<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muhammad Nur Faqih, S.Ag. - Belajar Cara Sholat Lengkap</title>
	<atom:link href="https://belajarsholat.com/author/faqih/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://belajarsholat.com</link>
	<description>Tuntunan Belajar Bacaan Shalat dan Gerakannya dari Jadwal Sholat Wajib Lima Waktu, Sholat Sunnah, Sholat Subuh, Shalat Tahajud, Sholat Dhuha</description>
	<lastBuildDate>Tue, 23 Sep 2025 22:58:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://belajarsholat.com/wp-content/uploads/2022/01/icon-75x75.png</url>
	<title>Muhammad Nur Faqih, S.Ag. - Belajar Cara Sholat Lengkap</title>
	<link>https://belajarsholat.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Hal-Hal Yang Dianggap Membatalkan Sholat, Ternyata Tidak</title>
		<link>https://belajarsholat.com/4081-hal-hal-yang-dianggap-membatalkan-sholat-ternyata-tidak.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Nur Faqih, S.Ag.]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Sep 2025 22:53:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[bersin saat shalat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=4081</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hal-Hal Yang Dianggap Membatalkan Sholat, Ternyata Tidak Di antara bentuk kepatuhan kita kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ adalah dengan mempelajari hal-hal yang membatalkan shalat. Hal ini sebagai wujud menaati sabda beliau ﷺ: وصَلُّوا كما رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي “Dan sholatlah kalian sebagaimana kalian melihatku sholat.” (HR Bukhari 6008) Para ulama fikih sejak dahulu telah menulis banyak karya dalam kitab-kitab mereka [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/4081-hal-hal-yang-dianggap-membatalkan-sholat-ternyata-tidak.html">Hal-Hal Yang Dianggap Membatalkan Sholat, Ternyata Tidak</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Hal-Hal Yang Dianggap Membatalkan Sholat, Ternyata Tidak</strong></h2>
<p>Di antara bentuk kepatuhan kita kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ adalah dengan <strong>mempelajari hal-hal yang membatalkan shalat</strong>. Hal ini sebagai wujud menaati sabda beliau ﷺ:</p>
<p class="arab">وصَلُّوا كما رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي</p>
<p>“Dan sholatlah kalian sebagaimana kalian melihatku sholat.” (HR Bukhari 6008)</p>
<p>Para ulama fikih sejak dahulu telah menulis banyak karya dalam kitab-kitab mereka tentang perkara ini. Dalam beberapa hal mereka sepakat, dan dalam sebagian lainnya mereka berbeda pendapat. Namun ada juga beberapa hal yang dikira banyak orang sebagai pembatal shalat, padahal <strong>tidak membatalkan shalat</strong>. Di antaranya:</p>
<h3><strong>Bergerak Karena Ada Perlu</strong></h3>
<p>Dalam beberapa kondisi, beberapa orang sering mempertanyakan keabsahan sholat orang yang membawa anak kecil. Pasalnya, mereka melihat orang tersebut banyak bergerak untuk menaik-turunkan anaknya. Padahal gerakan yang demikian tidaklah membatalkan sholat mereka.</p>
<p>Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Abu Qatadah al Anshari <em>radhiyallahu ‘anhu</em>:</p>
<p class="arab">أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ كانَ يصلِّي وَهوَ حاملٌ أُمَامَةَ بنتَ زينبَ بنتِ رسولِ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ فإذا سجدَ وضعَها وإذا قامَ حملَها</p>
<p>“Bahwasanya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> pernah sholat sembari menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em>. Ketika beliau sujud, beliau meletakkannya. Dan ketika berdiri, beliau kembali menggendongnya.” (HR Abu Dawud 917)</p>
<p>Oleh karena itu, para ulama fikih memberikan batasan gerakan yang bisa membatalkan sholat, yaitu:</p>
<ul>
<li>Gerakan yang terus menerus;</li>
<li>Tanpa ada kebutuhan;</li>
<li>Bukan gerakan sederhana, melainkan gerakan yang banyak.</li>
</ul>
<p>Adapun gerakan sekedarnya dan memang diperlukan, seperti menggaruk bagian tubuh yang gatal agar tenang ketika sholat, meletakkan anak kecil yang tengah digendong, atau menyingirkan alas sholat yang tidak sengaja terkena najis tidaklah membatalkan sholat.</p>
<h3><strong>Bertahmid Saat Bersin di Dalam Sholat</strong></h3>
<p>Tidak banyak yang mengetahui bahwa mengucapkan <strong>tahmid ketika bersin di dalam shalat tidak membatalkan shalat</strong>. Bahkan hal tersebut <strong>disyariatkan</strong>, baik di dalam maupun di luar sholat.</p>
<p>Hal ini berdasarkan hadis dari Rifa’ah bin Rafi’ <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, beliau berkata:</p>
<p class="arab">صلَّيتُ خلْفَ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فعطِسْتُ فقلتُ الحمدُ للهِ حمدًا كثيرًا طيِّبًا <a href="https://dorar.net/ghreeb/6508">مُبارَكًا فيه </a>مُباركًا عليِه كما يُحِبُّ ربُّنا ويرْضى فلمَّا صلَّى رسولُ اللِه صلَّى اللهُ عليِه وسلَّمَ انْصرفَ فقال منِ المُتكلِّمُ في الصلاةِ. فلم يتكلَّم أحدٌ، ثم قالَها الثانيةَ : منِ المُتكلِّمُ في الصلاةِ. فلم يتكلَّم أحدٌ، ثم قالها الثالثةُ : منِ المُتكلِّمُ في الصلاةِ. فقال رِفاعةُ بنُ رافِعِ ابنِ عَفْراءَ : أنَا يا رسولَ اللهِ قال : كيف قُلتَ ؟ قال قُلتُ : الحمدُ للهِ حمدًا كثيرًا طيِّبًا مُباركًا فيِه، مُباركًا عليِه كما يُحِبُّ ربُّنا ويرْضى. فقال النبيُّ صلَّى اللهُ عليِه وسلَّمَ ( والَّذي نفْسِي بيدِهِ، لقد ابْتَدَرَها بِضعةٌ وثلاثونَ مَلَكًا أيُّهم يَصْعدُ بِها</p>
<p>“Aku shalat di belakang Rasulullah ﷺ, lalu aku bersin dan aku berkata: <strong><em>Alhamdulillah, Hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih Kamaa yuhibbu Rabbuna wa yardhaa</em></strong><em> (Segala puji bagi Allah, dengan pujian yang banyak, baik, penuh berkah di dalamnya dan penuh berkah atasnya, sebagaimana yang dicintai dan diridai oleh Rabb kami)</em>. Ketika Rasulullah ﷺ selesai shalat, beliau menoleh lalu bersabda: <em>‘Siapa yang tadi berbicara dalam shalat?’</em></p>
<p>Tidak seorang pun menjawab.</p>
<p>Beliau ulangi untuk kedua kalinya: <em>‘Siapa yang tadi berbicara dalam shalat?’.</em></p>
<p>Tidak seorang pun menjawab. Beliau ulangi untuk ketiga kalinya: <em>‘Siapa yang tadi berbicara dalam shalat?’</em></p>
<p>Maka Rifa‘ah bin Rafi‘ bin ‘Afra berkata: <em>‘Saya, wahai Rasulullah.’</em></p>
<p>Beliau bertanya: <em>‘Bagaimana yang engkau ucapkan?’</em></p>
<p>Ia menjawab: <em>‘Saya berkata: Segala puji bagi Allah, dengan pujian yang banyak, baik, penuh berkah di dalamnya dan penuh berkah atasnya, sebagaimana yang dicintai dan diridai oleh Rabb kami.’</em></p>
<p>Maka Rasulullah ﷺ bersabda: <em>‘Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh ada lebih dari tiga puluh malaikat yang berebut untuk membawa (ucapan itu) naik (kepada Allah).’</em>” (HR At Tirmidzi 404)</p>
<p>Berdasarkan hadis ini para ulama berpendapat bahwa bertahmid ketika bersin dalam sholat adalah hal yang dianjurkan. Sebagaimana diungkapkan Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz <em>rahimahullahu </em>dalam fatwanya:</p>
<p class="arab">نعم يشرع له أن يحمد الله؛ لأنه ثبت في الحديث الصحيح أن النبي ﷺ سمع من يحمد الله بعد عطاسه في الصلاة فلم ينكر عليه. بل قال: لقد رأيت كذا وكذا من الملائكة كلهم يبتدرونها أيهم يكتبها</p>
<p><a href="https://binbaz.org.sa/fatwas/20759/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D8%A7%D9%84%D8%AD%D9%85%D8%AF-%D8%A8%D8%B9%D8%AF-%D8%A7%D9%84%D8%B9%D8%B7%D8%A7%D8%B3-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%84%D8%A7%D8%A9#footnote-1"><sup>[1]</sup></a> ولأن حمد الله من جنس ذكر الصلاة  وليس بمناف لها<a href="https://binbaz.org.sa/fatwas/20759/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D8%A7%D9%84%D8%AD%D9%85%D8%AF-%D8%A8%D8%B9%D8%AF-%D8%A7%D9%84%D8%B9%D8%B7%D8%A7%D8%B3-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%84%D8%A7%D8%A9#footnote-2"><sup>[</sup></a></p>
<p>“Betul dianjurkan bagi yang bersin bertahmid. Hal ini berdasarkan hadis dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> yang menyatakan bahwa beliau tidak mengingkari seorang yang bersin kemudian bertahmid dalam sholatnya. Karena tahmid di antara zikir dalam sholat. Bahkan beliau mengatakan: <em>Aku menyaksikan malaikat begitu banyak saling berebut siapa di antara mereka yang akan mencatatnya</em>. Dan tahmid termasuk zikir sholat dan tidak bertentangan (menjadikan batal -pent).” (<a href="https://binbaz.org.sa/fatwas/20759/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D8%A7%D9%84%D8%AD%D9%85%D8%AF-%D8%A8%D8%B9%D8%AF-%D8%A7%D9%84%D8%B9%D8%B7%D8%A7%D8%B3-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%84%D8%A7%D8%A9">https://binbaz.org.sa/fatwas/20759/حكم-الحمد-بعد-العطاس-في-الصلاة</a>)</p>
<p>Dan masih banyak hal lain yang mungkin dipahami sebagian kita termasuk di antara pembatal sholat, tetapi pada kenyataannya tidak membatalkan sholat.</p>
<p><em>Wallahu a’lam.</em></p>
<p><strong>Ustadz Muhammad Nur Faqih, S.Ag.</strong></p>The post <a href="https://belajarsholat.com/4081-hal-hal-yang-dianggap-membatalkan-sholat-ternyata-tidak.html">Hal-Hal Yang Dianggap Membatalkan Sholat, Ternyata Tidak</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hukum Shalat Sambil Gendong Anak</title>
		<link>https://belajarsholat.com/4076-hukum-shalat-sambil-gendong-anak.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Nur Faqih, S.Ag.]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Sep 2025 14:13:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=4076</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sholat Sambil Menggendong Anak Bagi orang tua yang memiliki bayi atau balita, menjalankan ibadah sholat seringkali menjadi tantangan tersendiri. Tidak jarang seorang ibu atau ayah menghadapi situasi ketika anak rewel tepat di waktu sholat. Di satu sisi, sholat adalah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Namun di sisi lain, meninggalkan anak dalam kondisi menangis juga bukanlah [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/4076-hukum-shalat-sambil-gendong-anak.html">Hukum Shalat Sambil Gendong Anak</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Sholat Sambil Menggendong Anak</strong></h2>
<p>Bagi orang tua yang memiliki bayi atau balita, menjalankan ibadah sholat seringkali menjadi tantangan tersendiri. Tidak jarang seorang ibu atau ayah menghadapi situasi ketika anak rewel tepat di waktu sholat. Di satu sisi, sholat adalah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Namun di sisi lain, meninggalkan anak dalam kondisi menangis juga bukanlah pilihan bijak. Dari sinilah muncul pertanyaan yang kerap ditanyakan kaum muslimin: <em>Apakah boleh sholat sambil menggendong anak? Apakah sholatnya tetap sah?</em></p>
<h3><strong>Hukum dan Dalil</strong></h3>
<p>Dalil akan kebolehan menggendong anak ketika sholat adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Qatadah al-Anshari <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata:</p>
<p class="arab">رأيتُ رسولَ اللَّهِ يؤمُّ النَّاسَ وَهوَ حاملٌ أمامةَ بنتَ أبي العاصِ على عاتقِهِ، فإذا رَكَعَ وضعَها، وإذا رفعَ من سُجودِهِ أعادَها</p>
<p>“Aku pernah melihat Nabi ﷺ sholat sambil menggendong Umamah binti Abul Ash di pundaknya. Ketika ruku beliau meletakkan Umamah di bawah. Dan ketika bangkit dari sujud beliau kembali menggendongnya.” (HR Bukhari 516, Muslim 543, dan An Nasai 827. Redaksi hadis di atas adalah versi An Nasai)</p>
<p>Hadis ini menjadi dalil yang sangat jelas bahwa sholat sambil menggendong anak diperbolehkan. Rasulullah ﷺ sebagai teladan utama umat Islam melakukan perbuatan ini di hadapan para sahabat, yang menunjukkan bahwa ibadah tersebut tetap sah dan tidak membatalkan sholat. Bahkan praktik itu, beliau memberikan contoh kepada orang tua yang menghadapi situasi anak kecil ketika waktu sholat tiba. Selain dari implementasi atas kemudahan yang Allah berikan kepada hamba-Nya.</p>
<h3><strong>Bagaimana Dengan Anak Yang Memakai Popok Najis?</strong></h3>
<p>Permasalahan lain yang muncul adalah ketika sang anak masih memakai popok yang najis. Mayoritas ulama berpendapat tidak dibolehkan membawa anak yang sedang buang air meskipun di dalam popoknya. Karena di antara syarat sah sholat adalah memastikan bahwa tubuh, tempat, dan pakaian yang melekat tidak terkena najis.</p>
<p>Ibnu Qudamah <em>rahimahullahu</em> mengatakan:</p>
<p class="arab">لو حمل &#8221; المصلي &#8221; قارورة فيها نجاسة مسدودة , لم تصح صلاته..; لأنه حامل لنجاسة غير معفو عنها في غير معدنها , فأشبه ما لو كانت على بدنه أو ثوبه</p>
<p>“Jika seorang yang tengah sholat membawa botol bertutup rapat berisi najis, maka sholatnya tidak sah. Karena ia sedang membawa najis yang tidak dimaafkan jika berada di luar tempat asalnya (perut -pent). Hal ini serupa kondisinya jika najis tadi berada di tubuh atau pakaiannya.” (Al Mughniy 1/403)</p>
<p>Adapun jika yang bersangkutan tidak mengetahui kondisi tersebut sebelumnya, maka para ulama berbeda pendapat tentang keharusan mengulang sholat atau tidak. Mayoritas ulama berpendapat tidak ada keharusan mengulang sholat. Muhammad bin Shalih al Utsaimin mengatakan:</p>
<p class="arab">فإن صلى وبدنه نجس أي قد أصابته نجاسة لم يغسلها أو ثوبه نجس ، أو بقعته نجسة فصلاته غير صحيحة عند جمهور العلماء ، لكن لو لم يعلم بهذه النجاسة ، أو علم بها ثم نسي أن يغسلها حتى تمت صلاته ، فإن صلاته صحيحة ولا يلزمه أن يعيد ، ودليل ذلك أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى بأصحابه ذات يوم فخلع نعليه ، فخلع الناس نعالهم ، فما انصرف النبي صلى الله عليه وسلم سألهم لماذا خلعوا نعالهم؟ قالوا : رأيناك خلعت نعليك فخلعنا نعالنا ، فقال : ( إن جبريل أتاني فأخبرني أن فيهما خبثاً ) . ولو كانت الصلاة تبطل باستصحاب النجاسة حال الجهل لاستأنف النبي صلى الله عليه وسلم الصلاة .إذن اجتناب النجاسة في البدن ، والثوب ، والبقعة شرط لصحة الصلاة ، لكن إذا لم يتجنب الإنسان النجاسة جاهلاً ، أو ناسياً فإن صلاته صحيحة ، سواء علم بها قبل الصلاة ثم نسي أن يغلسها ، أو لم يعلم بها إلا بعد الصلاة</p>
<p>“Apabila seseorang sholat dalam keadaan badannya terkena najis yang belum ia bersihkan, atau pakaiannya najis, atau tempat sholatnya najis, maka sholatnya tidak sah menurut jumhur (mayoritas) ulama. Namun, jika ia tidak mengetahui adanya najis tersebut, atau ia mengetahuinya tetapi lupa untuk membersihkannya sampai sholatnya selesai, <strong>maka sholatnya tetap sah dan ia tidak wajib mengulanginya</strong>. Dalilnya adalah hadis bahwa Nabi ﷺ suatu hari sholat bersama para sahabatnya. Tiba-tiba beliau melepaskan kedua sandalnya, maka para sahabat pun ikut melepaskan sandal mereka. Setelah selesai sholat, Nabi ﷺ bertanya, “<em>Mengapa kalian melepaskan sandal kalian</em>?” Mereka menjawab, “<em>Kami melihat engkau melepaskan sandalmu, maka kami pun melepaskan sandal kami</em>.” Nabi ﷺ kemudian bersabda: <em>“Sesungguhnya Jibril telah datang kepadaku dan memberitahukan bahwa pada kedua sandalku terdapat kotoran (najis).”</em></p>
<p>Seandainya sholat menjadi batal karena membawa najis dalam keadaan tidak tahu, tentu Nabi ﷺ akan mengulangi sholatnya. Maka jelaslah bahwa menjauhi najis pada badan, pakaian, dan tempat sholat adalah <strong>syarat sah sholat</strong>. Akan tetapi, jika seseorang tidak bisa menghindari najis karena lupa atau tidak tahu, maka sholatnya tetap sah, baik ia baru mengetahui setelah sholat selesai, maupun sebelumnya tahu tapi lupa membersihkannya.” (Majmu Fataawa 12/390)</p>
<h3><strong>Pelajaran Penting Terkait Membawa Anak Dalam Sholat</strong></h3>
<p>Hal lain yang perlu diambil dari penjelasan di atas adalah anak yang sering digendong saat orang tuanya sholat akan terbiasa melihat ibadah sejak kecil. Meski belum memahami, secara tidak langsung tertanam gambaran bahwa sholat adalah aktivitas penting dan utama dalam kehidupan sehari-hari. Ini menjadi salah satu bentuk <em>tarbiyah bil hal</em> (pendidikan dengan contoh nyata). <em>Wallahu a’lam</em></p>
<p><strong>Ustadz Muhammad Nur Faqih, S.Ag.</strong></p>The post <a href="https://belajarsholat.com/4076-hukum-shalat-sambil-gendong-anak.html">Hukum Shalat Sambil Gendong Anak</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Syarat Jadi Imam Shalat! Jangan Sembarangan Pilih Imam</title>
		<link>https://belajarsholat.com/4063-syarat-jadi-imam-shalat-jangan-sembarangan-pilih-imam.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Nur Faqih, S.Ag.]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Aug 2025 07:41:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[imam shalat]]></category>
		<category><![CDATA[syarat imam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=4063</guid>

					<description><![CDATA[<p>Siapa Yang Berhak Menjadi Imam?! Shalat berjamaah adalah salah satu syiar Islam yang agung, dan keberadaan seorang imam merupakan bagian penting dalam menegakkannya. Oleh karena itu, Islam memberikan tuntunan jelas mengenai siapa yang lebih berhak menjadi imam ketika shalat berjamaah. Berdasarkan hadis Rasulullah ﷺ: يَؤُمُّ القَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ، فإنْ كَانُوا في القِرَاءَةِ سَوَاءً، فأعْلَمُهُمْ [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/4063-syarat-jadi-imam-shalat-jangan-sembarangan-pilih-imam.html">Syarat Jadi Imam Shalat! Jangan Sembarangan Pilih Imam</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Siapa Yang Berhak Menjadi Imam?!</strong></h2>
<p>Shalat berjamaah adalah salah satu syiar Islam yang agung, dan keberadaan seorang imam merupakan bagian penting dalam menegakkannya. Oleh karena itu, Islam memberikan tuntunan jelas mengenai siapa yang lebih berhak menjadi imam ketika shalat berjamaah. Berdasarkan hadis Rasulullah ﷺ:</p>
<p class="arab">يَؤُمُّ القَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ، فإنْ كَانُوا في القِرَاءَةِ سَوَاءً، فأعْلَمُهُمْ بالسُّنَّةِ، فإنْ كَانُوا في السُّنَّةِ سَوَاءً، فأقْدَمُهُمْ هِجْرَةً، فإنْ كَانُوا في الهِجْرَةِ سَوَاءً، فأقْدَمُهُمْ سِلْمًا، وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ في سُلْطَانِهِ، وَلَا يَقْعُدْ في بَيْتِهِ علَى تَكْرِمَتِهِ إلَّا بإذْنِهِ</p>
<p>Yang paling berhak menjadi imam suatu kaum adalah yang paling baik bacaan Al-Qur’annya. Jika mereka sama dalam bacaan, maka yang paling mengetahui sunnah. Jika mereka sama dalam sunnah, maka yang paling dahulu berhijrah. Jika mereka sama dalam hijrah, maka yang paling dahulu masuk Islam. Janganlah seseorang mengimami orang lain di dalam wilayah kekuasaannya (otoritasnya), dan jangan pula ia duduk di tempat khususnya di rumahnya, kecuali dengan izinnya.” (HR Muslim no. 673)</p>
<h3><strong>Urutan Kriteria Imam dalam Shalat</strong></h3>
<p>Hadis ini menunjukkan bahwa penunjukan imam bukan perkara sembarangan, melainkan harus memperhatikan kriteria tertentu:</p>
<ol>
<li>Paling baik bacaan Al-Qur’annya;</li>
<li>Jika sama dalam bacaan, maka yang paling memahami sunnah Nabi ﷺ;</li>
<li>Jika sama dalam pemahaman sunnah, maka yang lebih dahulu berhijrah;</li>
<li>Jika sama dalam hijrah, maka yang lebih dahulu masuk Islam;</li>
</ol>
<p>Dengan demikian, shalat berjamaah akan lebih sempurna dan penuh ketenangan (ṭuma’nīnah).</p>
<h3><strong>Perbedaan Pendapat Ulama</strong></h3>
<p>Para ulama memang berbeda pendapat dalam sebagian urutan kriteria tersebut. Misalnya, siapa yang harus didahulukan antara yang paling faqīh (paham agama) atau yang paling baik bacaan Al-Qur’annya?</p>
<p>Pendapat yang lebih tepat adalah mendahulukan yang paling banyak bacaan Al-Qur’annya. Hal ini ditegaskan oleh para ulama, di antaranya Imam an-Nawawi rahimahullāh:</p>
<p class="arab">وقال مالك والشافعي وأصحابهما : الأفقه مقدم على الأقرأ ؛ لأن الذي يحتاج إليه من القراءة مضبوط والذي يحتاج إليه من الفقه غير مضبوط ، وقد يعرض في الصلاة أمر لا يقدر على مراعاة الصواب فيه إلا كامل الفقه قالوا ولهذا قدم النبي صلى الله عليه وسلم أبا بكر رضي الله عنه في الصلاة على الباقين مع أنه نص صلى الله عليه و سلم على أن غيره أقرأ منه ، وأجابوا عن الحديث بأن الأقرأ من الصحابة كان هو الأفقه ، لكن في قوله: &#8221; فإن كانوا في القراءة سواء ، فأعلمهم بالسنَّة &#8221; دليل على تقديم الأقرأ مطلقاً</p>
<p>“Malik dan Asy-Syafi’i serta murid-muridnya berpendapat bahwa yang lebih faqih didahulukan dibandingkan yang paling banyak hafalan. Karena kebutuhan terhadap bacaan terbatas, sementara kebutuhan terhadap fikih shalat tidak terbatas. Dan terkadang ada hal-hal yang terjadi di dalam shalat yang tidak dapat dipahami kecuali oleh orang yang baik pemahamannya. Mereka mengatakan, oleh karena itu Nabi ﷺ memerintahkan Abu Bakr raḍiyallāhu ‘anhu untuk menjadi imam, padahal saat itu ada yang lebih banyak hafalan Al-Qur’annya. Dan ketika menjelaskan hadis di atas, mereka menjawab bahwa yang paling banyak hafalan di kalangan sahabat sudah pasti lebih paham fikih shalat. Akan tetapi dalam hadis disebutkan: ‘Jika sama dalam hal bacaan maka yang paling paham sunnah.’ Hal ini menunjukkan bahwa yang paling banyak bacaan tetap didahulukan secara mutlak.” (Syarh Muslim, 5/177)</p>
<p>Namun, pendapat yang berbeda tetap perlu dipertimbangkan, karena pemahaman terhadap fikih shalat memang hal yang penting. Pada masa sahabat, bacaan Al-Qur’an dan pemahaman fikih shalat adalah dua hal yang berjalan beriringan, berbeda dengan keadaan di masa kini.</p>
<h3><strong>Makna “<em>Aqra’uhum li Kitābillāh</em>”</strong></h3>
<p>Menurut <a href="https://belajarsholat.com/" target="_blank" rel="noopener">para ulama</a>, istilah “aqra’uhum li Kitābillāh” (yang paling baik bacaan Al-Qur’annya) memiliki dua makna:</p>
<p><strong>a. Paling Banyak Hafalan Al-Qur’an</strong></p>
<p>Berdasarkan hadis dari Abdullah bin Umar raḍiyallāhu ‘anhumā:</p>
<p class="arab">لَمَّا قَدِمَ الْمُهَاجِرُونَ الْأَوَّلُونَ الْعُصْبَةَ -مَوْضِعٌ بِقُبَاءٍ &#8211; قَبْلَ مَقْدَمِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ، كَانَ يَؤُمُّهُمْ سَالِمٌ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ ، وَكَانَ أَكْثَرَهُمْ قُرْآنًا</p>
<p>Ketika para Muhājirīn yang pertama tiba di al-‘Uṣbah — yaitu sebuah tempat di Qubā’ — sebelum kedatangan Rasulullah ﷺ, yang menjadi imam mereka adalah Sālim, maulā (bekas budak) Abū Ḥudhayfah, karena ia adalah yang paling banyak hafalan al-Qur’annya di antara mereka.”</p>
<p><strong>b.  Yang Memiliki Bacaan Paling Bagus</strong></p>
<p>Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:</p>
<p class="arab">أرحمُ أمَّتي بأمَّتي أبو بَكْرٍ، وأشدُّهم في أمرِ اللَّهِ عمرُ، وأصدقُهُم حياءً عثمانُ، وأقرَأُهم لِكِتابِ اللَّهِ أبيٌّ، وأفرضُهُم زَيدٌ، وأعلمُهُم بالحلالِ والحرامِ معاذٌ</p>
<p>“Yang paling lembut dari kalangan umatku adalah Abu Bakr Ash Shiddiq. Yang paling tegas adalah Umar bin Al Khattab. Yang memiliki rasa malu besar adalah Utsman bin Affan. Yang paling bagus bacaannya adalah Ubay bin Kaab. Yang paling mengerti ilmu waris adalah Zaid bin Tsabit. Yang paling mengetahui hukum halal dan haram adalah Muadz bin Jabal.” (HR At Tirmidzi 3791 dan Ibnu Majah 154)</p>
<p>Hadis ini menunjukkan bahwa pengertian <em>aqra’</em> berbeda dengan hafal atau paham. Karena sahabat-sahabat lain yang disebutkan besar kemungkinan dan tidak dapat dipungkiri memiliki hafalan Alquran yang sama banyak atau pemahaman Alquran yang sama baik.</p>
<p>Dan juga hadis tentang memperindah bacaan Al-Qur’an yang diriwayatkan dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>:</p>
<p class="arab">مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ يَجْهَرُ بِهِ&#8221;</p>
<p><em>Allah tidaklah lebih mendengarkan sesuatu seperti mendengarkan seorang Nabi yang memperindah suaranya dengan Al-Qur’an yang ia lantunkan dengan keras.”</em> (HR Bukhari no. 7544, Muslim no. 792)</p>
<p><em>Wallahu a’lam.</em></p>
<p><strong>Ustadz Muhammad Nur Faqih, S.Ag</strong></p>The post <a href="https://belajarsholat.com/4063-syarat-jadi-imam-shalat-jangan-sembarangan-pilih-imam.html">Syarat Jadi Imam Shalat! Jangan Sembarangan Pilih Imam</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hukum Baju Sempit Yang Terlihat Lekuk Tubuh Untuk Sholat</title>
		<link>https://belajarsholat.com/2162-hukum-baju-sempit-yang-terlihat-lekuk-tubuh-untuk-sholat.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Nur Faqih, S.Ag.]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2022 12:46:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[baju sempit untuk sholat]]></category>
		<category><![CDATA[menutup aurot]]></category>
		<category><![CDATA[pakaian untuk sholat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=2162</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hukum Baju Sempit Untuk Sholat Allah azza wajalla memerintahkan agar seorang muslim memperhatikan pakaiannya ketika hendak mendirikan sholat. Sebagaimana dalam firman-Nya, يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ &#8220;Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/2162-hukum-baju-sempit-yang-terlihat-lekuk-tubuh-untuk-sholat.html">Hukum Baju Sempit Yang Terlihat Lekuk Tubuh Untuk Sholat</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Hukum Baju Sempit Untuk Sholat</strong></h2>
<p>Allah <em>azza wajalla</em> memerintahkan agar seorang muslim memperhatikan pakaiannya ketika hendak mendirikan sholat. Sebagaimana dalam firman-Nya,</p>
<p class="arab">يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ</p>
<p>&#8220;Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.&#8221; (QS Al A&#8217;raaf: 31)</p>
<p>Syekh Abdurrahman bin Nashir as Sa&#8217;diy <em>rahimahullahu</em> menjelaskan,</p>
<p class="arab">استروا عوراتكم عند الصلاة كلها، فرضها ونفلها، فإن سترها زينة للبدن</p>
<p>&#8220;(Yakni) tutuplah aurat kalian ketika mengerjakan sholat, baik sholat wajib atau sunah. Karena menutup aurat dalam sholat merupakan perhiasan bagi badan.&#8221; (Tafsir As Sa&#8217;diy)</p>
<p>Oleh karenanya, para ulama bersepakat akan wajibnya menutup aurat di dalam sholat. Barangsiapa sholat dalam keadaan terbuka auratnya dengan sengaja dan dalam kondisi mampu menutup aurat, maka sholatnya tidak sah.</p>
<p><strong>Batasan Menutup Aurat</strong></p>
<p>Mungkin akan muncul pertanyaan berikutnya, bagaimana pakaian yang disebut menutup aurat?</p>
<p>Ibnu Qudamah <em>rahimahullahu</em> (Al Mughni) mengatakan,</p>
<p class="arab">من كان من الرجال وعليه ما يستر ما بين سرته وركبتيه أجزأه، وجملة ذلك أن ستر العورة عن النظر بما لا يصف البشرة واجب وشرط لصحة الصلاة</p>
<p>&#8220;Laki-laki yang menutup bagian antara pusar dan lututnya, maka sudah terbilang menutup aurat. Secara umum, menutup aurat yakni menghalangi pandangan dari luar yang mencirikan bagaimana kulit seseorang hukumnya wajib dan menjadi syarat sah sholat.&#8221;</p>
<p>Maka, pakaian yang tembus pandang, yang orang lain bisa melihat bagaimana kulit seseorang, tidak memadai untuk disebut sebagai pakaian yang menutup aurat. Ibnu Qudamah <em>rahimahullahu </em>(idem) menambahkan,</p>
<p class="arab">فإن كان خفيفا يبين لون الجلد من ورائه فيعلم بياضه أو حمرته لم تجز الصلاة فيه، لأن الستر لا يحصل بذلك وإن كان يستر لونها ويصف الخلقة جازت الصلاة، لأن هذا لا يمكن التحرز منه وإن كان الساتر صفيفا</p>
<p>&#8220;Adapun jika pakaiannya tipis dan menampakkan warna kulit di baliknya. Orang lain bisa mengetahui putih, merah, maka tidak sah sholatnya. Karena tidak masuk ke cakupan menutup aurat. Berbeda halnya sudah menutupi bagaimana warna kulit tapi dalam satu kondisi menampakkan lekuk, sholatnya tetap sah. Karena hal ini tidak bisa dihindari sekalipun memakai pakaian tebal.&#8221;</p>
<p>Dengan demikian, pakaian sempit tidak selalu menjadi sebab tidak sahnya sholat seseorang. Namun tidak selayaknya seseorang memakai pakaian alakadarnya ketika sholat padahal ia mampu mengusahakan lebih baik dari itu.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Artikel ini ditulis oleh Ustadz Muhammad Nur Faqih, S.Ag. (Beliau Lulusan STDI Jember Jurusan Hadis, Pengasuh Belajarsholat.com, Tanyahadis.com dan beliau aktif mengisi kajian-kajian ilmiyah di berbagai kota)</strong></p>The post <a href="https://belajarsholat.com/2162-hukum-baju-sempit-yang-terlihat-lekuk-tubuh-untuk-sholat.html">Hukum Baju Sempit Yang Terlihat Lekuk Tubuh Untuk Sholat</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hukum Haidh Setelah Adzan Berkumandang</title>
		<link>https://belajarsholat.com/2155-hukum-haidh-setelah-adzan-berkumandang.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Nur Faqih, S.Ag.]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Nov 2022 03:46:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hukum Seputar Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[haidh]]></category>
		<category><![CDATA[hukum wanita haidh sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat muslimah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=2155</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apa Hukum Haidh Setelah Adzan Berkumandang? Banyak di antara muslimah belum memahami hal-hal yang berkaitan dengan kekhasan mereka dalam menjalankan syariat. Misal, ketika ada seorang wanita keluar darah Haidh beberapa saat setelah Adzan berkumandang, akankah dia harus mengganti sholat di waktu tersebut ketika suci?! Para ulama berbeda pendapat tentang hal ini, yakni wajib atau tidak [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/2155-hukum-haidh-setelah-adzan-berkumandang.html">Hukum Haidh Setelah Adzan Berkumandang</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Apa Hukum Haidh Setelah Adzan Berkumandang?</strong></h2>
<p>Banyak di antara muslimah belum memahami hal-hal yang berkaitan dengan kekhasan mereka dalam menjalankan syariat. Misal, ketika ada seorang wanita keluar darah Haidh beberapa saat setelah Adzan berkumandang, akankah dia harus mengganti sholat di waktu tersebut ketika suci?!</p>
<p>Para ulama berbeda pendapat tentang hal ini, yakni wajib atau tidak seorang muslimah mengganti sholat dalam kondisi demikian. Syekh Ibnu Taimiyah <em>rahimahullahu</em> mengatakan,</p>
<p class="arab">إذا دخل عليها الوقت وهي طاهرة ثم حاضت هل يلزمها قضاء الصلاة أم لا؟ على قولين :</p>
<p class="arab">أحدهما : لا يلزمها كما يقوله مالك وأبو حنيفة.</p>
<p class="arab">والثاني : يلزمها كما يقوله الشافعي وأحمد) لأن الصلاة تجب بدخول وقتها في حق من هو من أهل الوجوب ، والمرأة قبل حيضها من أهل الوجوب .</p>
<p>“Ketika masuk waktu sholat, seorang wanita dalam keadaan suci, sesaat kemudian keluar darah Haidh, apakah wajib mengqadha sholatnya? Para ulama terbagi ke dalam dua pendapat:</p>
<ol>
<li>Tidak wajib, sebagaimana pendapat Imam Malik dan Abu Hanifah;</li>
<li>Wajib, sebagaimana pendapat Imam Syafii dan Imam Ahmad. Mereka beralasan bahwa wajibnya sholat bagi yang diwajibkan untuk sholat adalah dengan tiba waktu sholat. Seorang wanita sebelum keluar Haidh, ia adalah seorang yang diwajibkan untuk sholat (dengan demikian ia memiliki sholat yang seharusnya wajib ia tunaikan sebelum keluarnya Haidh -pent).”</li>
</ol>
<p>Mana pendapat yang tepat? Wallahu a’lam, pendapat kedualah yang lebih tepat dan melepaskan seseorang dari kewajiban. Syekh Muhammad bin Shalih al Utsaimin <em>rahimahullahu</em> mengatakan,</p>
<p class="arab">المرأة إذا حاضت بعد دخول وقت الصلاة فإنه يجب عليها إذا طهرت أن تقضي تلك الصلاة التي حاضت في وقتها إذا لم تصلها قبل أن يأتيها الحيض ، وذلك لقول النبي صلى الله عليه وسلم : (من أدرك ركعة من الصلاة فقد أدرك الصلاة) . فإذا أدركت المرأة من وقت الصلاة مقدار ركعة ثم حاضت قبل أن تصلي فإنها إذا طهرت لزمها القضاء</p>
<p>“Seorang wanita ketika Haidh sesaat setelah waktu sholat tiba, maka wajib menggantinya setelah suci jika tidak mengerjakannya. Berdasarkan sabda Nabi Muhammad ﷺ,</p>
<p>“Barangsiapa mendapati satu rakaat maka ia terhitung mengerjakan seluruh sholat” (HR Bukhari 555).</p>
<p>Dengan demikian, seorang wanita yang memungkinkan mengerjakan satu rakaat kemudian ia Haidh padahal belum sholat, maka ketika suci ia wajib menggantinya.”</p>
<p>Maksud dari hadis di atas adalah sebagaimana dijelaskan oleh Al Kirmani <em>rahimahullahu</em> yang dikutip perkataannya oleh Ibnu Hajar <em>rahimahullahu</em>,</p>
<p class="arab">وفي الحديث أن من دخل في الصلاة فصلى ركعة وخرج الوقت كان مدركا لجميعها ، وتكون كلها أداء ، وهو الصحيح</p>
<p>“Hadis ini menjelaskan bahwa barangsiapa yang sholat satu rakaat kemudian waktu sholat habis (sebelum sempurna), maka ia teranggap telah mengerjakan seluruh rakaat di waktu tersebut. Inilah pendapat yang lebih tepat dalam memaknai hadis tersebut.” (Fathul Baari 2/68).</p>
<p>Terlebih dengan mengamalkan pendapat kedua, seseorang lebih berhati-hati dan tidak turut sibuk dalam perbedaan para ulama. <em>wallahu a’lam</em></p>
<p><strong>Artikel ini ditulis oleh Ustadz Muhammad Nur Faqih, S.Ag. (Beliau Lulusan STDI Jember Jurusan Hadis, Pengasuh Belajarsholat.com, Tanyahadis.com dan beliau aktif mengisi kajian-kajian ilmiyah di berbagai kota)</strong></p>The post <a href="https://belajarsholat.com/2155-hukum-haidh-setelah-adzan-berkumandang.html">Hukum Haidh Setelah Adzan Berkumandang</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Macam-macam Sujud yang Perlu Anda Tahu</title>
		<link>https://belajarsholat.com/2031-macam-macam-sujud-yang-perlu-anda-tahu.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Nur Faqih, S.Ag.]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Sep 2022 13:14:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[sujud]]></category>
		<category><![CDATA[sujud sahwi]]></category>
		<category><![CDATA[sujud syukur]]></category>
		<category><![CDATA[sujud tilawah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=2031</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kedudukan Sujud dalam Islam Sujud merupakan salah satu ibadah dalam Islam yang memiliki kedudukan mulia. Tidak sebagaimana ibadah anggota badan lain, sujud dengan sendirinya merupakan bentuk ibadah itu sendiri. Allah azza wajalla berfirman, كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ “sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).” (QS Al Alaq: 19) [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/2031-macam-macam-sujud-yang-perlu-anda-tahu.html">Macam-macam Sujud yang Perlu Anda Tahu</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Kedudukan Sujud dalam Islam</strong></h2>
<p>Sujud merupakan salah satu ibadah dalam Islam yang memiliki kedudukan mulia. Tidak sebagaimana ibadah anggota badan lain, sujud dengan sendirinya merupakan bentuk ibadah itu sendiri. Allah <em>azza wajalla</em> berfirman,</p>
<p class="arab">كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ</p>
<p>“<em>sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)</em>.” (QS Al Alaq: 19)</p>
<p>Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> bersabda,</p>
<p class="arab">أَقْرَبُ ما يَكونُ العَبْدُ مِن رَبِّهِ، وهو ساجِدٌ، فأكْثِرُوا الدُّعاءَ</p>
<p>“Kondisi terdekat seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud. Maka perbanyaklah doa.” (HR Muslim 482).</p>
<p>Oleh karenanya di dalam Islam, ada beberapa kesempatan yang seseorang diperintahkan bersujud:</p>
<p><strong>a. </strong><strong>Sujud Ketika Sholat</strong></p>
<p>Sujud ketika sholat adalah sujud yang hukumnya wajib. Barangsiapa yang dengan sengaja meninggalkan, maka sholatnya batal. Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> bersabda,</p>
<p class="arab">ثم اسجُدْ حتَّى تطمئِنَّ ساجدًا</p>
<p>“Kemudian sujudlah sampai <em>thuma’ninah</em> dalam sujudmu.” (HR Bukhari 6251 dan Muslim 397)</p>
<p><strong>b. </strong><strong>Sujud <em>Sahwi</em></strong></p>
<p>Sujud sahwi adalah sujud yang juga dikerjakan di dalam sholat sebagaimana sujud yang pertama. Hanya saja sujud sahwi disebabkan karena kondisi tertentu dalam sholat yang tidak menyengaja dilakukan. Sehingga bagi golongan tertentu, sujud sahwi hukumnya wajib. Syekh Muhammad bin Shalih al Utsaimin <em>rahimahullahu</em> mengatakan,</p>
<p class="arab">فسجود السهو واجبٌ لكلِّ فِعلٍ أو تَرْك إذا تعمَّده الإنسانُ بطَلَتْ صلاتُه</p>
<p>“Maka sujud sahwi hukumnya wajib bagi mereka yang menambah atau mengurangi gerakan sholat. Akan tetapi jika hal itu dilakukan secara sengaja, maka sholatnya batal. ” (Asy Syarh al Mumti’ 3/393)</p>
<p><strong>c. </strong><strong>Sujud <em>Tilawah</em></strong></p>
<p>Sujud <em>tilawah</em> adalah sujud yang disyariatkan untuk dilakukan ketika seorang muslim membaca ayat <em>sajdah</em>. Allah <em>azza wajalla</em> berfirman,</p>
<p class="arab">قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا ۚ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا</p>
<p>“<em>Katakanlah: &#8220;Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud</em>.” (QS Al Isra: 107)</p>
<p>Abdullah bin Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> berkata,</p>
<p class="arab">ربَّما قرأ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم القرآنَ، فيمرُّ بالسَّجدةِ فيَسجُدُ بنا، حتى ازدحَمْنا عنده، حتى ما يجِدُ أحدُنا مكانًا ليسجُدَ فيه، في غيرِ صلاةٍربَّما قرأ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم القرآنَ، فيمرُّ بالسَّجدةِ فيَسجُدُ بنا، حتى ازدحَمْنا عنده، حتى ما يجِدُ أحدُنا مكانًا ليسجُدَ فيه، في غيرِ صلاةٍ</p>
<p>“Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> tatkala melewati ayat <em>sajdah</em> maka beliau meminta kami bersujud. Maka kami beramai-ramai sujud di dekat beliau. sampai-sampai tidak ada ruang kosong bagi kami untuk bersujud. Ini terjadi di luar sholat.” (HR Bukhari 1075 dan Muslim 575).</p>
<p>Imam an Nawawi <em>rahimahullahu</em> menjelaskan,</p>
<p class="arab">فيه إثباتُ سجود التلاوة، وقد أجمَع العلماءُ عليه</p>
<p>“Dalam hadis ini terdapat anjuran untuk sujud <em>tilawah.</em> Para ulama telah bersepakat atas hal tersebut.” (Syarh Shahih Muslim 5/74)</p>
<p><strong>d. </strong><strong>Sujud Syukur</strong></p>
<p>Sujud syukur dilakukan ketika seseorang mendapat nikmat yang baru dan baru saja terlepaskan dari musibah. Hal ini dikerjakan di luar sholat, sebagaimana sujud <em>tilawah </em>(terkait tatacara mengerjakan sujud <em>tilawah</em> di dalam sholat akan dibahas di lain kesempatan). Syekh Muhammad bin Shalih al Utsaimin <em>rahimahullahu</em> mengatakan,</p>
<p class="arab">فسجودُ الشكر إنْ فَعلتَه أُثِبْتَ، وإن تركتَه لم تأثَمْ</p>
<p>“Jika kamu mengerjakannya maka akan mendapat pahala. Dan andaipun tidak dilakukan maka tidak berdosa.” (Asy Syarh al Mumti’ 4/104)</p>
<p>hal ini berdasarkan riwayat,</p>
<p class="arab">فلمَّا قرأَ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم الكتابَ خرَّ ساجدًا</p>
<p>“Tatkala Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> membaca surat (yang berisi kabar gembira akan masuk Islamnya penduduk Yaman) tersebut, beliau bersujud.” (HR Rauyani 304, At Thabarani dalam <em>Tarikh ar Rusul wal Muluk</em> 3/132).</p>
<p><strong>Penjelasan ini dirangkum oleh Ustadz Muhammad Nur Faqih, S.Ag. dan Tim Redaksi Belajarsholat.com</strong></p>
<p><strong>Kritik dan saran ilmiyah ke redaksi: admin @ belajarsholat.com</strong></p>The post <a href="https://belajarsholat.com/2031-macam-macam-sujud-yang-perlu-anda-tahu.html">Macam-macam Sujud yang Perlu Anda Tahu</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tata Cara Sujud dan Bacaan Sujud</title>
		<link>https://belajarsholat.com/1992-tata-cara-sujud-dan-bacaan-sujud.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Nur Faqih, S.Ag.]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Aug 2022 09:03:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Rukun Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan sujud]]></category>
		<category><![CDATA[cara sujud]]></category>
		<category><![CDATA[sujud]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara sujud]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=1992</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalil Wajibnya Sujud Sujud merupakan rukun dalam salat. Dalil yang menunjukkan bahwa sujud merupakan rukun sholat adalah firman Allah azza wajalla, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Hai orang-orang yang beriman, ruku&#8217;lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.”[1] Dan juga hadis Nabi Muhammad [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/1992-tata-cara-sujud-dan-bacaan-sujud.html">Tata Cara Sujud dan Bacaan Sujud</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h3><strong>Dalil Wajibnya Sujud</strong></h3>
<p>Sujud merupakan rukun dalam salat. Dalil yang menunjukkan bahwa sujud merupakan rukun sholat adalah firman Allah <em>azza wajalla</em>,</p>
<p class="arab">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, ruku&#8217;lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan</em>.”<a href="#_ftn1" name="_ftnref1"><sup>[1]</sup></a></p>
<p>Dan juga hadis Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>,</p>
<p class="arab">ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا</p>
<p>“Kemudian sujudlah hingga benar-benar <em>thuma’ninah</em>.”<a href="#_ftn2" name="_ftnref2"><sup>[2]</sup></a></p>
<p>Serta konsensus para ulama, sebagaimana diungkapkan oleh Imam an Nawawi <em>rahimahullahu</em>,</p>
<p class="arab">والسجود فرضٌ، بنص الكتاب والسنن والإجماع</p>
<p>“Dan sujud merupakan rukun sholat. Berdasarkan dalil dari Alquran, hadis, dan ijmak.”<a href="#_ftn3" name="_ftnref3"><sup>[3]</sup></a></p>
<p>Ibnu Abdil Barr <em>rahimahullahu</em> mengatakan,</p>
<p class="arab">وحجتُهم: أن عمل البدن كله فرضٌ؛ للإجماع على فرض القيام، والركوع، والسجود</p>
<p>“Para ulama bersepakat bahwa gerakan sholat semuanya wajib (rukun). Berdasarkan kesepakatan para ulama tentang wajibnya berdiri, ruku, dan sujud.”<a href="#_ftn4" name="_ftnref4"><sup>[4]</sup></a></p>
<h3><strong>Tata Cara Sujud</strong></h3>
<p><strong>a.</strong> <strong>Bertumpu Pada Anggota Sujud</strong></p>
<p>Sujud seseorang dikatakan benar<a href="#_ftn5" name="_ftnref5"><sup>[5]</sup></a> dan sesuai petunjuk Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em>, jika ia bertumpu pada tujuh anggota sujud yang disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, bahwa beliau mendengar Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallama </em>bersabda,</p>
<p class="arab">إذا سجد العبد سَجد معه سبعة أطراف. وجهُه وكفّاه وركبتاه وقدماه</p>
<p>“Jika seseorang sujud, maka hendaknya ia sujud dengan menapak atas tujuh anggota sujud yaitu wajah, kedua telapak tangan, dua lutut, dan dua telapak kaki.”<a href="#_ftn6" name="_ftnref6"><sup>[6]</sup></a></p>
<p>Dalam hadis yang lain disebutkan,</p>
<p class="arab">لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ يُصِيبُ أَنْفَهُ مِنَ الأَرْضِ مَا يُصِيبُ الْجَبِينَ</p>
<p>“Tidak sempurna sholat seseorang sampai hidungnya menyentuh alas sujud sebagaimana dahinya.”<a href="#_ftn7" name="_ftnref7"><sup>[7]</sup></a></p>
<p><strong>b. </strong><strong>Meluruskan Kepala dan Jemari (Tangan dan Kaki) ke Arah Kiblat</strong></p>
<p>Disebutkan dalam sebuah hadis, Abu Said al Khudry <em>radhiyallahu ‘anhu</em> mengatakan,</p>
<p class="arab">فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلَا قَابِضِهِمَا وَاسْتَقْبَلَ بِأَطْرَافِ أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ الْقِبْلَةَ</p>
<p>“Dan jika sujud maka beliau meletakkan tangannya dengan tidak menempelkan lengannya ke tanah atau badannya, dan dalam posisi sujud itu beliau menghadapkan jari-jari kakinya ke arah kiblat.”</p>
<p><strong>c. </strong><strong>Tidak Menempelkan Lengan Ke Lutut atau Alas</strong></p>
<p>Sebagaimana sebuah riwayat dari Abdullah bin Malik bin Buhainah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>,</p>
<p class="arab">أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا صلى فرج بين يديه حتى يبدو بياض إبطيه</p>
<p>“Bahwasanya Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> ketika sholat beliau merenggangkan kedua tangannya sampai nampak putihnya ketiak beliau.”<a href="#_ftn8" name="_ftnref8"><sup>[8]</sup></a></p>
<p><strong>d.</strong> <strong>Membaca zikir-zikir yang disunahkan ketika sujud, di antaranya:</strong></p>
<p><strong>1. Membaca,</strong></p>
<p class="arab">سبحان ربي الأعلى</p>
<p><em>Subhaana Rabbiyal a’laa</em></p>
<p>“Maha suci Rabbku yang Maha Tinggi.” (sebanyak 3 kali)<a href="#_ftn9" name="_ftnref9"><sup>[9]</sup></a></p>
<p><strong>2. Atau membaca,</strong></p>
<p class="arab">سبحان ربي الأعلى وبحمده</p>
<p><em>Subhaana Rabbiyal a’laa wa bihamdihi</em></p>
<p>“Maha suci Rabbku yang Maha Tinggi dan segala pujian hanya untuk-Nya.” (dibaca 3 X).&#8221; (HR. Abu Dawud 1/230 No. 870)</p>
<p><strong>3. Atau membaca</strong></p>
<p class="arab">سبوح قدوس رب الملائكة والروح</p>
<p>سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ</p>
<p><em>Subbuuhun qudduusun rabbul malaaikati war ruuhi</em></p>
<p>“Mahasuci, Maha Qudus, Rabbnya para malaikat dan ruh -yaitu Jibril-.” (HR. Muslim 1/353 No. 487)</p>
<p><strong>4. Atau membaca,</strong></p>
<p class="arab">سبحانك اللهم ربنا وبحمدك، اللهم اغفر لي</p>
<p><em>Subhanakallahumma Rabbanaa wa bihamdika, allahumma ighfir lii</em></p>
<p>“Maha suci Engkau ya Allah, Rabb kami, segala pujian terhatur pada-Mu. Ampunilah aku.”<a href="#_ftn12" name="_ftnref12"><sup>[12]</sup></a></p>
<p><strong>5. Atau membaca</strong></p>
<p class="arab">اللهم لك سجْدتُ، وبك آمنت، ولك أسلمت، وأنت ربي، سجد وجهي للذي خلقه وصوَّره، فأحسن صوره، وشق سمعه وبصره، فـتبارك الله أحسن الخالقين</p>
<p><em>Allahumma laka sajadtu, wa bika aamantu, walaka aslamtu, wa anta Rabbii, sajada wajhiya lilladzi khalaqahu wa shawwarahu, fa ahsana shuwarahu, wa syaqqa sam’ahu wa basharahu, fatabaarakallahu ahsanul khaaliqin</em></p>
<p>“Ya Allah, kepada-Mu aku bersujud, kepada-Mu aku beriman dan berserah diri. Engkaulah Rabbku. Wajahku bersujud kepada Tuhan yang menciptakannya, yang membelah pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah sebaik-baik Pencipta.”<a href="#_ftn13" name="_ftnref13"><sup>[13]</sup></a></p>
<p><strong>6. Atau membaca</strong></p>
<p class="arab">سبحان ذي الجبروت والملكوت والكبرياء والعظمة</p>
<p><em>Subhaana dzil jabaruuti wal malakuuti wal kibriyaai wal adzamati</em></p>
<p>“Maha suci Dzat yang menguasai dan maha memiliki, lagi maha agung.”<a href="#_ftn14" name="_ftnref14"><sup>[14]</sup></a></p>
<p>Dan bacaan-bacaan lain yang bersumber dari hadis-hadis Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em><a href="#_ftn15" name="_ftnref15"><strong><sup>[15]</sup></strong></a>.</p>
<p><strong>Penjelasan ini dirangkum oleh Ustadz Muhammad Nur Faqih, S.Ag. dan Tim Redaksi Belajarsholat.com</strong></p>
<p><strong>Kritik dan saran ilmiyah ke redaksi: admin @ belajarsholat.com</strong></p>
<p>_______</p>
<p><strong>Footnote:</strong></p>
<p><a href="#_ftnref1" name="_ftn1"><sup>[1]</sup></a> QS Al Hajj: 77.<br />
<a href="#_ftnref2" name="_ftn2"><sup>[2]</sup></a> HR Bukhari 757.<br />
<a href="#_ftnref3" name="_ftn3"><sup>[3]</sup></a> Al Majmu’ 3/421.<br />
<a href="#_ftnref4" name="_ftn4"><sup>[4]</sup></a> At Tamhid 10/212<br />
<a href="#_ftnref5" name="_ftn5"><sup>[5]</sup></a> Di luar pembahasan mengenai hukum posisi tiap-tiap anggota sujud. Yang ingin kami ketengahkan adalah bagaimana Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> mengajarkan sujud.<br />
<a href="#_ftnref6" name="_ftn6"><sup>[6]</sup></a> HR Muslim 491.<br />
<a href="#_ftnref7" name="_ftn7"><sup>[7]</sup></a> HR. Ad Daruquthni dan Ath Thabrani.<br />
<a href="#_ftnref8" name="_ftn8"><sup>[8]</sup></a> HR. Bukhari 390.<br />
<a href="#_ftnref11" name="_ftn11"><sup>[11]</sup></a> HR. Muslim 487.<br />
<a href="#_ftnref12" name="_ftn12"><sup>[12]</sup></a> HR. Bukhari 817 dan Muslim 484.<br />
<a href="#_ftnref13" name="_ftn13"><sup>[13]</sup></a> HR. Muslim 771.<br />
<a href="#_ftnref14" name="_ftn14"><sup>[14]</sup></a> HR. Abu Dawud dan An Nasa’i dengan sanad yang sahih.<br />
<a href="#_ftnref15" name="_ftn15"><sup>[15]</sup></a> Bisa merujuk ke <em>Al Mausuah al Fiqhiyyah al Muyassarah fi Fiqhil Kitaabi was Sunnati al Muthahharah</em> 2/70.</p>
<p>&nbsp;</p>The post <a href="https://belajarsholat.com/1992-tata-cara-sujud-dan-bacaan-sujud.html">Tata Cara Sujud dan Bacaan Sujud</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tata Cara Turun Sujud, Mendahulukan Lutut Atau Tangan Dulu?</title>
		<link>https://belajarsholat.com/1943-tata-cara-turun-sujud-mendahulukan-lutut-atau-tangan-dulu.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Nur Faqih, S.Ag.]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Jul 2022 23:21:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gerakan Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[cara turun sujud]]></category>
		<category><![CDATA[hadis waail]]></category>
		<category><![CDATA[lutut]]></category>
		<category><![CDATA[sujud]]></category>
		<category><![CDATA[tangan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=1943</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tata Cara Turun Sujud Ketika mau turun sujud apakah lutut dulu atau tangan dulu? Pembaca Belajarsholat.com yang budiman&#8230; Para ulama berbeda pendapat tentang tata cara turun menuju sujud ke dalam dua pendapat: Pertama, mendahulukan kedua lutut sebelum kedua tangan. Ini adalah pendapat jumhur mazhab Hanafi, Syafii, dan Hanbali. Dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/1943-tata-cara-turun-sujud-mendahulukan-lutut-atau-tangan-dulu.html">Tata Cara Turun Sujud, Mendahulukan Lutut Atau Tangan Dulu?</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Tata Cara Turun Sujud</strong></h2>
<p>Ketika mau turun sujud apakah lutut dulu atau tangan dulu?</p>
<p>Pembaca Belajarsholat.com yang budiman&#8230; Para ulama berbeda pendapat tentang tata cara turun menuju sujud ke dalam dua pendapat:</p>
<h3><strong>Pertama, mendahulukan kedua lutut sebelum kedua tangan.</strong></h3>
<p>Ini adalah pendapat jumhur mazhab Hanafi, Syafii, dan Hanbali. Dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, An Nasa’i, dan At Tirmidzi dari Wail bin Hujr <em>radhiyallahu ‘anhu</em>,</p>
<p class="arab">رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا سجد وضع ركبتيه قبل يديه، وإذا نهض رفع يديه قبل ركبتيه</p>
<p>“Aku melihat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> menuju sujud dengan meletakkan kedua lutut sebelum tangannya. dan ketika bangkit beliau menangkat tangan sebelum lututnya.”</p>
<p>Al Khattabi <em>rahimahullahu</em> mengatakan,</p>
<p class="arab">هو: أثبت من حديث تقديم اليدين، وهو أرفق بالمصلي وأحسن في الشكل ورأي العين</p>
<p>“Hadis ini lebih valid dibandingkan hadis yang menunjukkan mendahulukan kedua tangan sebelum lutut. Dan ini lebih mudah bagi orang yang sholat, posisi lebih sesuai, dan lebih layak dilihat.”</p>
<p>(Dinukil oleh Imam An Nawawi dalam <em>Al Majmu’</em> 3/395)</p>
<p>At Tirmidzi <em>rahimahullahu</em> mengatakan,</p>
<p class="arab">حسن غريب لا نعرف أحداً رواه غير شريك، والعمل عليه عند أكثر أهل العلم يرون أن الرجل يضع ركبتيه قبل يديه.</p>
<p>“Hadis ini <em>hasan gharib</em>, kami tidak mengetahui ada perawi lain selain Syarik. Dan mayoritas ulama berpendapat didahulukannya lutut sebelum tangan berdasarkan hadis ini.”</p>
<p>Hadis ini juga disahihkan oleh Al Hakim dengan syarat Imam Muslim dan ini disetujui oleh Adz Dzahabi. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam kitab <em>Shahih</em> keduanya. Serta tidak ada komentar dari keduanya.</p>
<p>Akan tetapi, Ad Daruquthni <em>rahimahullahu</em> mengomentari,</p>
<p class="arab">تفرد به يزيد عن شريك، ولم يحدث به عن عاصم بن كليب غير شريك، وشريك ليس بالقوي فيما تفرد به</p>
<p>“Yazid bersendiri dalam meriwayatkan hadis ini dari Syarik. Dan tidak ada perawi lain dari Ashim bin Kulaib selain Syarik. Sementara Syarik bukan termasuk orang yang kredibel ketika meriwayatkan hadis secara bersendiri.”</p>
<p>Oleh karenanya, Syekh Al Albani melemahkan hadis ini. Dan tentu saja pembahasan hal ini akan panjang. Sebagaimana termaktub dalam kitab beliau <em>Silsilah al ahadits adh dhaifah</em> (nomor hadis 929), <em>Irwaul Ghalil</em> (nomor hadis 357), dan disebutkan pula di dalam kitab <em>Shifatu Shalatin Nabiy</em>.</p>
<p>Selain itu, mayoritas ulama juga berdalil dengan hadis yang diriwayatkan dari Mus’ab bin Sa’ad dari Sa’ad bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, beliau berkata,</p>
<p class="arab">كُنَّا نضع اليدين قبل الركبتين فأمرنا بالركبتين قبل اليدين</p>
<p>“Dahulu kami sholat dengan meletakkan tangan dulu sebelum lutut. Kemudian kami diperintahkan untuk meletakkan lutut terlebih dahulu sebelum tangan.”</p>
<p>(HR Ibnu Khuzaimah. Dalam sanad hadis ini terdapat seorang perawi bernama Ismail bin Yahya bin Salamah dan beliau terhitung <em>matruk</em>)</p>
<p>Ibnu Hajar <em>rahimahullahu</em> dalam <em>Fath al Baari</em> mengatakan,</p>
<p class="arab">وادعى ابن خُزيمة أن حديث أبى هريرة منسوخ بحديث سعد هذا ولو صح لكان قاطعاً للنزاع لكنه من أفراد إبراهيم بن إسماعيل بن يحيى بن سلمة بن سهيل عن أبيه وهما ضعيفان.</p>
<p>“Ibnu Khuzaimah mengatakan bahwa hadis Abu Hurairah terhapus dengan hadis Saad bin Malik. Andai ini benar, maka ini menyelesaikan perdebatan panjang tentangnya. Hanya saja kita ketahui bahwa hadis ini termasuk hadis yang Ibrahim bin Ismail bin Yahya bin Salamah bin Suhail bersendiri dalam meriwayatkan hadis dari ayahnya (Ismail bin Yahya) dan keduanya terhitung <em>dhaif</em>.”</p>
<p>Jumhur juga berdalil dengan riwayat dari Atsram dari hadis Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> dengan redaksi,</p>
<p class="arab">إذا سجد أحدكم فليبدأ بركبتيه قبل يديه ولا يبرك بروك الفحل</p>
<p>“Hendaknya ketika sujud ia mendahulukan lututnya sebelum tangannya dan janganlah ia duduk seperti bagaimana unta duduk.”</p>
<p>Ibnu Hajar mengomentari, hadis ini sanadnya lemah.</p>
<p>Adapula hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Ath Thahawi, dan Al Baihaqi. Akan tetapi Syekh Al Albani mengomentari, hadis ini batil.</p>
<h3><strong>Kedua, mendahulukan tangan sebelum lutut ketika turun menuju sujud.</strong></h3>
<p>Dan ini merupakan pendapat Imam Malik, Al Auzaiy, dan Ahmad dalam salah satu riwayat. Dalil yang mereka pakai adalah:</p>
<p>Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, An Nasa’iy, Ad Darimi, Al Bukhari dalam <em>Tarikh al Kabir</em>, dan Ahmad dari hadis Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, bahwasanya Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إذا سجد أحدكم فلا يبرك كما يبرك البعير، وليضع يديه قبل ركبتيه</p>
<p>“Janganlah ia menuju ke sujud seperti bagaimana unta duduk. Hendaknya ia meletakkan tangan sebelum lutut.”</p>
<p>Imam an Nawawi <em>rahimahullahu</em> mengomentari, sanad hadis ini <em>jayyid</em>. Disahihkan oleh Abdul Haqq dalam <em>Al Ahkam al Kubra</em>. Dan syekh Al Albani membahasnya panjang lebar untuk mendukung pendapat beliau mensahihkan hadis ini dan membantah para ulama yang menyebutkan bahwa hadis ini memiliki <em>illah </em>(silahkan merujuk ke <em>Silsilah al Ahadits adh Dhaifah</em> dan <em>Irwaul Ghalil</em>).</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullahu</em> mengatakan,</p>
<p class="arab">فالحديث ـ والله أعلم ـ قد وقع فيه وهم من بعض الرواة فإن أوله يخالف آخره، فإنه إذا وضع يديه قبل ركبتيه فقد برك كما يبرك البعير، فإن البعير إنما يضع يديه أولاً</p>
<p>“Hadis ini &#8211;<em>wallahu a’lam</em>&#8211; sebagian perawinya salah dalam meriwayatkan. Karena bagian awalnya bertentangan dengan bagian akhir hadis. Justru yang meletakkan kedua tangan sebelum lutut itu lebih mirip bagaimana unta duduk. Karena unta duduk dengan menurunkan tangan terlebih dahulu.”</p>
<p>Beliau <em>rahimahullahu</em> juga mengatakan,</p>
<p class="arab">وكان يقع لي أن حديث أبى هريرة كما ذكرنا مما انقلب على بعض الرواة متنه وأصله، ولعله &#8220;وليضع ركبتيه قبل يديه&#8221;&#8230; حتى رأيت أبابكر بن أبى شيبة قد رواه كذلك</p>
<p>“Awalnya aku berpikir bahwa mungkin saja para perawinya terbalik dalam meriwayatkan. Dan boleh jadi redaksi aslinya <em>hendaknya ia meletakkan lutut terlebih dahulu sebelum tangan</em>. Sampai aku melihat ternyata riwayat tersebut juga disebutkan oleh Ibnu Abi Syaibah.” Kemudian beliau menyebutkan riwayat Al Atsram dan Ibnu Abi Syaibah. Akan tetapi riwayat tersebut dhaif sebagaimana penjelasan sebelumnya.</p>
<p>Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ad Daruquthni, dan Al Hakim. Dan beliau (Al Hakim) mensahihkannya, yang juga disepakati oleh Adz Dzahabi,</p>
<p class="arab">أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يضع يديه على الأرض قبل ركبتيه</p>
<p>“Bahwasanya Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> biasanya menurunkan tangan terlebih dahulu sebelum lutut.”</p>
<p>Hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> bahwasanya beliau menurunkan tangan sebelum lutut dan mengatakan,</p>
<p class="arab">كان النبي صلى الله عليه وسلم يفعل ذلك</p>
<p>“Dulu Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> juga berbuat demikian.”</p>
<p>Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thahawi dalam <em>Syarh Ma’ani al Atsar</em>, Ad Daruquthni, dan Al Hakim. Beliau juga mengatakan, <em>hadis ini sahih berdasarkan syarat sahih Imam Muslim</em>. Dan Imam Adz Dzahabi sepakat tentangnya. Syekh Al Albani mengatakan dalam <em>Irwa al Ghalil</em>, hadis ini sebagaimana kedua imam (Al Hakim dan Adz Dzahabi) tersebut katakan. Tak lupa, Ibnu Khuzaimah juga mensahihkan hadis ini.</p>
<p>Syekh Al Albani menukil ucapan Al Hakim, <em>aku lebih condong ke hadis yang menjelaskan tentang mendahulukan tangan sebelum lutut karena banyaknya riwayat baik dari sahabat maupun tabiin</em>.</p>
<p>Imam Bukhari <em>rahimahullahu</em> juga menyebutkan atsar dari Ibnu Umar secara <em>muallaq</em> dengan bentuk <em>jazm</em> (pemastian).</p>
<h3><strong>Lebih Afdhal Mana, Lutut Atau Tangan Dulu Ketika Turun Sujud?</strong></h3>
<p>&#8211; Demikianlah penjabaran dalil dari kedua pendapat yang ada. <strong>Yang pasti secara kekuatan dalil, maka pendapat yang kedua lebih tepat.</strong> Hal ini diungkapkan oleh syekh Ahmad Syakir dalam penjelasan beliau terhadap <em>Sunan at Tirmidzi</em>,</p>
<p class="arab">والظاهر من أقوال العلماء في تعليل الحديثين أن حديث أبى هريرة هذا حديث صحيح، وهو أصح من حديث وائل، وهو حديث قولي يرجح على الحديث الفعلي على ما هو الأرجح عند الأصوليين</p>
<p>“Secara zahir dari penjelasan para ulama dalam menjabarkan <em>illah</em> dari kedua hadis, menunjukkan bahwa hadis Abu Hurairah sahih dan lebih sahih dibandingkan hadis Wail. Karena pendapat yang lebih tepat dari para ulama fikih adalah mengutamakan hadis yang bersifat <em>qauli</em> dibandingkan <em>fi’liy</em>.”</p>
<p>Dua ulama penahkik kitab <em>Zaad al Ma’ad</em>, yaitu Syuaib al Arnauth dan Abdul Qadir al Arnauth<em> rahimahumallahu</em> mengatakan,</p>
<p class="arab">بمراجعة التعليقات السابقة يتبين أن المرجح خلاف ما ذهب إليه المصنف (ابن القيم) وأن حديث أبى هريرة هو المرجح على حديث وائل لصحة سنده، ودعوى الاضطراب فيه منتفية لضعف كل الروايات التي فيها الاضطراب</p>
<p>“Dengan melihat penjelasan-penjelasan sebelumnya, bahwa yang tepat adalah berlainan dengan pendapat Ibnul Qayyim. Yaitu bahwa hadis Abu Hurairah lebih sahih dibandingkan hadis Wail secara sanad. Dan dakwaan <em>idhthirrab</em> pada hadis Abu Hurairah terbantahkan dengan keberadaan hadis-hadis yang terduga <em>idhthirrab</em> memang sejak awal lemah.”</p>
<p>&#8211; Akan tetapi hendaknya, perlu dijelaskan pula bahwa secara logika fikih, <strong>pendapat pertama lebih tepat</strong>. Karena semua (dua pendapat) sepakat mengamalkan hadis nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em>, <em>janganlah kalian turun sebagaimana turunnya unta</em>. <strong>Dan unta turun dengan mendahulukan kaki bagian depan (tangannya) sebelum belakang (lututnya).</strong> Hadis yang pertama menunjukkan mendahulukan lutut sebelum tangan dan ini tidak bertentangan dengan penjelasan ahli bahasa bahwa kedua lutut unta ada di tangannya.</p>
<p>Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> melarang seseorang menyerupai cara unta turun atau bangkit. Oleh karenanya, Ibnul Qayyim <em>rahimahullahu</em> mengatakan,</p>
<p class="arab">إن البعير إذا برك فإنه يضع يديه أولاً، وتبقى رجلاه قائمتين، فإذا نهض فإنه ينهض برجليه أولاً، وتبقى يداه على الأرض. وهو صلى الله عليه وسلم نهى في الصلاة عن التشبه بالحيوانات، فنهى عن بروك كبروك البعير، والتفات كالتفات الثعلب، وافتراش كافتراش السبع، وإقعاء كإقعاء الكلب ونقر كنقر الغراب، ورفع الأيدي وقت السلام كأذناب الخيل الشمس، فهدي المصلي مخالف لهدي الحيوانات</p>
<p>“<strong>Unta itu ketika turun maka ia meletakkan tangannya terlebih dahulu dan kedua kaki yang lain masih tegak</strong>. Sebaliknya, ketika bangkit mereka mendirikan kaki terlebih dahulu dan tangannya tetap di tanah. Dan Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> melarang sholat menyerupai cara hewan. Seperti larangan duduk seperti duduknya unta, larangan banyak bergerak seperti serigala, larangan duduk seperti duduknya hewan buas, larangan duduk seperti anjing, larangan sholat sangat cepat seperti gagak yang tengah mematuk, dan juga larangan mengangkat tangan seperti halnya ekor-ekor kuda. Dan seorang yang tengah sholat dilarang menyerupai hal tersebut.”</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullahu</em> juga mengatakan,</p>
<p class="arab">وسر المسألة أن من تأمل بروك البعبير وعلم أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن بروك كبروك البعير، علم أن حديث وائل بن حجر هو الصواب والله أعلم</p>
<p>“Inti masalahnya adalah sebenarnya jika seseorang memahami bagaimana unta turun dan paham bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> melarang turun ke sujud sebagaimana turunnya unta, maka ia akan paham bahwa hadis Wail adalah yang lebih tepat.”</p>
<h3><strong>Kesimpulannya:</strong></h3>
<p><span style="color: #ff0000;"><em>Pendapat yang menyatakan untuk mendahulukan tangan dibanding lutut secara riwayat lebih tepat. Sementara pendapat yang menyatakan turun lutut terlebih dahulu lebih kuat secara pandangan fikih. Dan diketahui bersama, bahwa hadis yang pertama lebih kuat dan inilah pandangan yang lebih kuat yaitu mendahulukan tangan</em></span>. <em>wallahu a’lam.</em></p>
<p><strong>(Penjelasan ini dirangkum oleh Ustadz Muhammad Nur Faqih, S.Ag. dan Tim Redaksi Belajarsholat.com dari Islamweb.net)</strong></p>
<p><strong>Kritik dan saran ilmiyah ke redaksi: admin @ belajarsholat.com</strong></p>The post <a href="https://belajarsholat.com/1943-tata-cara-turun-sujud-mendahulukan-lutut-atau-tangan-dulu.html">Tata Cara Turun Sujud, Mendahulukan Lutut Atau Tangan Dulu?</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sunnah-Sunnah Sholat Qauliyah</title>
		<link>https://belajarsholat.com/1144-sunnah-sunnah-sholat-qauliyah.html</link>
					<comments>https://belajarsholat.com/1144-sunnah-sunnah-sholat-qauliyah.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Nur Faqih, S.Ag.]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 Apr 2022 04:21:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bacaan Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan sunnah sholat]]></category>
		<category><![CDATA[doa sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah-sunnah sholat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=1144</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sunnah-sunnah Sholat Qauliyah Sunnah-Sunnah Qauliyah adalah bacaan atau ucapan yang disunnahkan untuk dibaca ketika seseorang dalam sholat. Para ulama menyebutkan sunnah-sunnah qauliyyah dalam sholat adalah sebagai berikut: Membaca Doa Istiftah Membaca doa istiftah merupakan sunah. Sebagaimana diungkapkan oleh Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullahu, هذا مستحَبٌّ، ولو ترك فلا بأس، لكنَّه مُسْتحب “Membaca [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/1144-sunnah-sunnah-sholat-qauliyah.html">Sunnah-Sunnah Sholat Qauliyah</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2>Sunnah-sunnah Sholat Qauliyah</h2>
<p>Sunnah-Sunnah Qauliyah adalah bacaan atau ucapan yang disunnahkan untuk dibaca ketika seseorang dalam sholat. Para ulama menyebutkan sunnah-sunnah qauliyyah dalam sholat adalah sebagai berikut:</p>
<h3><strong>Membaca Doa Istiftah</strong></h3>
<p>Membaca doa istiftah merupakan sunah. Sebagaimana diungkapkan oleh Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz <em>rahimahullahu</em>,</p>
<p class="arab">هذا مستحَبٌّ، ولو ترك فلا بأس، لكنَّه مُسْتحب</p>
<p>“Membaca doa istiftah hukumnya sunah. Seandainya seorang meninggalkannya, maka tidak ada masalah karena hukumnya sunah.”<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a>. Pendapat ini merupakan pendapat mayoritas ulama mazhab, seperti mazhab Hanafi yang diwakili oleh Al Ainy dalam <em>Al Banaayah</em> 2/184, mazhab Syafii yang diwakili oleh Imam an Nawawi dalam <em>Al Majmu’</em> 3/318, dan mazhab Hanbali yang diwakili oleh Al Buhuty dalam <em>Syarh Muntaha al Iraadat</em> 1/220.</p>
<p><strong><em>Versi Doa Istiftah</em></strong></p>
<p>Hendaknya seorang muslim mengetahui beberapa macam doa istiftah yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em>. Sehingga ia bisa mengamalkan hadis-hadis tersebut dalam sholat-sholatnya. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Bin Baaz <em>rahimahullahu</em>,</p>
<p class="arab">السنة أن ينوع في الاستفتاح ، ولم يكن النبي يجمعها عليه الصلاة والسلام</p>
<p>“Yang disunahkan adalah seseorang memvariasikan bacaan doa istiftah dalam sholat-sholatnya dan tidak mengumpulkannya dalam satu sholat.”<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a></p>
<p>Di antara <a href="https://belajarsholat.com/bacaan-doa-iftitah-dan-artinya-dilengkapi-latin-1082.html" target="_blank" rel="noopener">doa-doa istiftah</a> yang bersumber dari Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> adalah:</p>
<ol>
<li><strong>Versi Pertama</strong></li>
</ol>
<p>Diriwayatkan dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, bahwasanya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> ketika diam di antara takbiratul ihram dan membaca surat Al Fatihah beliau membaca,</p>
<p class="arab">اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ ، كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الخَطَايَا ، كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ ، وَالثَّلْجِ ، وَالبَرَدِ</p>
<p><em>Allahumma baa’id bainii wabaina khathaayaya kamaa baa’adta bainal masyriqi wal maghrib. Allahumma naqqinii minal khathaayaa kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minad danas. Allahumma ighsil khathaayaaya bil maa’i wats tsalji wal barad</em></p>
<p>“Ya Allah jauhkanlah aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara barat dan timur. Ya Allah bersihkanlah kesalahanku sebagaimana pakaian putih yang disucikan dari kotoran. Ya Allah cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan air dingin.”<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a></p>
<ol start="2">
<li><strong>Versi Kedua</strong></li>
</ol>
<p>Diriwayatkan oleh Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallama </em>juga mengawali sholatnya (setelah takbiratul ihram) dengan doa,</p>
<p class="arab">سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ ، وَلَا إِلَهَ غَيْرَكَ</p>
<p><em>Subhanakallahumma wa bihamdika, wa tabaarakasmuka wata’aala jadduka, walaa ilaaha ghairuk</em></p>
<p>“Maha suci Engkau ya Allah dan segala hanya tercurah untuk-Mu. Dan maha berkah nama-Mu dan maha tinggi Engkau. Dan tiada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau.”<a href="#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a></p>
<ol start="3">
<li><strong>Versi Ketiga</strong></li>
</ol>
<p>Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, bahwasanya beliau juga membaca doa berikut ketika mengerjakan sholat,</p>
<p class="arab">وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ، وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ، إِنَّ صَلَاتِي ، وَنُسُكِي ، وَمَحْيَايَ ، وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ، لَا شَرِيكَ لَهُ ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ ، اللهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي ، وَأَنَا عَبْدُكَ ، ظَلَمْتُ نَفْسِي ، وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا ، إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ ، وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ</p>
<p><em>Wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samaawaati wal ardha haniifa. Wamaa ana minal musyrikiin. Inna shalaati, wa nusuki, wa mahyaaya, wa mamaatii lillahi Rabbil aalamiin. Laa syariika lahu, wa bidzaalika umirtu wa anaa awwalul muslimiin. Allahumma antal maliku laa ilaaha illa anta, anta Rabbi, wa anaa abduka, dzhalamtu nafsii, wa’taraftu bidzanbii, faghfir lii dzunuubi jami’a, innahuu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta. Wahdinii li ahsanil akhlaaqi laa yahdii li ahsaniha illa anta. Washrif anni sayyiaha laa yashrifu anni sayyiaha illa anta. Labbaika wa sa’daika wal khairu kulluhu fii yadaika. Wasy syarru laisa ilaik. Ana bika wa ilaika. Tabaarakta wa ta’aalaita. Astaghfiruka wa atuubu ilaika</em></p>
<p>“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku, dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintah-Nya, dan aku termasuk orang yang berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Menguasai. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau dan Maha Terpuji. Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hamba-Mu. Sungguh aku telah mendzaalimi diriku sendiri dan ku akui dosa-dosaku. Karena itu ampunilah semua dosaku. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni segala dosa melainkan Engkau. Tunjukilah aku akhlak yang paling terbaik. Tidak ada yang dapat menunjukkannya kecuali hanya Engkau. Jauhkanlah akhlak yang buruk dariku, karena sesungguhnya tidak ada yang sanggup menjauhkannya selain Engkau. Akan ku patuhi segala perintah-Mu dan dengan Bahagia kusambut perintah-Mu. Segala kebaikan berada di tangan-Mu. Sedangkan keburukan tidak datang dari Mu. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Kumohon ampunan dari-Mu dan aku bertobat kepada-Mu”<a href="#_ftn5" name="_ftnref5">[5]</a></p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullahu</em> menambahkan keterangan,</p>
<p class="arab">الْمَحْفُوظَ أَنَّ هَذَا الِاسْتِفْتَاحَ ، إِنَّمَا كَانَ يَقُولُهُ – عليه الصلاة والسلام &#8211; فِي قِيَامِ اللَّيْلِ</p>
<p>“Yang tepat adalah bahwa doa istiftah ini sering dibaca Nabi Muhammad ﷺ saat sholat malam.”<a href="#_ftn6" name="_ftnref6">[6]</a></p>
<ol start="4">
<li><strong>Versi Keempat</strong></li>
</ol>
<p>Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, bahwa Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> ketika sholat malam beliau membaca,</p>
<p class="arab">اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ ، أَنْتَ الحَقُّ ، وَوَعْدُكَ الحَقُّ ، وَقَوْلُكَ الحَقُّ ، وَلِقَاؤُكَ الحَقُّ ، وَالجَنَّةُ حَقٌّ ، وَالنَّارُ حَقٌّ ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ ، وَبِكَ آمَنْتُ ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ ، وَبِكَ خَاصَمْتُ ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ ، أَنْتَ إِلَهِي لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ</p>
<p><em>Allahumma lakal hamdu anta nuurus samaawaati wal ardhi. Walakal hamdu anta qayyimus samaawaati wal ardhi. Walakal hamdu anta rabbus samaawaati wal ardhi waman fiihinna. Antal haqqu, wa wa’dukal haqqu, wa qaulukal haqqu, wa liqaaukal haqqu, wal jannatu haqqun, wannaari haqqun, wan nabiyyuna haqqun, was saa’atu haqqun, allahumma laka aslamtu, wa bika aamantu, wa alaika tawakkaltu, wa ilaika anabtu, wa bika khashamtu, wa ilaika haakamtu, fahgfir lii maa qaddamtu wamaa akkhartu, wa maa asrartu, wamaa a’lantu, anta ilaahii laa ilaaha illa anta</em></p>
<p>“Ya Allah, segala puji bagi Engkau. Engkau pemelihara langit dan bumi serta orang-orang yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau memiliki kerajaan langit, bumi dan siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau adalah cahaya bagi langit, bumi dan siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau Raja langit dan bumi dan Raja bagi siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkaulah Al Haq. Janji-Mu pasti benar, firman-Mu pasti benar, pertemuan dengan-Mu pasti benar, firman-Mu pasti benar, surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya, para nabi itu membawa kebenaran, dan Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> itu membawa kebenaran, hari kiamat itu benar adanya. Ya Allah, kepada-Mu lah aku berserah diri.Kepada-Mu lah aku beriman. Kepada-Mu lah aku bertawakal. Kepada-Mu lah aku bertaubat. Kepada-Mu lah aku mengadu. Dan kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah dosa-dosaku. Baik yang telah aku lakukan maupun yang belum aku lakukan. Baik apa yang aku sembunyikan maupun yang aku nyatakan. Engkaulah Al Muqaddim dan Al Muakhir. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau”<a href="#_ftn7" name="_ftnref7">[7]</a></p>
<ol start="5">
<li><strong>Versi Kelima</strong></li>
</ol>
<p>Diriwayatkan dari Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, bahwasanya Nabi Muhammad <em>shalllallahu ‘alaihi wasallama </em>ketika sholat malam maka beliau membaca,</p>
<p class="arab">اللهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ ، وَمِيكَائِيلَ ، وَإِسْرَافِيلَ ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ ، فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ</p>
<p><em>Allahumma rabba jibraaila, wa mika’ila, wa israafiila, faathiras samaawaati wal ardhi, aalimal ghaibi wasy syahaadati, anta tahkumu baina ibaadik, fiima kaanu fiihi yakhtalifuun, Ihdinii limakhtulifa fiihi minal haqqi bi idznika innaka tahdii man tasyaa’u ilaa shiraathin mustaqiim</em></p>
<p>“Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail, Israfil, yang menciptakan langit dan bumi, yang maha mengetahui hal ghaib dan yang nampak, Engkaulah yang menjadi hakim di antara hamba-hamba-Mu dalam setiap hal yang mereka perselisihkan. Tunjukilah aku kebeneran terhadap apa yang mereka perselisihkan, dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk menuju jalan yang lurus, kepada siapa saja yang Engkau kehendaki.”<a href="#_ftn8" name="_ftnref8">[8]</a></p>
<ol start="6">
<li><strong>Versi Keenam</strong></li>
</ol>
<p>Diriwayatkan bahwa suatu ketika seorang sahabat memasuki shaf sholat kemudian memulai dengan bacaan,</p>
<p class="arab">الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ</p>
<p><em>Alhamdu lillahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi</em></p>
<p>“Segala pujian hanya milik Allah, pujian yang banyak, pujian yang terbaik, dan pujian-pujian yang penuh keberkahan.”<a href="#_ftn9" name="_ftnref9">[9]</a></p>
<ol start="7">
<li><strong>Versi Ketujuh</strong></li>
</ol>
<p>Diriwayatkan dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, ketika beliau dan sahabat lain sholat bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em>, datang seorang laki-laki mengucapkan doa,</p>
<p class="arab">اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا ، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلً</p>
<p><em>Allahu akbar kabiira, walhamdu lillahi katsiira, wa subhaanallahi bukratan wa ashiila</em></p>
<p>“Maha besar Allah dengan segala kebesaran, segala pujian hanya untuk-Nya dengan pujian yang banyak, dan maha suci Allah, baik pagi maupun petang.”<a href="#_ftn10" name="_ftnref10">[10]</a></p>
<ol start="8">
<li><strong>Versi Kedelapan</strong></li>
</ol>
<p>Diriwayatkan dari Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, bahwasanya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> membaca dzikir berikut di awal sholat malamnya,</p>
<p class="arab"><em>Allahu akbar                                       </em>10x</p>
<p class="arab"><em>Alhamdu lillahi                                   </em>10x</p>
<p class="arab"><em>Subhaanallahi                                    </em>10x</p>
<p class="arab"><em>Laa ilaaha illallahu                            </em>10x</p>
<p class="arab"><em>Astaghfirullaha                                  </em>10x</p>
<p>Kemudian beliau melanjutkan dengan doa,</p>
<p class="arab">اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَاهْدِنِي ، وَارْزُقْنِي وَعَافِنِي ، أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ ضِيقِ الْمَقَامِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</p>
<p><em>Allahummaghfir lii wahdinii warzuqnii wa’aafinii, a’udzu billahi min dhiiqil maqaami yaumal qiyaamati</em></p>
<p>“Ya Allah, ampunilah aku, berilah petunjuk untukku, berikan aku rezeki dan keselamatan, aku berlindung kepada Allah dari sempitnya hari kiamat.”<a href="#_ftn11" name="_ftnref11">[11]</a></p>
<p><strong><em>Apakah Boleh Dibaca di Sholat Fardhu dan Sunnah</em></strong><strong>?</strong></p>
<p>Beberapa versi doa istiftah di atas, selama tidak disebutkan dikhususkan dengan sholat malam, maka diperbolehkan dibaca di sholat fardhu dan sunnah. Adapun yang terdapat keterangan bahwa Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> melakukannya sholat malam maka lebih baik dikerjakan di sholat malam.</p>
<h3><strong>Membaca Ta&#8217;awudz Setelah </strong><strong>Doa Iftitah</strong></h3>
<p><strong>Sunnah sholat</strong> berikutnya adalah membaca ta&#8217;awudz Diriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudry <em>radhiyallahu ‘</em>anhu, bahwasanya Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> memulai sholatnya dengan doa <em>istiftah</em> kemudian mengucapkan,</p>
<p class="arab">أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم من همزه، ونفخه، ونفثه</p>
<p><em>A’udzu billahis sami’il ‘aliimi minasy syaithaani ar rajiimi min hamzihi, wa nafkhihi, wa naftsihi</em></p>
<p>“Aku berlindung kepada Allah yang maha Mendengar lagi maha Mengetahui dari godaan syaithan, baik kegilaan yang mereka sebabkan, atau kepongahan mereka, atau ucapan-ucapan tercela mereka.”</p>
<h3><strong>Mengucapkan <em>Aamiin</em> Setelah Membaca Surat Al Fatihah</strong></h3>
<p>Disunahkan bagi orang yang sholat sendiri, imam atau makmum untuk mengucapkan <em>aamiin</em>, dikeraskan ketika sholat <em>jahriyah </em>(yang dikeraskan bacaannya) dan dipelankan ketika sholat <em>sirriyah</em> (yang dipelankan bacaannya). Berdasarkan hadis Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em>,</p>
<p class="arab">إِذَا أَمَّنَ الْإِمَامُ ، فَأَمِّنُوا ، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</p>
<p>“Apabila imam mengucapkan <em>aamiin</em>, maka ucapkanlah. Barangsiapa yang ucapannya bertepatan dengan ucapan malaikat, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”<a href="#_ftn12" name="_ftnref12">[12]</a></p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullahu</em>,</p>
<p class="arab">يُسْتَحَبُّ لِمَنْ قَرَأَ الْفَاتِحَةَ أَنْ يَقُولَ بَعْدَهَا: آمِينَ &#8230; قَالَ أَصْحَابُنَا وَغَيْرُهُمْ: وَيُسْتَحَبُّ ذَلِكَ لِمَنْ هُوَ خَارِجُ الصَّلَاةِ، وَيَتَأَكَّدُ فِي حَقِّ الْمُصَلِّي، وَسَوَاءٌ كَانَ مُنْفَرِدًا أَوْ إِمَامًا أَوْ مَأْمُومًا، وَفِي جَمِيعِ الْأَحْوَالِ</p>
<p>“Disunahkan bagi orang yang membaca surat Al Fatihah untuk mengucapkan <em>aamiin</em> setelahnya. Sahabat kami dan selainnya mengatakan, disunahkan pula mengucapkan <em>aamiin</em> di luar sholat. Lebih ditekankan saat sholat. Baik sendiri, menjadi imam, atau menjadi makmum, dan dalam setiap kondisi.”<a href="#_ftn13" name="_ftnref13">[13]</a></p>
<h3><strong>Membaca Surat Pilihan Setelah Al Fatihah</strong></h3>
<p>Kemudian sunnah sholat berikutnya adalah mambaca surat pilihan setelah membaca surat Al-Fatihah. Abu Barzah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> mengatakan,</p>
<p class="arab">ان النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يقرَأُ في الفجرِ ما بين السِّتِّينَ إلى المائةِ آيةٍ</p>
<p>“Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> membaca di sholat shubuh antara 60-100 ayat (setelah membaca surat Al Fatihah -pent)”<a href="#_ftn14" name="_ftnref14">[14]</a></p>
<p>Ibnu Siirin <em>rahimahullahu</em> mengungkapkan,</p>
<p class="arab">لا أعلَمُهم يختلفون أنه يقرأ في الركعتين الأُوليَيْنِ بفاتحة الكتاب وسورة، وفي الأُخريَيْنِ بفاتحة الكتاب</p>
<p>“Aku tidak mengetahui ada perbedaan di antara para sahabat terkait diwajibkan membaca surat Al Fatihah dan disunahkan membaca surat lain. Kemudian di dua rakaat berikutnya cukup membaca surat Al Fatihah.”<a href="#_ftn15" name="_ftnref15">[15]</a></p>
<h4><strong>Surat Yang Disunahkan dibaca di Sholat Shubuh</strong></h4>
<p><em> </em>Disunahkan memanjangkan bacaan di sholat shubuh. Ibnul Qayyim <em>rahimahullahu</em> mengatakan,</p>
<p class="arab">وأجمَعَ الفقهاءُ أن السنَّة في صلاة الفجر أن يقرأ بطِوال المفصل</p>
<p>“Para ulama sepakat tentang disunahkan membaca surat-surat panjang di surat <em>al mufasshal</em>.”</p>
<p>Yang dimaksud adalah dari surat Al Hujurat sampai surat Al Buruj.</p>
<p>Di antara surat yang Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> baca adalah surat Qaaf sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat,</p>
<p class="arab">أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم كان يقرَأُ في الفجرِ بـ: ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ [سورة ق: 1] ونحوِها</p>
<p>“Bahwasanya Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> biasa membaca surat Qaaf di sholat shubuh dan yang sepadan dengannya.”</p>
<p>Para ulama di majelis fatwa <em>Al Lajnah ad Daaimah</em> mengatakan,</p>
<p class="arab">المشروع في صلاة الفجر إطالة القراءة ، ويقرأ ما تيسر من القرآن بعد الفاتحة من غير تخصيص لسورة معينة ، إلا ما ورد الدليل بتخصيصه ؛ كسورة السجدة ، وسورة الدهر &#8211; هل أتى على الإنسان- في صلاة الفجر يوم الجمعة</p>
<p>“Yang disunnahkan untuk dibaca dalam sholat shubuh adalah surat-surat yang panjang. Disunnahkan untuk membaca surat yang mudah bagi seseorang tanpa harus mengkhususkan dengan surat tertentu, kecuali yang ada dalilnya. Seperti surat As Sajdah dan surat Al Insan ketika hari Jumat.”</p>
<p>(Fataawa al Lajnah ad Daimah 5/340)</p>
<h3><strong>Membaca Tasbih di Ruku dan Sujud Lebih Dari Sekali</strong></h3>
<p>Syaikh Abdul Karim al Khudhair <em>hafidzahullahu</em> mengatakan,</p>
<p class="arab">يتم الامتثال لقوله -عليه الصلاة والسلام-: «اجعلوها في ركوعكم» «اجعلوها في سجودكم» [أبو داود: 869]، بمرة واحدة، وهذا هو القدر الواجب عند من يوجب التسبيح كالحنابلة، فيكفي ويتم الامتثال بذلك، لكن الثلاث أكمل، وكلما كثر التسبيح بحيث لا يشق على المأمومين إذا كان إمامًا فله أجره.</p>
<p>“(membaca tasbih sekali) mencukupi atau telah dikatakan menjalankan sunnah Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em>, <em>jadikanlah tasbih tersebut di ruku kalian</em>, atau sabda Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em>, dan <em>jadikanlah tasbih tersebut di sujud kalian</em>.<a href="#_ftn16" name="_ftnref16">[16]</a> Tersebut di dalamnya bahwa sudah terpenuhi meski hanya sekali. Ini kadar yang diwajibkan oleh syariat. Tentu saja di kalangan para ulama yang mewajibkan <em>tasbih</em> seperti ulama mazhab Hanbali. Maka cukup sekali, Adapun sampai tiga kali maka hal tersebut lebih sempurna.”<a href="#_ftn17" name="_ftnref17">[17]</a></p>
<h3><strong>Membaca Doa Sebelum Salam</strong></h3>
<p>Sunnah sholat yang banyak ditinggalkan saat ini adalah membaca <a href="https://mbahgimun.blogspot.com/2022/04/doa-qunut-shalat-tarawih-dan-witir.html" target="_blank" rel="noopener">doa-doa</a> sebelum salam, berikut ini doa-doa yang dibaca:</p>
<ol>
<li>Doa yang diriwayatkan dari Abu Bakr ash Shiddiq <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, bahwa beliau minta diajarkan doa oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> dan beliau bersabda,</li>
</ol>
<p class="arab">اللهم إني ظلمت نفسي ظلما كثيرا ولا يغفر الذنوب إلا أنت، فاغفر لي مغفرة من عندك وارحمني إنك أنت الغفور الرحيم</p>
<p><em>Allahumma inni dzalamtu nafsii dzulman katsiira, walaa yaghfirudz dzunuuba illa anta. Faghfir lii maghfiratan min ‘indika warhamnii innaka anta al ghafuuru ar rahiimu</em></p>
<p>“Ya Allah, sungguh aku telah berlaku kezaliman yang banyak. Dan tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau. Ampunilah dosa-dosaku dengan ampunan dari sisi-Mu. Dan rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang maha pengampun dan maha penyayang.”<a href="#_ftn18" name="_ftnref18">[18]</a></p>
<ol start="2">
<li>Doa yang diriwayatkan dari Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>,</li>
</ol>
<p class="arab">اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ <strong>مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ </strong>، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ</p>
<p><em>Allahumma innii audzubika min adzaabi jahannama, wa min adzaabil qabri, wa min fitnalil mahyaa wal mamaat, wa min syarri fitnail masiihid dajjaal</em></p>
<p>“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka Jahannam dan siksa kubur, dari fitnah hidup dan mati, dan dari keburukan fitnah Dajjal.”<a href="#_ftn19" name="_ftnref19">[19]</a></p>
<ol start="3">
<li>Doa</li>
</ol>
<p class="arab">اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْتُ ، وَمِنْ شَرِّ مَا لَمْ أَعْمَلْ</p>
<p><em>Allahumma inni a’udzubika min syarri maa amiltu, wa min syarri maa lam a’mal</em></p>
<p>“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku sebelumnya dan dari keteledoranku meninggalkan ketaatan.” <a href="#_ftn20" name="_ftnref20">[20]</a></p>
<ol start="4">
<li>Doa</li>
</ol>
<p class="arab">اللَّهُمَّ حَاسِبْنِي حِسَابًا يَسِيرًا</p>
<p><em>Allahumma haasibni hisaaban yasiiran</em></p>
<p>“Ya Allah, hisablah aku dengan hisab yang mudah.”<a href="#_ftn21" name="_ftnref21">[21]</a></p>
<ol start="5">
<li>Doa</li>
</ol>
<p class="arab">اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ</p>
<p><em>Allahumma ighfir lii maa qaddamtu wa maa akkhartu wa maa asrartu wa maa a’lantu antal muqaddimu wa antal muakkhiru wa anta alaa kulli syaiin qadiir</em></p>
<p>“Ya Allah ampunilah dosaku yang telah lalu dan akan datang, apa yang kusembunyikan dan apa yang kutampakkan, Engkaulah Dzat yang mendahului dan mengakhiri dan Engkau maha berkuasa atas segala sesuatu.”<a href="#_ftn22" name="_ftnref22">[22]</a></p>
<h3><strong>Mengucapkan Salam Yang Kedua</strong></h3>
<p>Sunnah sholat qauliyah yang terakhir adakah mengucapkan salam yang kedua. Hal ini tidak sebagaimana salam yang pertama, maka salam kedua adalah sunnah dalam sholat. Sebagaimana dikemukakan oleh Ibnul Mundzir <em>rahimahullahu</em> yang menyatakan bahwa salam ke kanan (yang pertama) adalah rukun merupakan consensus para ahli ilmu.</p>
<p><strong>Artikel ini ditulis oleh Ustadz Muhammad Nur Faqih, S.Ag. (Beliau Lulusan STDI Jember Jurusan Hadis, Pengasuh Belajarsholat.com, Tanyahadis.com dan beliau aktif mengisi kajian-kajian ilmiyah di berbagai kota)</strong></p>
<p><strong>___________</strong></p>
<p><strong>Footnote:</strong></p>
<p><a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> Fataawa Nuur alad Darb 10/15.<br />
<a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> Fataawa Nuur alad Darb 8/172.<br />
<a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> HR. Bukhari 74 dan Muslim 598.<br />
<a href="#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> HR. Abu Dawud 776 dan At Tirmidzi 243.<br />
<a href="#_ftnref5" name="_ftn5">[5]</a> HR. Muslim 771 dan An Nasa’i 897.<br />
<a href="#_ftnref6" name="_ftn6">[6]</a> Zaad al Ma’ad 1/196.<br />
<a href="#_ftnref7" name="_ftn7">[7]</a> HR. Bukhari 7499 dan Muslim 1758.<br />
<a href="#_ftnref8" name="_ftn8">[8]</a> HR. Muslim 770.<br />
<a href="#_ftnref9" name="_ftn9">[9]</a> HR. Muslim 600 dan An Nasa’iy 901.<br />
<a href="#_ftnref10" name="_ftn10">[10]</a> HR. Muslim 601.<br />
<a href="#_ftnref11" name="_ftn11">[11]</a> HR. An Nasa’iy 1617.<br />
<a href="#_ftnref12" name="_ftn12">[12]</a> HR. Bukhari 780 dan Muslim 410.<br />
<a href="#_ftnref13" name="_ftn13">[13]</a> Tafsir Ibn Katsir 1/144-145.<br />
<a href="#_ftnref14" name="_ftn14">[14]</a> HR. Bukhari 541 dan Muslim 461.<br />
<a href="#_ftnref15" name="_ftn15">[15]</a> Fathul Baari li Ibni Rajab 4/477.<br />
<a href="#_ftnref16" name="_ftn16">[16]</a> HR. Abu Dawud 869.<br />
<a href="#_ftnref17" name="_ftn17">[17]</a> https://shkhudheir.com.<br />
<a href="#_ftnref18" name="_ftn18">[18]</a> HR. Bukhari 832.<br />
<a href="#_ftnref19" name="_ftn19">[19]</a> HR. Muslim 588.<br />
<a href="#_ftnref20" name="_ftn20">[20]</a> HR. Muslim 2716.<br />
<a href="#_ftnref21" name="_ftn21">[21]</a> HR. Ibnu Khuzaimah 849.<br />
<a href="#_ftnref22" name="_ftn22">[22]</a> HR. Bukhari 6398.</p>The post <a href="https://belajarsholat.com/1144-sunnah-sunnah-sholat-qauliyah.html">Sunnah-Sunnah Sholat Qauliyah</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://belajarsholat.com/1144-sunnah-sunnah-sholat-qauliyah.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kesalahan Imam Sebelum Membaca Doa Qunut Sholat Witir</title>
		<link>https://belajarsholat.com/1131-kesalahan-imam-sebelum-membaca-doa-qunut-sholat-witir.html</link>
					<comments>https://belajarsholat.com/1131-kesalahan-imam-sebelum-membaca-doa-qunut-sholat-witir.html#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Nur Faqih, S.Ag.]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Apr 2022 01:36:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hukum Seputar Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[doa qunut]]></category>
		<category><![CDATA[sholat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[sholat witir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=1131</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kesalahan Imam Sebelum Membaca Doa Qunut Sholat Witir Dalam sholat tarawih disunnahkan bagi kita untuk melakukan doa qunut di pertengahan Ramadhan Baca artikel: Panduan Cara Sholat Tarawih dan Witir Pembaca budiman, sebagaimana diketahui bersama, bahwa membaca, ربنا ولك الحمد rabbanaa walakal hamdu “Wahai Rabb kami, segala pujian hanya milik-Mu.” merupakan sesuatu yang diwajibkan dalam sholat [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/1131-kesalahan-imam-sebelum-membaca-doa-qunut-sholat-witir.html">Kesalahan Imam Sebelum Membaca Doa Qunut Sholat Witir</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Kesalahan Imam Sebelum Membaca Doa Qunut Sholat Witir</strong></h2>
<p>Dalam sholat tarawih disunnahkan bagi kita untuk melakukan doa qunut di pertengahan Ramadhan</p>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>Baca artikel: Panduan Cara Sholat Tarawih dan Witir</strong></p>
<p>Pembaca budiman, sebagaimana diketahui bersama, bahwa membaca,</p>
<p class="arab">ربنا ولك الحمد</p>
<p><em>rabbanaa walakal hamdu</em></p>
<p>“Wahai Rabb kami, segala pujian hanya milik-Mu.”</p>
<p>merupakan sesuatu yang diwajibkan dalam sholat (<em>Waajibaat ash Shalaah</em>). Ini diperuntukkan baik untuk imam, makmum, maupun orang yang sholat sendirian. Hal yang patut disayangkan terjadi saat ini adalah seorang imam ketika hendak membaca doa qunut witir di sholat tarawih, setelah mengucapkan,</p>
<p class="arab">سمع الله لمن حمده</p>
<p><em>Sami’allahu liman hamidahu</em></p>
<p>“Allah mendengar orang-orang yang memuji-Nya.”</p>
<p>Ia langsung membaca <a href="https://almanhaj.or.id/13816-semua-hadits-tentang-qunut-shubuh-terus-menerus-adalah-lemah-1.html" target="_blank" rel="noopener"><strong>doa qunut</strong></a>. Tanpa membaca <em>rabbanaa walakal hamdu</em>. Maka sholat yang seperti ini dengan disengaja maka sholatnya tidak sah.</p>
<p>Seharusnya seorang imam memahami hal ini. Karena Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallama</em> bersabda,</p>
<p>“Seorang imam adalah yang paling bertanggung jawab.”<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a></p>
<p>Yakni bertanggung jawab dengan sholat orang-orang yang berada di belakangnya. Tak heran jika para ulama khawatir ketika diminta menjadi seorang imam karena tanggung jawab yang begitu besar untuk menanggung sholat makmum. Semakin banyak jamaah di belakangnya, maka akan semakin banyak pula orang yang menjadi tanggungannya. Jika hutang 1000 riyal dari orang lain yang kita tanggung saja sudah terasa berat, maka bagaimana jika kitalah yang menanggung sholat 1000 orang di belakang kita?!</p>
<p><strong>Diterjemahkan dari potongan ceramah Syaikh Dr. Shalih Al Ushaimy <em>hafidzahullahu</em> yang diunggah di akun twitter beliau.</strong></p>
<p><strong>Catatan:</strong><br />
<em><a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> HR. Abu Dawud 517.</em></p>
<p>***</p>
<p><strong>Artikel ini ditulis oleh Ustadz Muhammad Nur Faqih, S.Ag. (Beliau Lulusan STDI Jember Jurusan Hadis, Pengasuh Belajarsholat.com, Tanyahadis.com dan beliau aktif mengisi kajian-kajian ilmiyah di berbagai kota)</strong></p>The post <a href="https://belajarsholat.com/1131-kesalahan-imam-sebelum-membaca-doa-qunut-sholat-witir.html">Kesalahan Imam Sebelum Membaca Doa Qunut Sholat Witir</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://belajarsholat.com/1131-kesalahan-imam-sebelum-membaca-doa-qunut-sholat-witir.html/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
