Hal-Hal Yang Dianggap Membatalkan Sholat, Ternyata Tidak
Di antara bentuk kepatuhan kita kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ adalah dengan mempelajari hal-hal yang membatalkan shalat. Hal ini sebagai wujud menaati sabda beliau ﷺ:
وصَلُّوا كما رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
“Dan sholatlah kalian sebagaimana kalian melihatku sholat.” (HR Bukhari 6008)
Para ulama fikih sejak dahulu telah menulis banyak karya dalam kitab-kitab mereka tentang perkara ini. Dalam beberapa hal mereka sepakat, dan dalam sebagian lainnya mereka berbeda pendapat. Namun ada juga beberapa hal yang dikira banyak orang sebagai pembatal shalat, padahal tidak membatalkan shalat. Di antaranya:
Bergerak Karena Ada Perlu
Dalam beberapa kondisi, beberapa orang sering mempertanyakan keabsahan sholat orang yang membawa anak kecil. Pasalnya, mereka melihat orang tersebut banyak bergerak untuk menaik-turunkan anaknya. Padahal gerakan yang demikian tidaklah membatalkan sholat mereka.
Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Abu Qatadah al Anshari radhiyallahu ‘anhu:
أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ كانَ يصلِّي وَهوَ حاملٌ أُمَامَةَ بنتَ زينبَ بنتِ رسولِ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ فإذا سجدَ وضعَها وإذا قامَ حملَها
“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama pernah sholat sembari menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama. Ketika beliau sujud, beliau meletakkannya. Dan ketika berdiri, beliau kembali menggendongnya.” (HR Abu Dawud 917)
Oleh karena itu, para ulama fikih memberikan batasan gerakan yang bisa membatalkan sholat, yaitu:
- Gerakan yang terus menerus;
- Tanpa ada kebutuhan;
- Bukan gerakan sederhana, melainkan gerakan yang banyak.
Adapun gerakan sekedarnya dan memang diperlukan, seperti menggaruk bagian tubuh yang gatal agar tenang ketika sholat, meletakkan anak kecil yang tengah digendong, atau menyingirkan alas sholat yang tidak sengaja terkena najis tidaklah membatalkan sholat.
Bertahmid Saat Bersin di Dalam Sholat
Tidak banyak yang mengetahui bahwa mengucapkan tahmid ketika bersin di dalam shalat tidak membatalkan shalat. Bahkan hal tersebut disyariatkan, baik di dalam maupun di luar sholat.
Hal ini berdasarkan hadis dari Rifa’ah bin Rafi’ radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
صلَّيتُ خلْفَ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فعطِسْتُ فقلتُ الحمدُ للهِ حمدًا كثيرًا طيِّبًا مُبارَكًا فيه مُباركًا عليِه كما يُحِبُّ ربُّنا ويرْضى فلمَّا صلَّى رسولُ اللِه صلَّى اللهُ عليِه وسلَّمَ انْصرفَ فقال منِ المُتكلِّمُ في الصلاةِ. فلم يتكلَّم أحدٌ، ثم قالَها الثانيةَ : منِ المُتكلِّمُ في الصلاةِ. فلم يتكلَّم أحدٌ، ثم قالها الثالثةُ : منِ المُتكلِّمُ في الصلاةِ. فقال رِفاعةُ بنُ رافِعِ ابنِ عَفْراءَ : أنَا يا رسولَ اللهِ قال : كيف قُلتَ ؟ قال قُلتُ : الحمدُ للهِ حمدًا كثيرًا طيِّبًا مُباركًا فيِه، مُباركًا عليِه كما يُحِبُّ ربُّنا ويرْضى. فقال النبيُّ صلَّى اللهُ عليِه وسلَّمَ ( والَّذي نفْسِي بيدِهِ، لقد ابْتَدَرَها بِضعةٌ وثلاثونَ مَلَكًا أيُّهم يَصْعدُ بِها
“Aku shalat di belakang Rasulullah ﷺ, lalu aku bersin dan aku berkata: Alhamdulillah, Hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih Kamaa yuhibbu Rabbuna wa yardhaa (Segala puji bagi Allah, dengan pujian yang banyak, baik, penuh berkah di dalamnya dan penuh berkah atasnya, sebagaimana yang dicintai dan diridai oleh Rabb kami). Ketika Rasulullah ﷺ selesai shalat, beliau menoleh lalu bersabda: ‘Siapa yang tadi berbicara dalam shalat?’
Tidak seorang pun menjawab.
Beliau ulangi untuk kedua kalinya: ‘Siapa yang tadi berbicara dalam shalat?’.
Tidak seorang pun menjawab. Beliau ulangi untuk ketiga kalinya: ‘Siapa yang tadi berbicara dalam shalat?’
Maka Rifa‘ah bin Rafi‘ bin ‘Afra berkata: ‘Saya, wahai Rasulullah.’
Beliau bertanya: ‘Bagaimana yang engkau ucapkan?’
Ia menjawab: ‘Saya berkata: Segala puji bagi Allah, dengan pujian yang banyak, baik, penuh berkah di dalamnya dan penuh berkah atasnya, sebagaimana yang dicintai dan diridai oleh Rabb kami.’
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh ada lebih dari tiga puluh malaikat yang berebut untuk membawa (ucapan itu) naik (kepada Allah).’” (HR At Tirmidzi 404)
Berdasarkan hadis ini para ulama berpendapat bahwa bertahmid ketika bersin dalam sholat adalah hal yang dianjurkan. Sebagaimana diungkapkan Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullahu dalam fatwanya:
نعم يشرع له أن يحمد الله؛ لأنه ثبت في الحديث الصحيح أن النبي ﷺ سمع من يحمد الله بعد عطاسه في الصلاة فلم ينكر عليه. بل قال: لقد رأيت كذا وكذا من الملائكة كلهم يبتدرونها أيهم يكتبها
[1] ولأن حمد الله من جنس ذكر الصلاة وليس بمناف لها[
“Betul dianjurkan bagi yang bersin bertahmid. Hal ini berdasarkan hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama yang menyatakan bahwa beliau tidak mengingkari seorang yang bersin kemudian bertahmid dalam sholatnya. Karena tahmid di antara zikir dalam sholat. Bahkan beliau mengatakan: Aku menyaksikan malaikat begitu banyak saling berebut siapa di antara mereka yang akan mencatatnya. Dan tahmid termasuk zikir sholat dan tidak bertentangan (menjadikan batal -pent).” (https://binbaz.org.sa/fatwas/20759/حكم-الحمد-بعد-العطاس-في-الصلاة)
Dan masih banyak hal lain yang mungkin dipahami sebagian kita termasuk di antara pembatal sholat, tetapi pada kenyataannya tidak membatalkan sholat.
Wallahu a’lam.
Ustadz Muhammad Nur Faqih, S.Ag.









