<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kajian islam - Belajar Cara Sholat Lengkap</title>
	<atom:link href="https://belajarsholat.com/tag/kajian-islam/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://belajarsholat.com</link>
	<description>Tuntunan Belajar Bacaan Shalat dan Gerakannya dari Jadwal Sholat Wajib Lima Waktu, Sholat Sunnah, Sholat Subuh, Shalat Tahajud, Sholat Dhuha</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Jun 2026 23:10:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://belajarsholat.com/wp-content/uploads/2022/01/icon-75x75.png</url>
	<title>kajian islam - Belajar Cara Sholat Lengkap</title>
	<link>https://belajarsholat.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Hukum Seputar Takbir Intiqal (Takbir Perpindahan) dalam Shalat Menurut Ulama</title>
		<link>https://belajarsholat.com/4220-hukum-seputar-takbir-intiqal-takbir-perpindahan-dalam-shalat-menurut-ulama.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Belajarsholat.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Jun 2026 22:55:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hukum Seputar Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[artikel islam]]></category>
		<category><![CDATA[dalil takbir perpindahan]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih shalat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum islam]]></category>
		<category><![CDATA[hukum meninggalkan takbir]]></category>
		<category><![CDATA[hukum shalat menurut ulama]]></category>
		<category><![CDATA[hukum takbir intiqal]]></category>
		<category><![CDATA[hukum takbir perpindahan]]></category>
		<category><![CDATA[ibnu rajab]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu fikih]]></category>
		<category><![CDATA[imam ahmad]]></category>
		<category><![CDATA[kajian fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[kajian islam]]></category>
		<category><![CDATA[mazhab hanbali]]></category>
		<category><![CDATA[pembahasan shalat]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan pendapat ulama]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah nabi dalam shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah shalat]]></category>
		<category><![CDATA[syariat islam]]></category>
		<category><![CDATA[takbir dalam shalat]]></category>
		<category><![CDATA[takbir intiqal]]></category>
		<category><![CDATA[takbir ketika rukuk dan sujud]]></category>
		<category><![CDATA[takbir perpindahan]]></category>
		<category><![CDATA[takbir perpindahan shalat]]></category>
		<category><![CDATA[takbir rukuk]]></category>
		<category><![CDATA[takbir sujud]]></category>
		<category><![CDATA[takbiratul ihram]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara shalat sesuai sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[tuntunan shalat]]></category>
		<category><![CDATA[wajib shalat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=4220</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hukum Seputar Takbir Intiqal &#8211; Takbir Perpindahan Takbir Intiqal atau perpindahan adalah takbir yang diucapkan oleh orang yang shalat ketika berpindah dari satu rukun ke rukun yang lain, seperti takbir ketika berpindah dari berdiri menuju rukuk. Bisa juga berpindah dari suatu kewajiban (wajib) ke rukun, seperti takbir ketika bangkit dari duduk tasyahud awal menuju rakaat [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/4220-hukum-seputar-takbir-intiqal-takbir-perpindahan-dalam-shalat-menurut-ulama.html">Hukum Seputar Takbir Intiqal (Takbir Perpindahan) dalam Shalat Menurut Ulama</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Hukum Seputar Takbir Intiqal &#8211; Takbir Perpindahan</strong></h2>
<p>Takbir Intiqal atau perpindahan adalah takbir yang diucapkan oleh orang yang shalat ketika berpindah dari satu rukun ke rukun yang lain, seperti takbir ketika berpindah dari berdiri menuju rukuk. Bisa juga berpindah dari suatu kewajiban (wajib) ke rukun, seperti takbir ketika bangkit dari duduk tasyahud awal menuju rakaat ketiga, karena duduk tasyahud awal termasuk wajib, sehingga ia berpindah dari wajib ke rukun. Atau berpindah dari rukun ke wajib, seperti takbir setelah sujud kedua pada rakaat kedua dalam shalat Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya menuju duduk tasyahud awal, karena ia berpindah dari rukun yaitu sujud menuju wajib yaitu duduk tasyahud awal.</p>
<p>Takbir ini ditetapkan berdasarkan praktik Nabi ﷺ, yaitu mengucapkan “Allahu Akbar” pada setiap turun dan bangkit dalam shalat. Hal ini merupakan perkara yang disepakati para ulama, kecuali ketika bangkit dari rukuk, maka yang diucapkan adalah:</p>
<p><strong><em>“Sami‘allahu liman hamidah”</em></strong><br />
(Allah mendengar orang yang memuji-Nya).</p>
<h3><strong>Kapan Mengucapkan Takbir Intiqal?</strong></h3>
<p>Tempat mengucapkan takbir perpindahan haruslah ketika sedang berpindah antara dua rukun. Artinya, tidak boleh memulai takbir sebelum mulai berpindah menuju rukun berikutnya, dan tidak boleh pula menundanya hingga telah sampai pada rukun berikutnya.</p>
<p>Dengan kata lain, takbir harus berada di antara permulaan perpindahan dan selesainya perpindahan. Jika seseorang mulai bertakbir sebelum bergerak turun, atau menyempurnakan takbir setelah sampai pada rukuk, maka takbir tersebut tidak mencukupi. Sebab tempat takbir ini adalah di antara dua rukun. Jika dimasukkan ke dalam rukun pertama maka tidak sah, dan jika dimasukkan ke dalam rukun kedua juga tidak sah, karena tempat tersebut bukan tempat yang disyariatkan untuk dzikir ini.</p>
<h3><strong>Perbedaan Pendapat Ulama tentang Takbir-Takbir Perpindahan</strong></h3>
<p>Para ulama berbeda pendapat tentang hukum takbir-takbir perpindahan dalam shalat menjadi beberapa pendapat:</p>
<h4><strong>Pendapat Pertama</strong></h4>
<p><strong>Tidak disyariatkan dalam shalat selain takbiratul ihram.</strong></p>
<p>Pendapat ini disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam Syarh Al-Muhadzdzab dari sekelompok ulama dari kalangan sahabat dan tabi&#8217;in. Seandainya penisbatan pendapat ini kepada mereka benar, maka pendapat tersebut tidak perlu diperhatikan karena bertentangan dengan sunnah yang shahih dan jelas.</p>
<p>Mereka berdalil dengan hadis Abdurrahman bin Abza radhiyallahu &#8216;anhu:</p>
<p class="arab">صلى مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فكان لا يتم التكبير</p>
<p><em>&#8220;Ia shalat bersama Rasulullah ﷺ, dan beliau tidak menyempurnakan takbir.&#8221;</em></p>
<p>Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Al-Baihaqi dan lainnya dengan lafaz tersebut.</p>
<p>Dalam riwayat Imam Ahmad dalam Musnad-nya terdapat tambahan:</p>
<p class="arab">لا يتم التكبير يعني إذا خفض وإذا رفع</p>
<p><em>&#8220;Beliau tidak menyempurnakan takbir, yaitu ketika turun dan ketika bangkit.&#8221;</em></p>
<p>Namun hadis ini dhaif karena perawinya, yaitu Al-Hasan bin Imran, tidak dikenal (majhul).</p>
<h4><strong>Pendapat Kedua</strong></h4>
<p><strong>Hukumnya sunnah (mustahab). Shalat tidak batal dengan meninggalkannya, baik sengaja maupun karena lupa.</strong></p>
<p>Ini adalah pendapat <strong>mayoritas ulama</strong> dari kalangan Syafi&#8217;iyyah, Malikiyyah, dan Hanafiyyah.</p>
<p>Ibnu Al-Mundzir berkata:</p>
<p class="arab">وبهذا قال أبو بكر الصديق وعمر وابن مسعود وابن عمر وابن جابر وقيس بن عباد وشعيب والأوزاعي وسعيد بن عبدالعزيز وعوام أهل العلم</p>
<p>&#8220;Pendapat ini juga dipegang oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar, Ibnu Mas&#8217;ud, Ibnu Umar, Ibnu Jabir, Qais bin &#8216;Abbad, Syu&#8217;aib, Al-Auza&#8217;i, Sa&#8217;id bin Abdul Aziz, dan mayoritas ahli ilmu.&#8221;</p>
<p>Mereka berdalil bahwa Nabi ﷺ ketika mengajarkan shalat kepada orang yang buruk shalatnya (al-musi&#8217;u fi shalatihi), beliau hanya memerintahkannya dengan takbiratul ihram.</p>
<p>Imam An-Nawawi berkata:</p>
<p class="arab">وأما فعله صلى الله عليه وسلم فمحمول على الاستحباب جمعا بين الأدلة</p>
<p>&#8220;Adapun praktik Nabi ﷺ maka dibawa kepada hukum sunnah (anjuran) sebagai bentuk penggabungan antara dalil-dalil yang ada.&#8221;</p>
<p>Mereka juga menafsirkan hadis Abdurrahman bin Abza yang telah disebutkan sebelumnya bahwa Nabi ﷺ melakukannya untuk menjelaskan bolehnya meninggalkan takbir tersebut.</p>
<h4><strong>Pendapat Ketiga</strong></h4>
<p><strong>Hukumnya wajib</strong>, namun shalat tidak batal jika ditinggalkan karena lupa, sedangkan batal jika ditinggalkan dengan sengaja.</p>
<p>Ini adalah pendapat Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahuyah.</p>
<h4><strong>Pendapat Keempat</strong></h4>
<p><strong>Takbir Intiqal wajib dan termasuk fardhu shalat,</strong> sehingga shalat batal jika ditinggalkan baik sengaja maupun karena lupa.</p>
<p>Ini adalah salah satu riwayat dari Imam Ahmad dan merupakan pendapat Ibnu Hazm.</p>
<p>Ibnu Rajab rahimahullah berkata:</p>
<p class="arab">وأكثر الفقهاء على أن التكبير في الصلاة -غير تكبيرة الإحرام- سنة , لا تبطل الصلاة بتركه عمدا ولا سهوا</p>
<p>&#8220;Mayoritas fuqaha berpendapat bahwa takbir dalam shalat selain takbiratul ihram hukumnya sunnah, dan shalat tidak batal dengan meninggalkannya baik sengaja maupun karena lupa.&#8221;</p>
<p>Beliau juga berkata:</p>
<p class="arab">وذهب أحمد واسحاق إلى أن من ترك تكبيرة من تكبيرات الصلاة عمدا فعليه الاعادة , وإن كان سهوا فلا إعادة عليه في غير تكبيرة الاحرام</p>
<p>&#8220;Ahmad dan Ishaq berpendapat bahwa siapa yang meninggalkan satu takbir dari takbir-takbir shalat dengan sengaja maka ia wajib mengulangi shalatnya. Namun jika karena lupa, maka tidak wajib mengulanginya, selain pada takbiratul ihram.&#8221;</p>
<p>Para ulama Hanabilah menamai takbir-takbir setelah takbiratul ihram sebagai wajib, karena menurut mereka shalat batal apabila ditinggalkan dengan sengaja.</p>
<p>Diriwayatkan pula dari Imam Ahmad bahwa takbir-takbir tersebut termasuk fardhu-fardhu shalat yang tidak gugur baik karena sengaja maupun lupa.</p>
<p>Ada pula riwayat lain dari beliau bahwa takbir-takbir itu wajib bagi selain makmum, sedangkan bagi makmum gugur apabila terlupa.</p>
<p>Diriwayatkan dari Ibnu Sirin dan Hammad bahwa seseorang yang mendapatkan imam sedang rukuk, lalu hanya bertakbir sekali untuk takbiratul ihram, maka itu tidak mencukupinya sampai ia juga bertakbir untuk rukuk.</p>
<p>Ibnul Qasim, murid Imam Malik, berkata:</p>
<p class="arab">من أسقط من التكبير في الصلاة ثلاث تكبيرات فما فوقها سجد للسهو قبل السلام , فإن لم يسجد بطلت صلاته</p>
<p>&#8220;Barang siapa meninggalkan tiga takbir atau lebih dalam shalat, maka ia harus sujud sahwi sebelum salam. Jika tidak sujud sahwi maka shalatnya batal.&#8221;</p>
<p>Beliau melanjutkan:</p>
<p class="arab">وإن نسي تكبيرة واحدة أو اثنتين سجد للسهو -أيضا- , فإن لم يفعل فلا شيء عليه</p>
<p>&#8220;Jika ia lupa satu atau dua takbir, maka ia juga melakukan sujud sahwi. Jika tidak melakukannya maka tidak ada konsekuensi apa pun baginya.&#8221;</p>
<p>Ibnu Abdil Barr berkata:</p>
<p class="arab">هذا يدل على أن عظم التكبير وجملته عنده فرض , وأن اليسير منه متجاوز عنه</p>
<p>&#8220;Ini menunjukkan bahwa menurut beliau keseluruhan takbir memiliki kedudukan wajib, sedangkan yang sedikit darinya masih dimaafkan.&#8221;</p>
<p>Dalil Ulama yang Mewajibkan Takbir-Takbir Perpindahan</p>
<p>Ibnu Rajab berkata:</p>
<p class="arab">واستدل من أوجب ذلك بأمر النبي فإنه قال : صلوا كما رأيتموني أصلي</p>
<p>&#8220;Orang-orang yang mewajibkan hal tersebut berdalil dengan perintah Nabi ﷺ:&#8221;</p>
<p class="arab">صلوا كما رأيتموني أصلي</p>
<p>&#8220;Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.&#8221;</p>
<p>Karena Nabi ﷺ senantiasa shalat dengan takbir-takbir tersebut.</p>
<p>Beliau juga bersabda:</p>
<p class="arab">إذا كبر فكبروا</p>
<p>&#8220;Apabila imam bertakbir maka bertakbirlah kalian.&#8221;</p>
<p>Hadis ini mencakup seluruh takbir dalam shalat.</p>
<p>Dalam hadis Abu Musa radhiyallahu &#8216;anhu disebutkan:</p>
<p class="arab">فإذا كبر الإمام وركع فاركعوا</p>
<p>&#8220;Apabila imam bertakbir dan rukuk maka rukuklah kalian.&#8221;</p>
<p>Demikian pula pada sujud. Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim.</p>
<p>Mereka juga berdalil dengan sabda Nabi ﷺ:</p>
<p class="arab">إنما هي التسبيح والتكبير وقراءة القرآن</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya shalat itu hanyalah tasbih, takbir, dan bacaan Al-Qur&#8217;an.&#8221;</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa shalat tidak terlepas dari takbir sebagaimana tidak terlepas dari bacaan Al-Qur&#8217;an dan tasbih.</p>
<p>Selain itu diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan kepada orang yang salah dalam shalatnya takbir ketika rukuk dan sujud, dari hadis Rifa&#8217;ah bin Rafi&#8217;, serta menjelaskan kepadanya bahwa shalatnya tidak sempurna tanpa hal tersebut.</p>
<p>Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya.</p>
<p>Dalil Imam Ahmad bahwa Takbir Gugur Karena Lupa</p>
<p>Ibnu Rajab rahimahullah berkata:</p>
<p class="arab">واستدل الإمام أحمد لسقوطه بالسهو بأن النبي صلى الله عليه وسلم نسي التشهد الأول , فأتم صلاته , وسجد للسهو</p>
<p>&#8220;Imam Ahmad berdalil bahwa kewajiban takbir gugur karena lupa, karena Nabi ﷺ pernah lupa tasyahud awal, lalu beliau menyempurnakan shalatnya dan melakukan sujud sahwi.&#8221;</p>
<p>Padahal dengan meninggalkan tasyahud awal tersebut, beliau juga <a href="https://belajarsholat.com/" target="_blank" rel="noopener">meninggalkan takbir</a> untuk duduk tasyahud.</p>
<p>Maka hal ini menunjukkan bahwa takbir tersebut gugur karena lupa dan dapat ditutupi dengan sujud sahwi.</p>
<p>Beliau juga berdalil dengan hadis:</p>
<p class="arab">كان لا يتم التكبير</p>
<p>&#8220;Beliau tidak menyempurnakan takbir.&#8221;</p>
<p>Seakan-akan Imam Ahmad memahami hadis tersebut pada keadaan lupa.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<ol>
<li><a href="https://www.islamweb.net/ar/fatwa/144847" target="_blank" rel="nofollow noopener">Islamweb</a></li>
<li><a href="https://www.alukah.net/sharia/0/180417/%d9%85%d8%ae%d8%aa%d8%b5%d8%b1-%d9%88%d8%a7%d8%ac%d8%a8%d8%a7%d8%aa-%d9%88%d8%b3%d9%86%d9%86-%d8%a7%d9%84%d8%b5%d9%84%d8%a7%d8%a9/" target="_blank" rel="noopener">Alukah</a></li>
</ol>The post <a href="https://belajarsholat.com/4220-hukum-seputar-takbir-intiqal-takbir-perpindahan-dalam-shalat-menurut-ulama.html">Hukum Seputar Takbir Intiqal (Takbir Perpindahan) dalam Shalat Menurut Ulama</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hikmah Membaca Istighfar Setelah Sholat</title>
		<link>https://belajarsholat.com/4152-hikmah-membaca-istighfar-setelah-sholat.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Belajarsholat.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Feb 2026 03:23:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Doa & Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[ampunan Allah]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir harian]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir setelah sholat]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah istighfar]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah sholat]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[istighfar setelah sholat]]></category>
		<category><![CDATA[kajian islam]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan istighfar]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah nabi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=4152</guid>

					<description><![CDATA[<p>Membaca Istighfar Setelah Sholat Tanya: Ustadz, mengapa setelah sholat kita dianjurkan membaca istighfar? Dan apakah boleh membaca Alhamdulillah sebagai bentuk syukur karena telah menunaikan sholat? Jawab: Dalam beribadah, tentu setiap muslim ingin meraih amalan yang terbaik dan paling sempurna. Cara mencapainya adalah dengan berusaha semaksimal mungkin meneladani apa yang diajarkan oleh Nabi ﷺ. Termasuk dalam [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/4152-hikmah-membaca-istighfar-setelah-sholat.html">Hikmah Membaca Istighfar Setelah Sholat</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Membaca Istighfar Setelah Sholat</strong></h2>
<p><strong>Tanya:</strong><br />
<em>Ustadz, mengapa setelah sholat kita dianjurkan membaca istighfar?</em><br />
<em>Dan apakah boleh membaca Alhamdulillah sebagai bentuk syukur karena telah menunaikan sholat?</em></p>
<p><strong>Jawab:</strong><br />
Dalam beribadah, tentu setiap muslim ingin meraih amalan yang terbaik dan paling sempurna. Cara mencapainya adalah dengan berusaha semaksimal mungkin meneladani apa yang diajarkan oleh Nabi ﷺ.</p>
<p>Termasuk dalam hal dzikir setelah sholat. Nabi ﷺ telah mengajarkan tata caranya, dan di antara sunnahnya adalah membaca istighfar terlebih dahulu.</p>
<p>Sebagaimana hadis dari Tsauban radhiallahu ‘anhu:</p>
<p class="arab">كانَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ، إذَا انْصَرَفَ مِن صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقالَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ. قالَ الوَلِيدُ: فَقُلتُ لِلأَوْزَاعِيِّ: كيفَ الاسْتِغْفَارُ؟ قالَ: تَقُولُ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ</p>
<p>“Rasulullah ﷺ apabila selesai dari sholatnya, beliau beristighfar sebanyak tiga kali, lalu membaca: ‘Allahumma antas-salaam wa minkas-salaam, tabaarakta dzal jalaali wal ikraam.’<br />
Al-Walid berkata: Aku bertanya kepada Al-Auza’i, ‘Bagaimana lafaz istighfar itu?’ Ia menjawab, ‘Ucapkan: Astaghfirullah, astaghfirullah.’” (HR. Muslim)</p>
<h3><strong>Apakah Boleh Langsung Membaca Alhamdulillah?</strong></h3>
<p>Secara logika, alasan bersyukur setelah sholat memang bisa diterima. Namun, ada alasan yang lebih kuat secara syariat, yaitu:</p>
<p>Dalam sholat, hampir tidak ada seorang pun yang terbebas dari kekurangan dan gangguan kekhusyukan. Karena itu, setelah sholat kita memohon ampun kepada Allah ﷻ atas kekurangan tersebut, agar sholat kita diterima.</p>
<p>Selain itu, dzikir pertama yang diajarkan Nabi ﷺ setelah salam adalah istighfar, bukan yang lainnya.</p>
<h3><strong>Hikmah Membaca Istighfar Setelah Sholat</strong></h3>
<p>Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya,</p>
<p class="arab">ما الحكمة من الاستغفار بعد الصلاة؟<br />
الإجابة: الحكمة من الاستغفار بعد الصلاة، أن الإنسان لا يخلو من تقصير في صلاته؛ فلهذا شُرِع له أن يستغفر ثلاثاً ثم يقول:<br />
اللهم أنت السلام، ومنك السلام، تباركت يا ذا الجلال والإكرام،<br />
ثم يأتي بالأذكار الواردة عن النبي ﷺ.</p>
<p><strong>“Apa hikmah istighfar setelah sholat?</strong><br />
<em>Jawabannya, karena seorang manusia tidak mungkin terbebas dari kekurangan dalam sholatnya. Oleh sebab itu, disyariatkan baginya untuk beristighfar tiga kali, kemudian membaca: ‘Allahumma antas-salaam wa minkas-salaam, tabaarakta ya dzal jalaali wal ikraam,’ lalu melanjutkan dzikir-dzikir yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ.” </em>(Majmū‘ Fatāwā wa Rasā’il Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin)</p>
<p>Syaih As-Sa‘di rahimahullah saat menjelaskan firma Allah ﷻ</p>
<p class="arab">ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ</p>
<p><em>Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (&#8216;Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang</em>.(QS. Al-Baqarah: 199)<br />
Beliau menjelaskan:</p>
<p><em>“Istighfar dilakukan untuk menutup kekurangan yang terjadi pada diri seorang hamba dalam pelaksanaan ibadahnya dan kelalaiannya di dalamnya. Sedangkan dzikir kepada Allah merupakan bentuk syukur kepada-Nya atas nikmat taufik yang diberikan untuk melaksanakan ibadah yang agung ini. Demikianlah seharusnya sikap seorang hamba: setiap selesai dari ibadah, ia beristighfar atas kekurangannya dan bersyukur atas taufik Allah.</em></p>
<p><em>Bukan seperti orang yang merasa telah menyempurnakan ibadahnya dan seakan-akan berjasa kepada Rabb-nya. Orang seperti ini justru layak mendapatkan murka dan tertolaknya amal.</em></p>
<p><em>Adapun yang pertama, dialah yang lebih layak mendapatkan penerimaan amal dan taufik untuk amal-amal selanjutnya.”</em></p>
<p>Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmū‘ Fatāwā, beliau berkata:</p>
<p><em>“Istighfar mengantarkan seorang hamba dari perbuatan yang dibenci menuju perbuatan yang dicintai, dari amal yang kurang menuju amal yang sempurna. Istighfar juga mengangkat seorang hamba dari kedudukan yang rendah menuju kedudukan yang lebih tinggi dan lebih sempurna.</em></p>
<p><em>Seorang hamba yang beribadah dan mengenal Allah, setiap hari bahkan setiap saat akan bertambah ilmunya tentang Allah, pemahamannya terhadap agama, dan penghambaan kepada-Nya. Ia akan merasakan kekurangannya dalam menghadirkan hati pada maqam-maqam ibadah yang tinggi.</em></p>
<p><em>Oleh sebab itu, ia sangat membutuhkan istighfar siang dan malam, dalam setiap keadaan dan ucapan, karena di dalamnya terdapat berbagai maslahat, mendatangkan kebaikan, menolak keburukan, serta menambah kekuatan iman dan amal.”</em></p>
<h3><strong>Sunnahnya Membaca Istighfar</strong></h3>
<p>Tidak sepantasnya seorang hamba bersandar pada ketaatannya. Bahkan, hendaknya ia meyakini bahwa dalam ketaatannya terdapat kekurangan, dan bahwa ia belum menunaikannya dengan sebenar-benar pelaksanaan. Karena itu, ia hendaknya bersungguh-sungguh dalam beristighfar agar dapat menutupi kekurangannya.</p>
<p>Dalam hadis Tsauban radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah ﷺ apabila selesai dari sholatnya—yaitu setelah salam—beliau beristighfar sebanyak tiga kali, sebagai bentuk tawadhu‘ dan penampakan penghambaan kepada Allah, meskipun dosa-dosa beliau telah diampuni, sekaligus sebagai pengajaran bagi umatnya.</p>
<p>Di dalamnya juga terdapat isyarat bahwa manusia tidak luput dari lintasan pikiran dan bisikan-bisikan yang mengganggu, sehingga seorang hamba tidak mampu melaksanakan ibadah dengan cara yang paling sempurna. Oleh karena itu, disyariatkan baginya <a href="https://belajarsholat.com/" target="_blank" rel="noopener"><strong>istighfar</strong></a> sebagai penyempurna ibadah dan sebagai bentuk pemenuhan hak penghambaan.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lam.</em></p>The post <a href="https://belajarsholat.com/4152-hikmah-membaca-istighfar-setelah-sholat.html">Hikmah Membaca Istighfar Setelah Sholat</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Shalat Tapi Tidak Ada Pengaruhnya Di Hati?</title>
		<link>https://belajarsholat.com/4139-shalat-tapi-tidak-ada-pengaruhnya-di-hati.html</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Belajarsholat.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Jan 2026 10:45:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[belajar shalat]]></category>
		<category><![CDATA[hati keras]]></category>
		<category><![CDATA[kajian islam]]></category>
		<category><![CDATA[khusyuk]]></category>
		<category><![CDATA[khusyuk dalam shalat]]></category>
		<category><![CDATA[memperbaiki shalat]]></category>
		<category><![CDATA[nasihat islam]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit hati dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab shalat tidak membekas]]></category>
		<category><![CDATA[roon dalam hati]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat tidak berpengaruh di hati]]></category>
		<category><![CDATA[shalat tidak khusyuk]]></category>
		<category><![CDATA[tazkiyatun nafs]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://belajarsholat.com/?p=4139</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ustadz, saya shalat… tapi tidak membekas di hati.🤍 Jawab: Apa yang kita lakukan sehari-hari sangat berpengaruh pada batin. Ketika mata lebih sering menikmati aurat dan kemaksiatan, ia mengirimkan sinyal kegelapan ke dalam hati. Itulah yang disebut rān (رَانَ) — noda hitam yang menutupi hati. كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ Sekali-kali [&#8230;]</p>
The post <a href="https://belajarsholat.com/4139-shalat-tapi-tidak-ada-pengaruhnya-di-hati.html">Shalat Tapi Tidak Ada Pengaruhnya Di Hati?</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ustadz, saya shalat… tapi tidak membekas di hati.🤍</strong></p>
<p>Jawab:</p>
<p>Apa yang kita lakukan sehari-hari sangat berpengaruh pada batin. Ketika mata lebih sering menikmati aurat dan kemaksiatan, ia mengirimkan sinyal kegelapan ke dalam hati. Itulah yang disebut rān (رَانَ) — noda hitam yang menutupi hati.</p>
<p class="arab">كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ</p>
<p><em>Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.</em> (QS. Al-Muthaffifin:14)</p>
<p>Agar ibadah terasa nikmat, rān yang menempel di hati harus segera dibersihkan dan dijaga agar tidak kembali.</p>
<p>Di antara hikmah Allah memberikan ujian kepada hamba-Nya adalah untuk membongkar rān tersebut: dengan taubat, istighfar, dan rasa bersalah di hadapan Allah.</p>
<p>Hingga akhirnya, puncaknya adalah air mata yang jatuh dalam sujud penuh ketundukan.</p>The post <a href="https://belajarsholat.com/4139-shalat-tapi-tidak-ada-pengaruhnya-di-hati.html">Shalat Tapi Tidak Ada Pengaruhnya Di Hati?</a> appeared first on <a href="https://belajarsholat.com">Belajar Cara Sholat Lengkap</a>.]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
