong></p>
<p>1. Wajib niat, jumhur ulama berpendapat bahwa niat merupakan rukun <a href="https://belajarsholat.com/2485-penyebab-mandi-wajib-dalam-madzhab-syafiiyah-matan-abi-syuja.html" target="_blank" rel="noopener">mandi wajib</a>. Dalilnya adalah hadis Umar bin Khathab tentang niat. Niat merupakan pembeda dari setiap amal yang wajib, sunnah, atau mubah.</p>
<p>2. Disunnahkan membaca basmallah.</p>
<p>3. Disunnahkan membersihkan tangan dari najis dan kotoran sebelum dimasukkan ke dalam bak mandi.</p>
<p>4. Disunnahkan mencuci kemaluan dengan tangan kiri.</p>
<p>5. Disunnahkan membersihkan tangan setelah pegang kemaluan dengan menggosokkan ke dinding.</p>
<p>6. Disunnahkan berwudhu sebagaimana wudhunya sholat. Dalam hal ini ada 2 cara: Wudhu secara lengkap sampai kaki setelah itu meratakan air ke badan, atau wudhu sampai membasuh kepala lalu meratakan air ke badan setelah itu mengakhirkan membasuh kaki.</p>
<p>7. Wajib mengalirkan dan meratakan air ke seluruh rambut dan kulit tubuh.</p>
<p>8. Saat mulai mengguyur air di kepala, disunnahkan mengguyurnya 3 kali disertai sambil menyela-nyela akar rambut dengan jari. Dan disunnahkan juga menyela-nyela diantara jari tangan dan kaki.</p>
<p>9. Disunnahkan mendahulukan anggota tubuh bagian kanan.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lam.</em></p>The post <a href="https://belajarsholat.com/2534-tata-cara-mandi-wajib-lengkap.html">Tata Cara Mandi Wajib Lengkap</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Air Ketuban Rembes Sebelum Lahir Apakah Najis?</title>
		<link>https://belajarsholat.com/2489-air-ketuban-rembes-sebelum-lahir-apakah-najis.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Belajarsholat.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Jun 2023 09:52:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Thaharah]]></category>
		<category><![CDATA[air ketuban najis]]></category>
		<category><![CDATA[air ketuban rembes]]></category>
		<category><![CDATA[air ketuban sholat]]></category>
		<category><![CDATA[ketuban]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=2489</guid>

					<description><![CDATA[<p>Air Ketuban Rembes Sebelum Lahir Apakah Najis? Ibu-ibu yang hamil pasti tidak asing dengan air ketuban. Air ketuban adalah cairan yang berada di kantung ketuban yang melindungi janin. Ketuban sendiri sebagai sumber nutrisi untuk perkembangan janin dalam kandungan. Nah, Ibu-ibu sering kita jumpai kejadian terkait ketuban rembes sebelum waktu lahiran. Kali ini ini akan fokus [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/2489-air-ketuban-rembes-sebelum-lahir-apakah-najis.html">Air Ketuban Rembes Sebelum Lahir Apakah Najis?</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Air Ketuban Rembes Sebelum Lahir Apakah Najis?</strong></h2>
<p>Ibu-ibu yang hamil pasti tidak asing dengan air ketuban. Air ketuban adalah cairan yang berada di kantung ketuban yang melindungi janin. Ketuban sendiri sebagai sumber nutrisi untuk perkembangan janin dalam kandungan.</p>
<p>Nah, Ibu-ibu sering kita jumpai kejadian terkait ketuban rembes sebelum waktu lahiran. Kali ini ini akan fokus membahas dalam perspektif fikih Islam terkait status hukum air ketuban ini apakah najis atau tidak.</p>
<p>Baik, setidaknya Redaksi belajar sholat mendapati ada 2 pandangan tentang status air ketuban ini:</p>
<p><strong>1. Air ketuban hukumnya suci, tetapi membatalkan wudhu.</strong></p>
<p>Dalam situs Islamqa disebutkan terkait hukum keluar cairan sebelum melahirkan,<br />
&#8220;&#8230;Jika hanya berbentuk cairan (bukan darah), maka hukumnya sama dengan hukum zat yang keluar dari vagina, dia adalah cairan suci, karena keluar dari rahim, namun membatalkan wudhu dan tidak menghalangi seseorang dari shalat dan puasa, karena tidak dianggap nifas.</p>
<p>Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, &#8220;Tiga hari sebelum melahirkan, keluar cairan yang disertai rasa sakit, apakah hal itu digolongkan nifas?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Itu bukan nifas, karena nifas terdiri dari darah, bukan air. Demikian pula tidak dianggap nifas kecuali jika diiringi pembukaan sebelum melahirkan dua hari atau tiga hari. Adapun jika terjadi sebelum kelahiran dalam waktu yang lama, maka tidak dianggap nifas. Karena nifas merupakan darah yang keluar beriringan dengan kelahiran atau sebelumnya dua atau tiga hari diiringi dengan pembukaan. Adapun air, maka tidak dianggap nifas.&#8221; (Fatawa Nurun Alad-Darb).</p>
<p>Ustadz Dzulqarnain juga berpendapat dalam situsnya,<br />
Air ketuban adalah air yang berasal dari rahim, keluar sebelum melahirkan. Air ketuban bukanlah najis, karena tidak ada dalil kuat menunjukkan najisnya.</p>
<p><strong>2. Air ketuban hukumnya najis, dan membatalkan wudhu. Inilah pendapat terkuat dan pilihan redaksi. Wallahu a&#8217;lam.</strong></p>
<p>Para fuqoha menghukumi najis dengan kaidah</p>
<p class="arab">كل ما يخرج من السبيلين نجس</p>
<p>Setiap apapun yang keluar dari dua jalan adalah najis.</p>
<p>Dan termasuk di dalamnya keluar cairan (ketuban) sebelum keluar janin.</p>
<p>mam al-Dasuqi di Hasyiyah al-Dasuqi ‘Ala Syarh al-Kabir,</p>
<p class="arab">ووجب وضوء بهاد هوه دم أبيض يخرج قرب الولادة لأنه بمنزلة البول. والأظهر عند ابن رشد نفيه أي نفي الوضوء منه لأنه ليس بمعتاد وفيه نظر والمعتمد الأول هذا</p>
<p>dan wajib wudhu sebab <a href="https://belajarsholat.com/2485-penyebab-mandi-wajib-dalam-madzhab-syafiiyah-matan-abi-syuja.html" target="_blank" rel="noopener">air ketuban</a> yaitu darah putih yang keluar menjelang kelahiran karena air ketuban seperti air kencing. Menurut pendapat Ibnu Rusd tidak ada kewajiban wudhu karena keluarnya air ketuban bukanlah hal yang biasa, pendapat ini perlu dilihat lagi, dan Pendapat yang mu&#8217;tamad dari dua pendapat tadi adalah pendapat yang pertama.</p>
<h3><strong>Apakah Pecah Ketuban Sebelum Lahir Masih Sholat dan Puasa?</strong></h3>
<p>Dari penjelasan para ulama air ketuban yang keluar sebelum lahir diklasifikasikan:</p>
<p>1. Jika keluar air ketuban tanpa disertai darah maka masih berkewajiban sholat dan puasa.</p>
<p>2. Jika disertai darah maka masuk kategori nifas, dan tidak wajib puasa dan sholat.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam.</p>The post <a href="https://belajarsholat.com/2489-air-ketuban-rembes-sebelum-lahir-apakah-najis.html">Air Ketuban Rembes Sebelum Lahir Apakah Najis?</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Mani Membatalkan Wudhu?</title>
		<link>https://belajarsholat.com/2464-apakah-mani-membatalkan-wudhu.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Belajarsholat.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 May 2023 23:28:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Thaharah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum mani]]></category>
		<category><![CDATA[keluar mani]]></category>
		<category><![CDATA[pembatal wudhu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=2464</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apakah Mani Membatalkan Wudhu? Masalah mani secara dzat sendiri ulama berbeda pendapat apakah termasuk suci ataupun najis. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibunda &#8216;Aisyah radhiallahu &#8216;anha beliau berkata, كُنْتُ أَفْرُكُ الْمَنِيَّ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا كَانَ يَابِسًا وَأَغْسِلُهُ إذَا كَانَ رَطْبًا “Aku mengerik mani dari pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/2464-apakah-mani-membatalkan-wudhu.html">Apakah Mani Membatalkan Wudhu?</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Apakah Mani Membatalkan Wudhu?</strong></h2>
<p>Masalah mani secara dzat sendiri ulama berbeda pendapat apakah termasuk suci ataupun najis.</p>
<p>Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibunda &#8216;Aisyah radhiallahu &#8216;anha beliau berkata,</p>
<p class="arab">كُنْتُ أَفْرُكُ الْمَنِيَّ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا كَانَ يَابِسًا وَأَغْسِلُهُ إذَا كَانَ رَطْبًا</p>
<p><em>“Aku mengerik mani dari pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika ia kering, dan mencucinya (membasuhnya) jika ia basah.” (</em>HR Daruquthni)</p>
<p>Dari hadis diatas, sebagian besar ulama menghukuminya suci, walaupun ada yang menyelisihinya seperti dalam madzhab Maliki dan Hanafi menghukumi najis. Namun yang tepat menurut hemat kami adalah hukum mani adalah suci, dan ini dikuatkan oleh pendapat madzhab Asy-Syafiiyah, Al-Hanabilah, Zahiriyah dll. Bahkan Ibnu Taimiyah menegaskan,</p>
<p class="arab">وأمَّا المنيُّ؛ فالصحيحُ أنَّه طاهر،كما هو مذهب الشافعيِّ وأحمد في المشهور عنه ((مجموع الفتاوى)) (21/588، 604</p>
<p>Dan adapun mani, yang shahih adalah suci sebagaimana dalam madzhab Asy-Syafi’i dan Ahmad yang pendapatnya masyhur. (Majmu’ Al-Fatawa 604, 21/588)</p>
<p>Sementara itu ketika dinyatakan bahwa mani itu suci atau tidak, lalu bagaimanakah status wudhu bagi seorang yang keluar mani?</p>
<p>Dan kali ini pembahasannya sangat dalam. Sebagian ulama dalam hal ini dari kalangan madzhab tarjih dan Hambali sendiri menganggapnya membatalkan wudhu. Karena apapun yang menyebabkan mandi junub dia termasuk membatalkankan wudhu (Shahih Fiqih Sunnah 1/128)</p>
<p>Berbeda dengan muktamad madzhab Syafi’iyah yang menganggap bahwa mani yang kondisi thahir tidak membatalkan wudhu, tapi wajib mandi junub.</p>
<p>Dalam kitab At-Taqrirat As-Sadidah disebutkan alasan kenapa mani tidak masuk dalam pembatal wudhu?</p>
<p>Terdapat kaidah fikih bahwa setiap apa yang diwajibkan atas dua perkara dalam satu masalah, maka tidak wajib melakukan yang kecil jika sudah melakukan yang besar. Seperti mani, karena dia diwajibkan mandi besar dimana sudah ada wudhu didalamnya.</p>
<p>Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,</p>
<p class="arab">الْمَنِىُّ وَالْمَذْىُ وَالْوَدْىُ ، أَمَّا الْمَنِىُّ فَهُوَ الَّذِى مِنْهُ الْغُسْلُ ، وَأَمَّا الْوَدْىُ وَالْمَذْىُ فَقَالَ : اغْسِلْ ذَكَرَكَ أَوْ مَذَاكِيرَكَ وَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ.</p>
<p>“Mengenai mani, madzi dan wadi; adapun mani, maka diharuskan untuk mandi. Sedangkan wadi dan madzi, Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Cucilah kemaluanmu, lantas berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk shalat.” (HR. Al Baihaqi no. 771)</p>
<p>Dalam riwayat diatas bahwa kewajiban wudhu hanya berlaku untuk yang keluar madzi dan wadi, jika mani mengharuskan berwudhu tentu Ibnu Abbas Dalam radhiallahu &#8216;anhuma tidak akan mengecualikannya.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam.</p>The post <a href="https://belajarsholat.com/2464-apakah-mani-membatalkan-wudhu.html">Apakah Mani Membatalkan Wudhu?</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hukum Memakan Daging Unta Apakah Membatalkan Wudhu?</title>
		<link>https://belajarsholat.com/2460-hukum-memakan-daging-unta-apakah-membatalkan-wudhu.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Belajarsholat.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 May 2023 04:29:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Thaharah]]></category>
		<category><![CDATA[batal wudhu]]></category>
		<category><![CDATA[hukum makan daging unta]]></category>
		<category><![CDATA[pembatal wudhu]]></category>
		<category><![CDATA[wudhu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=2460</guid>

					<description><![CDATA[<p>Memakan Daging Unta Apakah Membatalkan Wudhu? Mohon izin bertanya terkait pembatal wudhu, saya pernah dengar kalau makan daging unta membatalkan wudhu. Mohon penjelasannya. Dari Jamaah Masjid Baiturrohman Jawab: Terjadi perbedaan perdapat terkait hukum makan daging unta. Pendapat pertama: Memakan daging unta membatalkan wudhu. Pendapat ini dipilih oleh Madzhab Hambali dan ulama kontemporer semisal Syaikh Utsaimin [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/2460-hukum-memakan-daging-unta-apakah-membatalkan-wudhu.html">Hukum Memakan Daging Unta Apakah Membatalkan Wudhu?</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Memakan Daging Unta Apakah Membatalkan Wudhu?</strong></h2>
<p><em>Mohon izin bertanya terkait pembatal wudhu, saya pernah dengar kalau makan daging unta membatalkan wudhu. Mohon penjelasannya.</em></p>
<p><em>Dari Jamaah Masjid Baiturrohman</em></p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p>Terjadi perbedaan perdapat terkait hukum makan daging unta.</p>
<p><strong>Pendapat pertama: Memakan daging unta membatalkan wudhu.</strong></p>
<p>Pendapat ini dipilih oleh Madzhab Hambali dan ulama kontemporer semisal Syaikh Utsaimin dan Syaikh Ibnu Baz. Dalil yang dipakai adalah hadis dari Jabir bin Samurah <em>radhiyallahuanhu,</em></p>
<p class="arab">أَنَّ رَجُلاً سَأَل رَسُول اللَّهِ : أَأَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْغَنَمِ ؟ قَال : إِنْ شِئْتَ فَتَوَضَّأْ وَإِنْ شِئْتَ فَلاَ تَوَضَّأَ .قَال : أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الإْبِل ؟ قَال : نَعَمْ فَتَوَضَّأْ مِنْ لُحُومِ الإْبِل</p>
<p>Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Hadist dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma,, “Apakah saya berwudhu setalah makan daging kambing?” Beliau menjawab, “<em>Jika kamu menghendali maka berwudhulah, dan jika kamu tidak mau tidak perlu berwudhu.”</em> Laki-laki itu bertanya lagi, “Apakah saya harus berwudhu setelah makan daging unta?” Beliau menjawab, <em>“Ya. Berwudhulah disebabkan karena (makan) daging unta.”</em> (HR. Muslim 360)</p>
<p>Dan juga hadis riwayat dari Al-Bara&#8217; bin &#8216;Azib <em>radhiallahu a&#8217;nhu</em></p>
<p class="arab">سُئِلَ رسولُ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم عن الوضوءِ مِن لُحومِ الإبِلِ، فقال: توضَّؤوا منها</p>
<p>Nabi ﷺ ditanya tentang wudhu setelah makan daging unta. Nabi menjawab,<em> &#8220;Berwudhulah darinya.&#8221;</em> (HR. Abu Daud 184, At-Tirmidzi 81, Ibnu Majah 494)</p>
<p>Sebagian ulama mengambil dalil diatas karena secara kaidah ushul bahwa perintah nabi bermakna wajib.</p>
<p><strong>Pendapat kedua: Memakan daging unta tidak membatalkan wudhu.</strong></p>
<p>Jumhur sahabat dan jumhur madzhab memilih pendapat ini, dengan alasan hadis batalnya wudhu karena makan daging unta sudah dihapus (nasakh)</p>
<p>Dalilnya adalah dari Jabir <em>radhiallahu &#8216;anhu</em></p>
<p class="arab">كان آخِرُ الأمرينِ مِن رسولِ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم تَرْكَ الوضوءِ ممَّا غيَّرَت النَّار</p>
<p>Akhir kedua perkara ini adalah bahwa Rasulullah Hadist dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, tidak berwudhu karena makan sesuatu yang tersentuh api (sudah dimasak). (HR. Abu Daud, An-Nasai, Ibnu Khuzaimah)</p>
<p>Kalimat ممَّا غيَّرَت secara umum mencakup daging unta dan lainnya, dan apabila disana ada akhir dari dua perkara, maka secara syariah wajib mengambil pendapat yang akhir. Karena yang akhir menghapus pendapat yang awal. (Asy-Syarhul Mumti&#8217; 1/304)</p>
<p>Hadist dari Jabir bin Abdillah <em>radhiyallahu ‘anhuma,</em></p>
<p class="arab">قَرَّبْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُبْزًا وَلَحْمًا فَأَكَلَ ثُمَّ دَعَا بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ بِهِ ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ دَعَا بِفَضْلِ طَعَامِهِ فَأَكَلَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ</p>
<p>“Saya pernah menghidangkan untuk Nabi ﷺ sepotong roti dan daging lalu beliau memakannya. Kemudian beliau minta dibawakan air, lalu beliau wudhu dan shalat dzuhur. Kemudian beliau meminta dibawakan sisa makananya tadi, lalu beliau memakannya, kemudian beliau shalat (sunnah) tanpa berwudhu.” (HR. Abu Daud)</p>
<p><strong>Kesimpulannya:</strong></p>
<p class="arab">ﻓﺎﺧﺘﻠﻒ اﻟﻌﻠﻤﺎء ﻓﻲ ﺃﻛﻞ ﻟﺤﻮﻡ اﻟﺠﺰﻭﺭ ﻭﺫﻫﺐ اﻻﻛﺜﺮﻭﻥ ﺇﻟﻰ ﺃﻧﻪ ﻻﻳﻨﻘﺾ اﻟﻮﺿﻮء ﻣﻤﻦ ﺫﻫﺐ ﺇﻟﻴﻪ اﻟﺨﻠﻔﺎء اﻷﺭﺑﻌﺔ اﻟﺮاﺷﺪﻭﻥ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﻭﻋﻤﺮ ﻭﻋﺜﻤﺎﻥ ﻭﻋﻠﻲ ﻭﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﻭاﺑﻲ ﺑﻦ ﻛﻌﺐ ﻭﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻭﺃﺑﻮ اﻟﺪﺭﺩاء ﻭﺃﺑﻮ ﻃﻠﺤﺔ ﻭﻋﺎﻣﺮ ﺑﻦ ﺭﺑﻴﻌﺔ ﻭﺃﺑﻮ ﺃﻣﺎﻣﺔ ﻭﺟﻤﺎﻫﻴﺮ اﻟﺘﺎﺑﻌﻴﻦ ﻭﻣﺎﻟﻚ ﻭﺃﺑﻮ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻭاﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭﺃﺻﺤﺎﺑﻬﻢ ﻭﺫﻫﺐ ﺇﻟﻰ اﻧﺘﻘﺎﺽ اﻟﻮﺿﻮء ﺑﻪ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ ﻭﺇﺳﺤﺎﻕ ﺑﻦ ﺭاﻫﻮﻳﻪ ﻭﻳﺤﻴﻰ ﺑﻦ ﻳﺤﻴﻰ ﻭﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﺑﻦ اﻟﻤﻨﺬﺭ ﻭﺑﻦ ﺧﺰﻳﻤﺔ ﻭاﺧﺘﺎﺭﻩ اﻟﺤﺎﻓﻆ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ اﻟﺒﻴﻬﻘﻲ</p>
<p>Ulama berbeda pendapat dalam masalah memakan daging unta, mayoritas ulama berpendapat bahwa memakan daging unta <a href="https://belajarsholat.com/2452-pembatal-pembatal-wudhu-dalam-madzhab-syafiiyah-matan-abi-syuja.html" target="_blank" rel="noopener">tidak membatalkan wudhu</a>, ini pendapat para empat khalifah, Ibnu Mas&#8217;ud, Abi bin Ka&#8217;ab, Ibnu Abbas, Abu Darda&#8217;, Abu Thalhah, &#8216;Amir bin Rabi&#8217;ah, Abu Umamah dan jumhur tabi&#8217;in dan madzhab Maliki, Hanafi dan Syafi&#8217;i. Sedangkan imam Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahiwaih, Yahya bin Yahya, Abu Bakar bin Mundzir, Ibu Khuzaimah dan Al-Hafidz Abu Bakar al-Baihaqi berpendapat sebaliknya (membatalkan wudhu). (Syarhu an-Nawawi &#8216;ala al-Muslim, 48/4)</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lam.</em></p>The post <a href="https://belajarsholat.com/2460-hukum-memakan-daging-unta-apakah-membatalkan-wudhu.html">Hukum Memakan Daging Unta Apakah Membatalkan Wudhu?</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pembatal-Pembatal Wudhu dalam Madzhab Syafi&#8217;iyah &#8211; Matan Abi Syuja</title>
		<link>https://belajarsholat.com/2452-pembatal-pembatal-wudhu-dalam-madzhab-syafiiyah-matan-abi-syuja.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Belajarsholat.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 May 2023 04:33:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Thaharah]]></category>
		<category><![CDATA[pembatal wudhu]]></category>
		<category><![CDATA[wudhu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=2452</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pembatal-Pembatal Wudhu dalam Madzhab Syafi&#8217;iyah &#8211; Matan Abi Syuja Bismillah, pembaca belajarsholat.com kali ini kita akan membahas pembatal wudhu dalam madzhab Imam Syafi&#8217;i yang kami ringkas dari kitab At-Tadzhib Fi Matnil Ghoyah Wat Taqrib (Syarah Matan Abi Syuja&#8217;) (فصل) والذي ينقض الوضوء ستة أشياء ما خرج من السبيلين والنوم على غير هيئة المتمكن وزوال العقل [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/2452-pembatal-pembatal-wudhu-dalam-madzhab-syafiiyah-matan-abi-syuja.html">Pembatal-Pembatal Wudhu dalam Madzhab Syafi’iyah – Matan Abi Syuja</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pembatal-Pembatal Wudhu dalam Madzhab Syafi&#8217;iyah &#8211; Matan Abi Syuja</strong></p>
<p>Bismillah, pembaca belajarsholat.com kali ini kita akan membahas pembatal wudhu dalam madzhab Imam Syafi&#8217;i yang kami ringkas dari kitab At-Tadzhib Fi Matnil Ghoyah Wat Taqrib (Syarah Matan Abi Syuja&#8217;)</p>
<p class="arab">(فصل) والذي ينقض الوضوء ستة أشياء ما خرج من السبيلين والنوم على غير هيئة المتمكن وزوال العقل بسكر أو مرض ولمس الرجل المرأة الأجنبية من غير حائل ومس فرج الآدمي بباطن الكف ومس حلقة دبره على الجديد</p>
<p><strong>Pasal: Yang membatalkan wudhu ada enam, yaitu:</strong></p>
<ol>
<li>Keluarnya sesuatu dari dua lubang.</li>
<li>Tidur nyenyak yang tidak tegak dan mutamakkin (pantat menempel di tanah)</li>
<li>Hilangnya akal karena mabuk atau sakit.</li>
<li>Laki-laki yang menyentuh kulit wanita yang bukan mahrom tanpa penghalang.</li>
<li>Dan menyentuh kemaluan manusia dengan telapak tangan.</li>
<li>Menyentuh lubang dubur (qaul jadid imam Asy-Syafi&#8217;i rahimahullah)</li>
</ol>
<h3><strong>Penjelasan</strong></h3>
<p><strong>1. Keluarnya sesuatu dari dua lubang.</strong></p>
<p>Contoh: Buang air besar, buang air kecil. kentut</p>
<p>Dalilnya,</p>
<p class="arab">وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَٱطَّهَّرُوا۟ ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ ٱلْغَآئِطِ أَوْ لَٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءً فَتَيَمَّمُوا۟</p>
<p><em>“Dan jika kalian dalam keadaan junub maka bersucilah dan jika kalian dalam keadaan sakit atau buang air atau menyentuh wanita dan kalian tidak mendapatkan air maka bertayammumlah.”</em> (QS. Al-Maidah 6)</p>
<p>Dalam hadis Bukhari (135), Muslim (255) disebutkan dari riwayat Abu Hurairah radhiallahu &#8216;anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,</p>
<p><em>&#8220;Allah tidak menerima sholat diantara kalian apabila berhadas sampai kalian berwudhu.&#8221;</em></p>
<p>Seorang penduduk Hadramaut bertanya kepada Abu Hurairah, &#8220;Apa itu hadats wahai Abu Hurairah?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Keluar angin (kentut) tanpa suara atau ada suaranya.&#8221;</p>
<p>Dan hadis diatas diqiyaskan setiap apa yang keluar dari qubul ataupun dubur, walaupun benda itu bersih.</p>
<p><strong>2. Tidur nyenyak yang tidak tegak dan mutamakkin (pantat menempel di tanah).</strong></p>
<p>Dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh &#8216;Ali radhiallahu &#8216;anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda,<br />
<em>&#8220;Pengawas dubur adalah kedua mata, barang siapa yang tertidur <a href="https://belajarsholat.com/2244-ringkasan-urutan-wudhu-yang-benar.html" target="_blank" rel="noopener">maka berwudhulah</a>.&#8221;</em> (HR. Abu Daud 203)</p>
<p>Adapun tidur seseorang yang duduk mutamakkin (tegak dan pantatnya tidak menempel di tanah) maka tidak membatalkan wudhu, berdasar hadis dari Anas bin Malik Radhiallahu &#8216;anhu,</p>
<p class="arab">أن الصَّحابة رضي الله عنهم كانوا ينتظرون العِشاء على عهد رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ حتى تخفِقَ رؤوسهم ثم يُصلُّون ولا يتوضؤون</p>
<p>“Para sahabat radhiallahu &#8216;anhum pernah menunggu sholat isya di masa Rasulullah ﷺ, sampai kepala mereka mematuk-matuk (karena ngantuk). Lalu mereka sholat tanpa mengulang wudhu.” (HR. Muslim)</p>
<p><strong>3. Hilangnya akal karena mabuk atau sakit.</strong></p>
<p>Dalilnya adalah seperti point kedua, bahwasanya orang tertidur menyebabkan hilang akal lebih-lebih orang mabuk maupun orang sakit parah yang mengigau.</p>
<p><strong>4. Laki-laki yang menyentuh kulit wanita yang bukan mahrom tanpa penghalang.</strong></p>
<p>Dalam hasyiyah al bujairimi,</p>
<p class="arab">..والرابع من نواقض الوضوء لمــــس الرجل ببشرته المرأة الأجنبية أى بشرتها من غير حائل. &#8230;</p>
<p>Keempat. Diantara yang membatalkan wudhu adalah bersentuhan kulit laki-laki (dewasa) dengan kulit perempuan (dewasa) (yang bukan mahrom) tanpa ada penghalang.</p>
<p>Dalam ayat thaharah disebutkan</p>
<p class="arab">أَوْ لَٰٓمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ</p>
<p><em>&#8220;&#8230;atau menyentuh wanita&#8221;</em> (QS. Al-Maidah: 6)</p>
<p><strong>5. Dan menyentuh kemaluan manusia dengan telapak tangan.</strong></p>
<p>Menyentuh kemaluan baik kemaluan sendiri maupun orang lain dengan telapak tangan membatalkan wudhu. Dalilnya berdasarkan hadis shahih riwayat At-Tirmizi (82) dari Bisrah binti Shafwan radhiallahu &#8216;anha, Nabi ﷺ bersabda,</p>
<p><em>&#8220;Barang siapa yang memegang kemaluannya maka janganlah sholat sebelum dia berwudhu terlebih dahulu.&#8221;</em></p>
<p>Dalam riwayat An-Nasai 100/1</p>
<p><em>&#8220;Berwudhulah jika kalian memegang kemaluan.&#8221;</em></p>
<p><strong>6. Menyentuh lubang dubur.</strong></p>
<p>Dan yang terakhir adalah menyentuh lingkaran / Lubang dubur menyebabkan batalnya wudhu.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lam</em></p>The post <a href="https://belajarsholat.com/2452-pembatal-pembatal-wudhu-dalam-madzhab-syafiiyah-matan-abi-syuja.html">Pembatal-Pembatal Wudhu dalam Madzhab Syafi’iyah – Matan Abi Syuja</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Adab-Adab Buang Hajat Dalam Matan Abu Syuja&#8217;</title>
		<link>https://belajarsholat.com/2332-adab-adab-buang-hajat-dalam-matan-abu-syuja.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Belajarsholat.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Mar 2023 01:00:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Thaharah]]></category>
		<category><![CDATA[ada masuk kamar mandi]]></category>
		<category><![CDATA[adab buang hajat]]></category>
		<category><![CDATA[adab masuk wc]]></category>
		<category><![CDATA[buang air besar]]></category>
		<category><![CDATA[doa keluar kamar mandi]]></category>
		<category><![CDATA[doa masuk kamar mandi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=2332</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ada-Adab Buang Hajat Dalam Matan Abu Syuja&#8217; Dalam kitab matan Abu Syuja&#8217; disebutkan adab buang hajat sebagai berikut: Tidak boleh menghadap dan membelakangi kiblat ketika berada di tempat terbuka. (1) Tidak boleh buang air kecil dan besar di air menggenang.(2) Dan (tidak boleh buang hajat) dibawah pohon yang berbuah. (3) Dan (tidak boleh buang hajat) [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/2332-adab-adab-buang-hajat-dalam-matan-abu-syuja.html">Adab-Adab Buang Hajat Dalam Matan Abu Syuja’</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Ada-Adab Buang Hajat Dalam Matan Abu Syuja&#8217;</strong></h2>
<p>Dalam kitab matan Abu Syuja&#8217; disebutkan adab buang hajat sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Tidak boleh menghadap dan membelakangi kiblat ketika berada di tempat terbuka. (1)</li>
<li>Tidak boleh buang air kecil dan besar di air menggenang.(2)</li>
<li>Dan (tidak boleh buang hajat) dibawah pohon yang berbuah. (3)</li>
<li>Dan (tidak boleh buang hajat) di jalan raya.</li>
<li>Dan (tidak boleh buang hajat) di tempat berteduh.</li>
<li>Dan (tidak boleh buang hajat) lubang.</li>
<li>Dan tidak boleh berbicara (yang tidak perlu) saat buang hajat.</li>
<li>Tidak boleh menghadap dan membelakangi matahari dan bulan.</li>
</ol>
<figure id="attachment_2334" aria-describedby="caption-attachment-2334" style="width: 687px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-image-2334" src="https://belajarsholat.com/wp-content/uploads/2023/03/adab-membuang-hajat.png" alt="adab membuang hajat" width="687" height="248" srcset="https://belajarsholat.com/wp-content/uploads/2023/03/adab-membuang-hajat.png 687w, https://belajarsholat.com/wp-content/uploads/2023/03/adab-membuang-hajat-300x108.png 300w" sizes="(max-width: 687px) 100vw, 687px" /><figcaption id="caption-attachment-2334" class="wp-caption-text">Matan Abi Syuja&#8217;- Bab Isntinja&#8217;</figcaption></figure>
<p><strong>Keterangan tambahan:</strong></p>
<p>1. <a href="https://belajarsholat.com/category/thaharah" target="_blank" rel="noopener">Dilarang menghadap dan membelakangi</a> kiblat jika tidak ada penutup. Dalinya riwayat dari Abu Ayyub Al-Anshori radhiallahu &#8216;anhu</p>
<p class="arab">إذَا أتَيْتُمُ الغَائِطَ فلا تَسْتَقْبِلُوا القِبْلَةَ، ولَا تَسْتَدْبِرُوهَا ولَكِنْ شَرِّقُوا أوْ غَرِّبُوا قالَ أبو أيُّوبَ: فَقَدِمْنَا الشَّأْمَ فَوَجَدْنَا مَرَاحِيضَ بُنِيَتْ قِبَلَ القِبْلَةِ فَنَنْحَرِفُ، ونَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى</p>
<p>Apabilah kalian buang air maka jangalah menghadap ke kiblat, dan juga jangan membelakanginya. Akan tetapi hadapkan ke timur atau ke barat. Kemudian Abu Ayyub berkata, &#8220;Kami dahulu di negeri Syam, kami dapati tempat buang air menghadap kiblat dan kami rubah posisinya dan jami memohon ampun kepada Allah Ta&#8217;ala. (HR. Bukhari 394)</p>
<p>Para ulama&#8217; menghukumi haramnya buang hajat menghadap kiblat tatkala alam terbuka semisal padang pasir atau tempat-tempat yang tidak ada penutupnya. Adapun di dalam ruangan maka diperbolehkan sebagaimana hadis dari Bukhari 147, Muslim 266 dari Ibnu Umar Radhiallahu &#8216;anhuma,</p>
<p>&#8220;Saya sedang menaiki diatas atap rumah Hafshoh (kakaknya Ibnu Umar) karena suatu hajat, maka aku melihat nabi baru selesai buat hajat dan beliau membelakangi kiblat dan menghadap ke Syam.&#8221;</p>
<p>2. Dilarang buang hajat di air menggenang. Dalilnya, dari Abu Hurairah radhiallahu &#8216;annhu, Nabi ﷺ bersabda,</p>
<p class="arab">لا يَبُولَنَّ أحَدُكُمْ في المَاءِ الدَّائِمِ الذي لا يَجْرِي، ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ</p>
<p>Janganlah kalian buang air kecil di air yang menggenang dan tidak mengalir kemudian mandi didalamnya. (HR. Bukhari 239)</p>
<p>3. Dilarang buang hajat dibawah pohon berbuah dan air mengalir. Dari Abdullah bin Umar radhiallahu &#8216;anhuma</p>
<p class="arab">نَهى النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أنْ يتخلَّى الرَّجُلُ تحتَ شَجَرةٍ مُثمِرَةٍ، ونَهى أنْ يتخلَّى على ضَفَّةِ نَهرٍ جَارٍ</p>
<p>Rasulullah ﷺ melarang seseorang buang hajat di bawah pohon berbuah dan beliau melarang buang air besar di pinggir sungai yang mengalir.&#8221; (Syarah Ibnu Majah Li Mughulthaiy, Bukhari mengatakan hadis ini munkar dan matruk, Mu&#8217;jam Al-Ausath Thabrani, Status Hadis Dhaif Jiddan)</p>
<p>4. Dilarang buang hajat di jalan raya dan tempat berteduh, hadis Abu Hurairah disebutkan bahwa:</p>
<p class="arab">اتَّقُوا اللَّعَّانَيْنِ قَالُوا وَمَا اللَّعَّانَانِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ فِي ظِلِّهِمْ. (رواه مسلم)</p>
<p>“Jauhilah kalian dari dua laknat” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa La’anini itu?” Beliau menjawab: “Orang yang buang hajat di jalan manusia atau di tempat berteduhnya mereka.” (HR. Muslim 397), Ahmad  8636, at-Tirmidzi 16, dan Abu Dawud 25)</p>
<p>5. Dan tidak boleh berbicara (yang tidak perlu) saat buang hajat. Dari Abu Sa&#8217;id Al-Khudry radhiallahu &#8216;anhu, beliau mendengar bahwa Nabi ﷺ bersabda,</p>
<p class="arab">لا يَخرُجُ الرَّجُلانِ يضرِبانِ الغائطَ كاشِفَينِ عن عورتِهما يتحدَّثانِ ، فإنَّ اللَّهَ تبارك وتعالى يمقُتُ على ذلِكَ</p>
<p>Janganlah dua orang laki-laki saat buang hajat saling menampakan auratnya dan saling berbicara. Sesungguhnya Allah &#8216;azza wa jalla murka atas perbuatan tersebut. (HR. Abu Daud)</p>
<p class="arab">عَنْ الْمُهَاجِرِ بْنِ قُنْفُذٍ أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَبُولُ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ حَتَّى تَوَضَّأَ ثُمَّ اعْتَذَرَ إِلَيْهِ فَقَالَ إِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا عَلَى طُهْرٍ أَوْ قَالَ عَلَى طَهَارَةٍ</p>
<p>Dari Al Muhajir bin Qunfudz Bahwasanya dia pernah menemui Nabi ﷺ ketika beliau sedang buang air kecil, lalu dia mengucapkan salam kepada Nabi, namun beliau tidak menjawab salamnya hingga berwudhu, kemudian beliau meminta maaf seraya bersabda: &#8220;Sesungguhnya aku tidak suka menyebut Nama Allah Ta&#8217;ala kecuali dalam keadaan suci.&#8221; [Abu Daud]</p>
<p>6. Disunnahkan bagi yang keluar masuk kamar mandi untuk berdoa.</p>
<p>Doa masuk kamar mandi,</p>
<p class="arab">اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الخُبُثِ وَالخَبَائِثِ</p>
<p><em>Allaahumma innii a’uudzu bika minal khubutsi wal khobaa-its.</em></p>
<p>“Dengan nama Allah. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan dan jin.” (HR. Bukhori no. 142 dan Muslim no. 375)</p>
<p>Doa keluar kamar mandi,</p>
<p class="arab">غُفْرَانَكَ</p>
<p>Ghufroonak.</p>
<p>“Aku minta ampun kepadaMu.” (HR. Ahmad no. 25220 dan dikatakan oleh Syu’aib Al-Arnauth bahwa sanadnya shohih dengan syarat Bukhori dan Muslim)</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lam.</em></p>The post <a href="https://belajarsholat.com/2332-adab-adab-buang-hajat-dalam-matan-abu-syuja.html">Adab-Adab Buang Hajat Dalam Matan Abu Syuja’</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hukum dan Cara Istinja&#8217; &#8211; Bersuci Setelah Buang Air Besar dan Kecil</title>
		<link>https://belajarsholat.com/2321-hukum-dan-cara-istinja-bersuci-setelah-buang-air-besar-dan-kecil.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Belajarsholat.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Mar 2023 07:17:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Thaharah]]></category>
		<category><![CDATA[cara istinja']]></category>
		<category><![CDATA[istinja']]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=2321</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hukum dan Cara Istinja&#8217; BelajarSholat.com &#8211; Istinja&#8217; hukumnya wajib setelah buang air kecil dan buang air besar. Cara istinja&#8217;: Lebih utama menggunakan batu[1] kemudian diikuti dengan air.[2] Boleh menggunakan salah satu diantara: Air atau tiga buah batu [3]. Jika memilih salah satu, antara batu atau air, maka yang lebih utama menggunakan air [4]. Keterangan: 1. [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/2321-hukum-dan-cara-istinja-bersuci-setelah-buang-air-besar-dan-kecil.html">Hukum dan Cara Istinja’ – Bersuci Setelah Buang Air Besar dan Kecil</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hukum dan Cara Istinja&#8217;</strong></p>
<p><a href="https://belajarsholat.com/" target="_blank" rel="noopener"><strong>BelajarSholat.com</strong></a> &#8211; Istinja&#8217; hukumnya wajib setelah buang air kecil dan buang air besar.</p>
<p><strong>Cara istinja&#8217;:</strong></p>
<ol>
<li>Lebih utama menggunakan batu[1] kemudian diikuti dengan air.[2]</li>
<li>Boleh menggunakan salah satu diantara: Air atau tiga buah batu [3].</li>
<li>Jika memilih salah satu, antara batu atau air, maka yang lebih utama menggunakan air [4].</li>
</ol>
<figure id="attachment_2322" aria-describedby="caption-attachment-2322" style="width: 731px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="wp-image-2322 size-full" src="https://belajarsholat.com/wp-content/uploads/2023/03/hukum-dan-cara-istinja.png" alt="hukum dan cara istinja'" width="731" height="252" srcset="https://belajarsholat.com/wp-content/uploads/2023/03/hukum-dan-cara-istinja.png 731w, https://belajarsholat.com/wp-content/uploads/2023/03/hukum-dan-cara-istinja-300x103.png 300w" sizes="(max-width: 731px) 100vw, 731px" /><figcaption id="caption-attachment-2322" class="wp-caption-text">Matan Abi Syuja&#8217; &#8211; Bab Istinja&#8217;</figcaption></figure>
<p><strong>Keterangan:</strong></p>
<p>1. Media batu untuk beristinja&#8217; dinamakan istijmar dalam hal ini diqiyaskan dan bisa digunakan benda sejenis yang kering lagi suci seperti: Kertas, Tisu, Kayu Kering dll. Dan tidak diperbolehkan benda tersebut dalam kondisi basah atau mengandung air.</p>
<p>2. Dalam Syarah Matan Abi Syuja&#8217;, Syaikh Muhammad Hasan Abdul Ghafar menyebutkan istinjak mempunyai 3 tingkatan.</p>
<ol>
<li>Tingkatan tertinggi, beristinjak dengan batu lalu dilanjutkan dengan air.</li>
<li>Tingkatan medium, beristinjak dengan air saja.</li>
<li>Tingkatan rendah, beristinjak dengan batu.</li>
</ol>
<p>Sungguh menarik untuk tingkatan pertama, karena berdasar sebuah dalil kisahnya Ahlul Quba&#8217; yang mereka mempunyai kebiasan setelah buang hajat menggunakan batu terlebih dahulu kemudian dilanjut dengan air. Sehingga Allah menurunkan Ayat</p>
<p class="arab">{إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ}</p>
<p>Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat lagi mencintai orang-orang yang bersuci. (QS. Al-baqarah 222)</p>
<p>Kita melihat bahwa element batu ini mampu menghilangkan najis &#8216;aini (warna, bau dan rasa), kemudian saat diguyur dengan air maka sempurnalah dan hilanglah bekas-bekas najis tersebut.</p>
<p>3. Dalilnya hadis dari Ibunda &#8216;Aisyah radhiallahu &#8216;anha, Nabi ﷺ bersabda,</p>
<p class="arab">إذا ذهب أحدُكم إلى الغائطِ فليذهبْ معه بثلاثة أحجارٍ يَستطيب بهنَّ؛ فإنَّها تُجزئ عنه</p>
<p><em>Apabila diantara kali pergi untuk buang air besar, maka hendaklah dia membawa tiga batu untuk beristinja, sesungguhnya itu mencukupinya.</em> (HR. Abu Dawud)</p>
<p>4. Dari Anas bin Malik Radhiallahu &#8216;anhu</p>
<p class="arab">كانَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ يَدْخُلُ الخَلاءَ فأحْمِلُ أنا، وغُلامٌ نَحْوِي، إداوَةً مِن ماءٍ، وعَنَزَةً فَيَسْتَنْجِي بالماءِ</p>
<p><em>Pernah Rasulullah ﷺ memasuki toilet lalu aku dan teman sebayaku membawakan bejana berisi air dan sebatang tongkat. Kemudian Beliau ﷺ bersuci dengan air tersebut.</em> (Muttafaqun &#8216;Alaih)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lam.</em></p>The post <a href="https://belajarsholat.com/2321-hukum-dan-cara-istinja-bersuci-setelah-buang-air-besar-dan-kecil.html">Hukum dan Cara Istinja’ – Bersuci Setelah Buang Air Besar dan Kecil</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Syarat Sah Wudhu Ada 10 Dalam Madzhab Imam Syafi&#8217;i</title>
		<link>https://belajarsholat.com/2313-syarat-sah-wudhu-ada-10-dalam-madzhab-imam-syafii.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Belajarsholat.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Mar 2023 00:37:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Thaharah]]></category>
		<category><![CDATA[syarat sah wudhu]]></category>
		<category><![CDATA[wudhu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=2313</guid>

					<description><![CDATA[<p>Syarat Sah Wudhu Ada 10 Dalam Madzhab Imam Syafi&#8217;i Syarat sah wudhu dalam kitab Safinatun Najah: Islam. Tamyiz. Suci dari haidh dan nifas. Terbebas dari sesuatu yang menghalangi air ke kulit. Dan tidak menjadikan salah satu anggota wudhu merubah kondisi air. Mengetahui fardhunya wudhu. Tidak boleh meyakini salah satu fardhu wudhu hukumnya sunnah. Airnya harus [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/2313-syarat-sah-wudhu-ada-10-dalam-madzhab-imam-syafii.html">Syarat Sah Wudhu Ada 10 Dalam Madzhab Imam Syafi’i</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Syarat Sah Wudhu Ada 10 Dalam Madzhab Imam Syafi&#8217;i</strong></h2>
<p>Syarat sah wudhu dalam kitab Safinatun Najah:</p>
<ol>
<li>Islam.</li>
<li>Tamyiz.</li>
<li>Suci dari haidh dan nifas.</li>
<li>Terbebas dari sesuatu yang menghalangi air ke kulit.</li>
<li>Dan tidak menjadikan salah satu anggota wudhu merubah kondisi air.</li>
<li>Mengetahui fardhunya wudhu.</li>
<li>Tidak boleh meyakini salah satu fardhu wudhu hukumnya sunnah.</li>
<li>Airnya harus suci.</li>
<li>Telah masuk waktu sholat.</li>
<li>Muwaalah (berkesinambungan) bagi yang berhadats terus menerus.</li>
</ol>
<h3><strong>Berikut ini lembaran matan kitab Safinatun Najah</strong></h3>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-2314" src="https://belajarsholat.com/wp-content/uploads/2023/03/syarat-sah-wudhu-matan-safinatun-najah.png" alt="syarat sah wudhu matan safinatun najah" width="645" height="642" srcset="https://belajarsholat.com/wp-content/uploads/2023/03/syarat-sah-wudhu-matan-safinatun-najah.png 645w, https://belajarsholat.com/wp-content/uploads/2023/03/syarat-sah-wudhu-matan-safinatun-najah-300x300.png 300w, https://belajarsholat.com/wp-content/uploads/2023/03/syarat-sah-wudhu-matan-safinatun-najah-150x150.png 150w, https://belajarsholat.com/wp-content/uploads/2023/03/syarat-sah-wudhu-matan-safinatun-najah-75x75.png 75w" sizes="(max-width: 645px) 100vw, 645px" /></p>
<h4>Syarah ringkas:</h4>
<p>1. Islam sebagai pintu amalan seseorang diterima oleh Allah Ta&#8217;ala. Orang kafir dan musyrik meskipun dia berwudhu sebagus mungkin, wudhunya tetap tidak sah dan tidak akan diterima oleh Allah Ta&#8217;ala</p>
<p>2. Tamyiz atau mumayyiz adalah orang bisa membedakan baik dan buruk yang batasannya sudah mencapai baligh. (<a href="https://belajarsholat.com/2263-tanda-tanda-baligh-kitab-safinatun-najah.html" target="_blank" rel="noopener"><strong>baca disini tanda baligh</strong></a>). Anak kecil, orang gila wudhunya tidak sah. Namun mereka tetap diajari tatacara wudhu yang baik dan benar untuk pembelajaran.</p>
<p>3. Suci dari haidh dan nifas.</p>
<p>4. Terbebas dari sesuatu yang menghalangi air ke kulit. Seperti tato, cat, kutek, getah, minyak dan sejenisnya. Maka sebelum berwudhu hendaknya dihilangkan terlebih dahulu penghalangnya.</p>
<p>5. Dan tidak menjadikan sesuatu di salah satu anggota wudhu merubah kondisi air. Seperti barang yang mudah luntur saat dipakai badan yang bisa menyebabkan berubahnya air. Contohnya adalah bedak, cat basah, kotoran yang menempel di badan. Maka sebelum berwudhu hendaknya dihilangkan terlebih dahulu penghalangnya.</p>
<p>6. Mengetahui fardhu-fardhunya wudhu. Seseorang harus paham fikih wudhu mulai dari sifat air, kaifiyah, fardhu-fardhunya, sunnah-sunnahnya. Seseorang yang tidak paham fikih wudhu berpotensi tidak bisa menetapkan niat dalam beramal, karena niat bagian dari rukun wudhu. Maka orang yg tidak bisa menetapi niat tidak sah wudhunya.</p>
<p>7. Tidak boleh meyakini salah satu fardhu wudhu hukumnya sunnah. Artinya larangan menyepelekan fardhu-fardhu wudhu.</p>
<p>8. Airnya harus suci. Hendaknya airnya harus suci mensucikan dan sesuai ketentuan hukum fikih. Silahkan baca artikel kami: <a href="https://belajarsholat.com/1892-macam-macam-jenis-air.html" target="_blank" rel="noopener"><strong>Macam-macam Air</strong></a></p>
<p>9. Telah masuk waktu sholat.</p>
<p>10. Muwaalah (berkesinambungan) bagi yang berhadats terus menerus. Muwaalah ini untuk seseorang yang keluar hadats terus-menerus seperti wanita yang istikhadhah, keluar darah/nanah yang tidak bisa berhenti, atau orang yang kena beser tidak bisa mengendalikan kencing dst.</p>
<p><strong>Referensi:</strong><br />
&#8211; Fiqh Muyassar<br />
&#8211; Kaasyifatus Sajaa Syarh Safinatun Najaa, Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lam.</em></p>The post <a href="https://belajarsholat.com/2313-syarat-sah-wudhu-ada-10-dalam-madzhab-imam-syafii.html">Syarat Sah Wudhu Ada 10 Dalam Madzhab Imam Syafi’i</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
